Dua Sisi Derbi Merseyside, Dua Warna Kota Liverpool

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Dua Sisi Derbi Merseyside, Dua Warna Kota Liverpool

Jauh sebelum terlibat rivalitas kontra Manchester United dan tentu saja Manchester City, Liverpool telah menjalani hubungan kompetitif yang tegang dengan tetangganya, Everton. Sejarah rivalitas lokal yang berpuncak dalam Derbi Merseyside ini merentang panjang hingga 1890-an, saat pertama kali The Reds berdiri. Pada Sabtu (17/10/2020) besok, Everton dan Liverpool akan berhadapan dalam Derbi Merseyside edisi ke-287.

Orang yang paling bertanggung jawab atas timbulnya segregasi merah-biru di kota Liverpool adalah John Houlding. Ia adalah pendiri Liverpool sekaligus presiden pertama Everton. Houlding juga berstatus pemilik Anfield Road, kandang pertama The Toffees.

Mulanya, Houlding memiliki hubungan baik dengan jajaran petinggi Everton. Ia bahkan berperan besar dalam transformasi Everton dari klub amatir hingga juara liga. Namun, hubungan Houlding dengan petinggi The Toffees memburuk jelang warsa 1890-an.

Memburuknya hubungan ini disebabkan sejumlah perkara, mulai urusan bisnis hingga politik. Houlding disebut menaikkan sewa Anfield Road ke Everton yang membuat petinggi The Toffees tak terima. Selain itu, Houlding juga merupakan anggota Partai Konservatif, berbeda dengan kebanyakan petinggi Everton yang bergabung dengan Partai Liberal. Konflik kepentingan antara bisnis bir Houlding dan aktivisme petinggi Everton dalam gerakan anti-minuman keras juga dituding jadi salah satu sebab.

Pada 1892, Everton meninggalkan Houlding dan pindah markas ke Goodison Park, berjarak 1,4 km dari Anfield dan hanya dipisahkan Stanley Park. Houlding pun merespons dengan langkah berani: mendirikan klub sendiri, Liverpool FC.

Link streaming Everton vs Liverpool

Kedua tim pertama bertemu pada 13 Oktober 1894, 16 tahun setelah Everton berdiri dan hanya dua tahun selang Liverpool dibentuk. Everton yang lebih tua memenangi laga itu dengan skor 3-0.

Sejak laga itu, Everton dan Liverpool semakin menarik atensi penduduk setempat. Persaingan keduanya memberi dua identitas berseberangan bagi warga Liverpool, sebagai Evertonian atau Kopites.

Sebagaimana derbi, Everton vs Liverpool selalu dinantikan penduduk lokal dan berjalan sengit. Warga setempat, meskipun tetangga atau keluarga sendiri, saling berdebat dan mengumpati klub lawan. Masing-masing tim menyadari bahwa partai ini memiliki nilai lebih dibanding pertandingan lain.

“Saya pikir ini salah satu [pertandingan] terbesar selain bermain untuk negara Anda di Piala Dunia. Derbi ini magis. Selama 90 menit, seluruh Liverpool berhenti dan Anda mendapati seantero dunia sedang menonton,” ucap legenda Everton, Tim Cahill.

“Saya ingin memenangi derbi dibanding pertandingan lain karena saya takut atas konsekuensi kekalahan. Anda merasa sangat lega ketika Anda berhasil karena Anda tahu betapa mengerikan rasanya mendapat hasil yang keliru,” imbuh ikon klub rival, Jamie Carragher.

Everton memiliki segala alasan untuk membenci Liverpool. The Reds berani melangkahi saudara tuanya untuk mengukir sejarah yang lebih sukses. Sejak 1960-an, diawali Bill Shankly, Liverpool mulai mengkudeta Everton sebagai klub terbaik Merseyside.

Alasan lain untuk membenci The Reds adalah Tragedi Heysel 1985. Ulah hooligan Liverpool dalam tragedi itu membuat klub Inggris dilarang tampil di kompetisi UEFA. Hal tersebut membuat Everton yang memiliki salah satu generasi terbaik gagal unjuk gigi di Eropa.

Pertandingan Everton vs Liverpool sendiri seringkali diwarnai aksi pemain yang kelewat batas. Sejak era Premier League, Derbi Merseyside menjadi pertandingan dengan jumlah kartu merah terbanyak (21). Legenda Liverpool, Steven Gerrard serta ikon Everton, Phil Neville memimpin rekor kotor ini dengan dua kartu merah.

Akan tetapi, walau sering berjalan ribut dan kasar, Derbi Merseyside juga menampilkan wajah lain yang penuh solidaritas dan kasih sayang. Partai ini bahkan sampai dijuluki the friendly derby.

Everton vs Liverpool adalah satu dari sedikit derbi yang tidak memerlukan pemisahan suporter di dalam stadion. Di Anfield maupun Goodison Park, warna merah biasa tampil dalam lautan biru, juga sebaliknya. Suporter kedua tim seringkali memiliki hubungan kekerabatan atau mengenal satu sama lain.

Solidaritas juga tampak setelah Tragedi Hillsborough 1989. Dua kelompok suporter berdiri bersama selama masa sulit ini. Bahkan, fans Everton turut memboikot The Sun, koran Inggris yang memojokkan suporter Liverpool dengan berita palsu.

Pada Agustus 2012, saat menjamu Newcastle United, Everton menunjukkan dukungan atas korban Tragedi Hillsborough. Dua anak kecil yang mengenakan seragam Everton dan Liverpool dengan nomor punggung sembilan dan enam—jumlah korban Hillsborough—bergandengan tangan memimpin para pemain yang memasuki lapangan.

Di luar lapangan, para suporter memang menunjukkan solidaritas dan rasa persaudaraan. Namun, di dalam lapangan, terutama pada Sabtu (17/10) besok, dua tim sama-sama ngotot untuk mempecundangi lawan.

Sebagai tuan rumah, Everton sangat berhasrat untuk mengalahkan saudara mudanya kali ini. Suporter The Toffees amat merindukan kemenangan Derbi Merseyside. Mereka terakhir meraihnya pada 2010 lalu, saat masih dibela Mikel Arteta dan Tim Cahill.

Suporter Everton patut optimistis bersama Carlo Ancelotti di pinggir lapangan. Setelah memperoleh skuad yang sesuai kebutuhannya, Ancelotti menorehkan rekor sempurna di awal Liga Inggris 2020/21. Everton pun untuk sementara memimpin klasemen dengan 12 poin.

Di lain sisi, sang juara bertahan Liga Inggris harus bangkit usai dipermalukan Aston Villa pekan lalu. Liverpool, yang memenangi liga dengan margin 18 poin, dipermak 7-2 oleh tim yang musim lalu bersaing di papan bawah.

“Tidak ada yang dapat saya katakan untuk mengubah hasil ini, jadi mengapa saya harus marah atau semacamnya? Apakah ini hanya sekali terjadi? Saya harap demikian. Saya tidak bisa membuktikannya sekarang. Pembuktiannya dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana kami bereaksi atas ini [kalah 7-2],” kata Klopp usai timnya dihajar Villa.

Respons Liverpool usai kalah 7-2 patut disimak. Klopp tentu mendesak anak asuhnya tampil jor-joran untuk bangkit. Namun, sang rival sedang sulit dikalahkan dan dalam kepercayaan diri tinggi. Ancelotti menorehkan start terbaik Everton sejak 1894 dan berpeluang memutus rekor buruk The Toffees yang telah berjalan 10 tahun.

Tayangan langsung semua pertandingan Premier League 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya, dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar