Mengapa Arema Terpuruk Walau Produktif?

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Mengapa Arema Terpuruk Walau Produktif?

Kiprah Arema FC di Liga 1 2018 sungguh mengkhawatirkan. Dari lima pertandingan yang dilakoni, Singo Edan belum sekali pun meraih kemenangan. Mirisnya, mereka menjadi satu-satunya kesebelasan yang belum meraih tiga poin hingga pekan ke-5 Liga 1 2018.

Akibatnya, tim asuhan Joko Susilo itu terpuruk di dasar klasemen sementara dengan raihan dua poin—hasil dari dua kali imbang dan tiga kali kalah. Ini, merupakan kiprah terburuk Arema di awal musim, setidaknya dalam lima tahun terakhir di tiga musim penyelenggaraan kompetisi.

Di Liga Super Indonesia (LSI) 2013, dari lima pertandingan pertama, Arema mampu meraih tiga kemenangan (dua lainnya kalah). Hasil tersebut membawa Singo Edan bertengger di posisi tiga klasemen sementara dengan sembilan poin.

Berlanjut ke LSI 2014. Dari lima pertandingan yang dilakoni, Arema berhasil menyapu bersih kemenangan dalam lima laga awal fase grup Wilayah Barat. Dengan raihan 15 poin, Arema pun bertengger di puncak klasemen Wilayah Barat LSI 2014.

Kemudian di Liga 1 2017, Arema setidaknya bisa meraih tiga kemenangan dari lima laga awal mereka, dengan dua laga lainnya berakhir dengan satu imbang dan satu kalah. Hasil tersebut mengantar Arema duduk di empat besar dengan raihan 10 poin.

Agak mengherankan sebenarnya melihat keterpurukan Arema di lima pertandingan awal Liga 1 2018. Performa mereka sebenarnya juga tidak jelek-jelek amat. Buktinya, dari lima pertandingan yang dilakoni, Singo Edan selalu berhasil mencetak gol.

Bahkan, rata-rata mereka mampu mencetak dua gol di setiap pertandingannya. Hanya di laga melawan Persija dan Borneo saja, Arema hanya mampu mencetak satu gol. Total Arema sudah membukukan delapan gol. Catatan tersebut membuat mereka masuk dalam jajaran kesebelasan produktif di Liga 1 2018 (terbanyak ketiga).

Sayangnya, tingkat kebobolan Arema juga sama produktifnya dengan tingkat memasukkan gol-nya. Sejauh ini, gawang Arema sudah 12 kali kebobolan. Catatan tersebut menjadikan mereka sebagai kesebelasan dengan tingkat kebobolan paling tinggi di Liga 1 2018. Melihat catatan tersebut, bisa jadi salah satu permasalahan yang membuat Arema terpuruk adalah buruknya organisasi pertahanan mereka.

Apalagi, lini pertahanan Arema juga sering lengah hingga berujung kebobolan, terutama saat laga memasuki babak kedua. Tak jarang, kelengahan tersebut pun membuyarkan keunggulan Arema, hingga kemenangan yang sudah ada di depan mata pun raib begitu saja.

Di laga perdananya menghadapi Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), Arema mampu unggul 2-0 di babak pertama melalui Balsa Bozovic dan Syaiful Indra Cahya. Tapi ketika memasuki paruh kedua, lini pertahanan Arema kedodoran di penghujung pertandingan. Akibatnya, hanya dalam tempo tujuh menit, Mitra Kukar berhasil mencetak dua gol untuk menyamakan kedudukan melalui Fernando Rodriguez Ortega (81’, 88’).

Berlanjut ke pertandingan melawan Persija Jakarta di pekan kedua. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) itu Arema sejatinya mampu mengimbangi permainan agresif Macan Kemayoran di babak pertama.

Meski sempat kebobolan di menit ke-27 melalui Marko Simic, Arema berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-35 lewat Ahmet Atayev. Tapi, ketika laga memasuki babak kedua, Arema kembali kedodoran. Persija berhasil mencetak dua gol tambahan melalaui Simic dan Jaimerson da Silva Xavier dan mengunci kemenangan 3-1.

Hal yang tak berbeda jauh juga dialami Arema saat takluk 1-2 dari Borneo FC di pekan ketiga. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Segiri itu, Arema yang sempat unggul lebih dulu melalui gol yang dicetak Thiago Fortuoso pada menit ke-34, harus menelan kenyataan pahit setelah Pesut Etam berhasil membalikkan keadaan di babak kedua melalui Titus Bonai (58’) dan Lerby Eliandry (70’).

Inferiornya organisasi pertahanan Arema semakin kentara terlihat saat Singo Edan dibungkam Madura United 2-3. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Ratu Pamelingan, Sabtu (21/4) itu, hingga menit ke-66 Arema sebenarnya mampu unggul 2-1. Tapi menjelang akhir pertandingan, Madura United mampu membalikkan keadaan melalui eksekusi penalti Raphael Maitimo (73’) dan tendangan bebas Nuriddin Davronov (87’).

"Kami bisa bermain bagus, setidaknya sampai pertengahan babak kedua, kami pun sempat unggul 1-2, tapi setelah itu ada beberapa kesalahan yang membuat kami kehilangan momen,” kata asisten pelatih Arema, Milan Petrovic, seusai laga melawan Madura United, dilansir dari We Are Aremania.

Selain lemahnya konsentrasi, buruknya lini pertahanan Arema juga bisa jadi disebabkan karena kehilangan sosok Kurnia Meiga, yang masih terbaring sakit. Sosok Meiga amat vital bagi lini pertahanan Singo Edan.

Melalui kualitas yang dimiliki, Meiga bisa memberikan rasa nyaman kepada para pemain bertahan Arema. Selain juga mengingatkan lini pertahannya untuk tetap fokus selama 90 menit. Kehadiran Kurniawan Kartika Ajie dan Utam Rusdiana yang diharapkan bisa menjadi pengganti sepadan Meiga, sampai saat ini belum memperlihatkan kualitas yang setara dengan Meiga. Terlebih Utam dan Aji juga masih sering ditampilkan secara bergantian. Artinya, sampai saat ini Arema belum menemukan kiper utama dalam komposisi mereka.

Tapi, apapun itu, Arema harus segera bangkit, memperbaiki segala kekurangan yang mereka miliki untuk keluar dari zona degradasi. Kompetisi masih terbentang panjang, Singo Edan masih punya banyak pertandingan yang bisa mereka manfaatkan untuk memperbaiki performa.

“Tentu kami akan menganalisa sedetail mungkin apa saja yang terjadi di pertandingan lalu, terutama untuk mencari kesalahan yang dilakukan pemain kami, selanjutnya akan kami perbaiki dalam latihan," tambah Petrovic.

Komentar