Curhat Rahmad Darmawan Tentang Kegagalan di Tahun 2018

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Curhat Rahmad Darmawan Tentang Kegagalan di Tahun 2018

Rahmad Darmawan adalah mantan pemain hebat Indonesia yang kini sukses menjalani karier sebagai pelatih. Mengantarkan Persikota Tangerang ke Divisi Utama dan sempat jadi andalan timnas saat menjadi pemain, Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC juga dibawanya juara Liga Indonesia ketika jadi pelatih. Bahkan Sriwijaya FC berhasil tiga kali beruntun menjuarai Copa Indonesia, di mana hal tersebut menjadi rekor yang belum bisa dipecahkan siapapun, klub manapun.

Tapi pada 2018 Coach RD, sapaan akrabnya, mengalami penurunan prestasi. Sangat anjlok malah. Mengawali musim dengan melatih Sriwijaya FC, pemain Timnas Indonesia era 1990-an ini hijrah ke Mitra Kutai Kartanegara pada pertengahan musim. Ironisnya kedua kesebelasan itu menempati zona degradasi pada akhir musim.

Apakah kemampuan taktis Coach RD sudah menurun? Ternyata ada faktor non-teknis yang jadi penyebab catatan merah dalam mengilapnya karier seorang Coach RD.

Saat kami temui di Mercure Hotel, Bandung, Coach RD menceritakan kembali apa yang terjadi sepanjang 2018. Dia tak mengira bahwa keputusannya kembali ke Indonesia setelah melatih kesebelasan Malaysia, T-Team, berakhir mengecewakan baginya.

Sebenarnya mantan Pelatih Persija Jakarta dan Arema Cronus ini pun sempat ragu ketika memutuskan kembali ke Indonesia untuk menangani Sriwijaya FC. Namun ketika itu manajemen Sriwijaya FC berhasil merayunya untuk kembali.

"Sebelum kembali ke Indonesia saya dipanggil oleh Datuk, di sini itu semacam Sekda Provinsi, untuk memperpanjang kontrak selama tiga tahun. Tapi ketika itu ada aturan di mana feeder club tidak boleh satu kompetisi dengan parent club. Tim saya itu tim keduanya Terengganu FA. Jadi kalaupun juara di Divisi Dua tidak akan pernah bisa masuk ke Divisi Utama selama masih ada tim utama di divisi atas. Itulah yang bikin saya ingin kembali ke Indonesia," terang Rahmad.

"Jujur ketika ditawari Sriwijaya FC saya ragu. Saya sempat tanya, `Ini ada unsur politik, gak?`. Lalu dijawab, `Oh enggak. Buktinya kami siap kontrak Pak Rahmad lebih dari satu tahun`. Kemudian benar, saya dikontrak dua tahun. Benar nih, Sriwijaya serius. Saya pun bisa kembali merasakan atmosfer seperti ketika saya menangani Sriwijaya dulu."

Di awal semua berjalan sesuai apa dengan yang diharapkan Rahmad. Sriwijaya FC pun menjalani pra-musim dengan cukup menjanjikan. "Ide-ide muncul. Hamka [Hamzah] buat lagu. Saya buat satu slogan yang menjadi viral: Sriwijaya Kito Pacak. Ada lagunya juga. Saya memang pengen tim ini [solid] seperti dulu."

"Alhamdulillaah kami menjalani pra-musim dengan baik. Piala Presiden kami peringkat tiga. Kami jadi juara di Piala Gubernur Kaltim. Saya sangat optimis tim ini mau berkembang."

Namun semuanya berubah jelang pertengahan musim. Rahmad menyebutnya "seperti petir di siang bolong". Rahmad beserta sembilan pemain Sriwijaya FC tiba-tiba mendapatkan surat pemutusan kontrak dari manajemen padahal Sriwijaya FC sedang menempati posisi tiga klasemen sementara.

Situasi ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum dan memang hampir diketahui semua publik waktu itu. Ketika itu juga muncul rumor bahwa penyebab prahara Sriwijaya ketika itu adalah akibat dari "kekalahan politik", seperti yang ditakutkan Rahmad sebelum gabung Sriwijaya FC. Namun apapun itu, kenyataan tersebut membuat pelatih kelahiran Lampung ini terpukul bahkan sampai saat ini.

"Jujur, saya sulit sekali move on dari situasi itu karena ini untuk pertama kalinya saya diberhentikan oleh klub di tengah jalan, di tengah musim kompetisi bahkan putaran satu saja belum selesai, dengan prestasi kami yang bagus. Itulah yang membuat saya betul-betul terpukul. [Karena masalah ini] di modul ketiga [AFC] Pro License yang saya ikuti waktu itu saya gak begitu fokus."

Rahmad sebenarnya sempat enggan melatih dulu karena rasa kekecewaannya yang begitu mendalam. Namun di saat bersamaan dia harus tetap melatih sebagai bagian dari kewajiban memenuhi syarat mendapatkan Lisensi Pro AFC. Karenanya tawaran Mitra Kukar yang ketika itu berusaha lolos dari jerat degradasi diterimanya.

Mitra Kukar nyatanya gagal diselamatkan oleh Rahmad. Mitra Kukar menempati posisi ke-16 di akhir musim Liga 1 2018. Sebenarnya Rahmad sempat ingin bertahan meski harus melatih di Liga 2 pada musim depan agar bisa bertanggung jawab atas kegagalannya itu. Namun manajemen Mitra Kukar tidak membicarakan kontrak baru sampai kontraknya berakhir pada Desember 2018.

Simak curhatan Coach RD secara lengkap tentang kegagalannya di tahun 2018 pada video di bawah ini:


Simak opini dan komentar Rochy Putiray terkait para pesepakbola Indonesia yang berkarier di luar negeri pada video di bawah ini:



Komentar