Mimpi Buruk Panjang FC Schalke

Cerita

by Gerhan Zinadine Ahmad

Gerhan Zinadine Ahmad

1/3 dari podcast Spieltag Indonesia. Ngobrolin banyak hal seputar sepak bola Jerman dan membagikannya lewat berbagai medium.

Mimpi Buruk Panjang FC Schalke

Tampil sebagai pembuka sebuah perhelatan akbar bukanlah perkara mudah bagi semua orang. Tidak semua orang bisa menangani tekanan psikologis yang diterima. Kondisi ini lah yang mungkin dialami Schalke pada pertandingan pembuka Bundesliga musim 2020/21 kontra Bayern Muenchen, dimana mereka tampil kacau dan kalah telak delapan gol tanpa balas. Pertandingan yang ditunggu-tunggu banyak orang ini pun malah menjadi mimpi buruk bagi anak asuh David Wagner.

Bermain di Allianz Arena yang tanpa penonton, Amine Harit dkk sebenarnya tampil cukup menjanjikan di tiga menit pertama. Tapi setelah itu, Bayern dengan high press-nya tampil trengginas. Tiga dari delapan gol yang bersarang ke gawang Ralf Fahrmann dicetak oleh Serge Gnabry, sedangkan lima sisanya dicetak oleh masing-masing Lewandowski, Goretzka, Mueller, Sane, dan Jamal Musiala. Gol penutup yang dilesakkan oleh Musiala, pemain berusia 17 tahun, seolah menjadi punchline yang men-trigger kita untuk menertawai aksi komikal Schalke selama 90 menit.

Highlights pertandingan FC Bayern 8-0 Schalke 04

Kekalahan ini tentu menjadi hal yang memalukan bagi Schalke dan para fansnya. Dari segi permainan, David Wagner tampak tidak menunjukkan perubahan yang signifikan bagi timnya. Amine Harit dkk masih belum meraih kemenangan di Bundesliga sejak Januari 2020. Tim yang finish di peringkat 14 musim lalu ini hanya mampu meraih 6 hasil imbang dan 11 kekalahan .

Meski demikian, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada David Wagner. Kekalahan 8-0 ini hanyalah puncak dari gunung es bagi klub asal Gelsenkirchen tersebut. Ada masalah yang jauh lebih besar yang sedang mereka hadapi, yaitu krisis finansial.

Ya, kini Schalke sedang berada dalam krisis finansial. Seperti yang dilaporkan DW, mereka memiliki utang berkisar 200 juta euro. Terkait hal ini, Jochen Schneider selaku diretktur olahraga Schalke menegaskan bahwa timnya tidak akan menggelontorkan uang banyak dalam waktu yang belum bisa ditentukan.

Hal inilah yang membuat mengganti David Wagner dengan pelatih baru bukanlah perkara mudah. Memecat Wagner sama saja memberikan pesangon untuk pelatih yang masih terikat kontrak hingga 2022 itu, dan kemudian menggelontorkan uang lagi untuk membayar pelatih baru yang juga mungkin masih butuh adaptasi.

Krisis finansial ini diperparah setelah terjadinya pandemi Covid-19. Liga yang sempat terhenti dan penonton yang tidak diperbolehkan hadir ke stadion membuat Schalke semakin terpuruk. Lantaran Schalke adalah satu dari lima klub Bundesliga yang hanya mengandalkan operasional klub—seperti penjualan tiket, hak siar, bonus dari kompetisi Eropa dan penjualan pemain—sebagai sumber pemasukan.

Selain itu, kondisi ini juga membuat Die Knappen tidak mampu membeli pemain tanpa menjual terlebih dahulu. Hal ini bisa dilihat dari geliat transfer Schalke di musim ini. Menurut situs Transfermarkt, hingga saat ini mereka hanya mampu menghasilkan 4,5 juta euro dari biaya peminjaman Weston McKennie ke Juventus. Alexander Nubel dan Daniel Caligiuri dilepas secara gratis.

Peminjaman McKennie sendiri rasanya agak tidak masuk akal. Ketika klub sedang butuh pemasukkan, mereka malah melepas pemainnya dengan status pinjaman. Padahal di saat yang bersamaan, beberapa klub lain dikabarkan tertarik untuk membelinya. Meskipun begitu, menurut Goal.com peminjaman McKennie memiliki klausul yang mengharuskan Juventus menebus gelandang Amerika Serikat itu.

Juve wajib membayar Schalke seharga 18,5 juta euro apabila ia dimainkan sebanyak 60% jumlah pertandingan Juve musim ini. Jika dihitung dari pertandingan liga dan babak grup Liga Champions yang berjumlah 44, itu berarti ia setidaknya harus bermain sebanyak 26 kali. Entahlah apakah ia akan mampu mencapai angka itu, mengingat Juve masih punya 5 pemain lain di posisi gelandang tengah.

Sementara itu, dari uang McKennie, Schalke sudah menggunakan 2,5 juta euro untuk meminjam Goncalo Paciencia dari Eintracht Frankfurt. Sebelumnya mereka juga sudah mendatangkan striker veteran, Vedad Ibisevic secara gratis. Transfer striker 36 tahun itu bahkan lebih ekonomis lagi karena ia bersedia untuk tidak menerima gaji dan hanya dibayar dengan bonus per pertandingan.

Jika kita tarik ke beberapa tahun ke belakang, krisis yang dialami Schalke ini tidak terlepas dari buruknya keputusan yang telah diambil pihak klub dalam satu dekade terakhir. Sejak musim 2011/12, Schalke telah berganti pelatih sebanyak delapan kali dan tidak ada satu pun yang mampu bertahan selama dua musim penuh.

Bobroknya manajemen Schalke juga bisa kita lihat dari jumlah pemain bintang yang dilepas secara gratis sejak musim 2016/17. Dalam kurun waktu tersebut, Schalke sudah kehilangan Joel Matip, Sead Kolasinac, Choupo Moting, Max Meyer, Leon Goretzka dan yang terbaru Alex Nubel. Bayangkan apabila Schalke setidaknya bisa mendapatkan uang dari pemain-pemain tersebut.

Pepatah yang berbunyi “apa yang anda tabur, itu lah yang anda tuai” rasanya amat pas untuk menggambarkan kondisi Schalke saat ini, dan seharusnya bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun, terutama bagi mereka sendiri. Tapi bagaimanapun juga, musim 2020/21 baru saja dimulai dan masih ada waktu bagi pasukan The Royal Blues untuk bangun dari mimpi buruk yang panjang ini.

Live streaming seluruh pertandingan Bundesliga 2020/21

*penulis juga merupakan 1 dari 3 orang pengelola podcast @spieltagindo

Komentar