Mason Mount, Gelandang Pekerja Keras yang Kurang Diapresiasi

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mason Mount, Gelandang Pekerja Keras yang Kurang Diapresiasi

Jack Grealish tampil bersinar saat Inggris menekuk Wales dalam partai persahabatan, 9 Oktober 2020. Kapten Aston Villa itu mencetak satu asis dan tampil sebagai man of the match dalam laga yang dimenangi Inggris 3-0 tersebut. Penampilan apik Grealish membuatnya difavoritkan mengisi sebelas terbaik kala The Three Lions menjamu Belgia di ajang UEFA Nations League dua hari setelahnya.

Namun, Gareth Southgate rupanya punya ide berlainan. Pelatih berusia 50 tahun itu pilih menurunkan Mason Mount dalam formasi 3-4-2-1. Bersama Marcus Rashford, Mount ditugaskan menyokong Harry Kane sebagai penyerang utama.

Pilihan Southgate banjir kritikan, terutama dari fans Aston Villa. Southgate dipandang memilih Mount bukan atas alasan performa atau taktikal, melainkan karena favoritisme. Isu favoritisme Mount pun kembali bergulir.

Sejak dipromosikan ke skuad utama Chelsea, kiprah Pemain Terbaik Euro U-19 2017 tersebut memang diliputi isu favoritisme. Di lini tengah The Blues, ia adalah “anak emas” Frank Lampard. Di Timnas Inggris pun ia bermain secara reguler, sejauh ini telah mendapatkan 11 caps.



Akan tetapi, benarkah Mount mendapat menit bermain lebih hanya karena disukai manajer? Kala menghadapi Belgia, setidaknya, gelandang berusia 21 tahun ini langsung mematahkan anggapan tersebut. Mount mencetak gol kemenangan Inggris ke gawang Belgia, sekaligus menghidupkan persaingan ke putaran final di Grup 2 Liga A UEFA Nations League.

Menanggapi kritik yang ditujukan kepada Mount, Southgate menegaskan bahwa lulusan akademi Chelsea itu sekadar “kurang diapresiasi”. Menurutnya, Mount memiliki semua atribut yang dibutuhkan serta mau bekerja keras untuk kemenangan tim.

“Saya membaca banyak hal tentang Mason dan saya pikir dia seorang pemain yang sangat kurang diapresiasi—tetapi tidak oleh kami,” ujar Southgate usai mengalahkan Belgia.

Declan Rice, teman dengan Mount sejak kanak-kanak di akademi Chelsea, turut membela gelandang bernomor punggung 19 itu.

“Saya pikir jika Anda memberi setiap manajer Premier League kesempatan untuk memilihnya, mereka akan memilihnya juga, karena jika Anda mengenalnya dalam keseharian—apa yang diberikannya untuk tim sebagai individu, [Anda akan beranggapan] bahwa dia talenta papan atas. Jadi saya pikir kritik [untuk Mount] sangatlah kasar,” kata Rice.

Mount memang bukan pemain yang menjanjikan banyak klip video penuh gaya. Dibanding Grealish, jika diukur melalui gol/asis, perannya juga tak begitu siginifikan di level klub. Grealish telah mencetak empat gol dan enam asis dari tujuh pertandingan untuk membawa The Villans mengawali musim dengan impresif. Sedangkan Mount “hanya” mencetak satu gol dan dua asis dari tujuh pertandingan bersama Chelsea.

Meskipun demikian, jika meninjau aspek yang lebih subtil dari pertandingan, peran signifikan Mount segera terlihat. Di Premier League, Mount adalah pemain kreatif dengan kontribusi defensif yang sama baiknya. Ia telah terlibat dalam 18 aksi berujung tembakan, ketiga terbanyak di skuad Chelsea. Mount juga menjadi pemain yang paling rajin melakukan tekel (20) dan melakukan pressing (139), hanya diungguli N’Golo Kante (25 tekel, 155 pressing).

Selain itu, Mount menunjukkan etos kerja dan keinginan belajar yang membuat Lampard maupun Southgate terkesan. Sebagaimana diwartakan The Athletic, ketika Chelsea mengadakan tes fisik, Mount selalu berada di daftar teratas pemain paling fit bersama Kante.

“Salah satu alasan Lampard menyukai Mount adalah caranya berlatih setiap hari, seakan-akan itu adalah hari terakhirnya. Dia punya ambisi untuk menjadi salah satu yang terbaik. Ketika klub belanja besar-besaran di bursa transfer, dia bereaksi secara positif dan membuat situasinya jelas bahwa dia ingin berjuang untuk mempertahankan tempatnya,” kata salah seorang staf Chelsea kepada The Athletic.

Kemampuan dan mentalitas Mount adalah dua faktor utama mengapa manajer “memfavoritkannya”. Tak heran Lampard memberinya menit bermain terbanyak keenam di Chelsea musim ini. Menit bermain Mount (540 menit) hanya diungguli Reece James, Kai Havertz, Kurt Zouma; serta Timo Werner dan N’Golo Kante yang tampil satu pertandingan lebih banyak.

Sementara di Timnas Inggris, kontribusi pertahanan sekaligus kreativitas Mount berperan penting dalam lini tengah stabil yang diandaikan Southgate. Saat melawat ke Belgia, 16 November nanti, Southgate diprediksi kembali memasang Mount bersama Declan Rice dan Jordan Henderson. Tiga pemain ini dapat diandalkan Southgate sebagai trisula yang menahan agresivitas para pemain Belgia.

Komentar