Menjadi Bintang dengan Terpincang-pincang

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Menjadi Bintang dengan Terpincang-pincang

Waktu luang Amine Harit sedikit. Menekuni renang dan sepakbola sama seriusnya, Harit banyak mengikuti kejuaraan. Baru sejak usia 15 tahun ia fokus di satu bidang. Bergabung dengan akademi Football Club de Nantes membuat Harit fokus di sepakbola.

Namun berkurangnya kesibukan renang pun ternyata tak membuat Harit seperti orang Eropa kebanyakan, yang menghabiskan musim panas dengan liburan.

Musim panas 2016, misalnya. Harit sibuk di Jerman, mengikuti Piala Eropa U19 bersama Tim Nasional Prancis. Harit, yang saat itu belum pula tahu rasanya bertanding sebagai pemain pro, sudah menjadi pemain utama. Di final, Harit mencetak dua asis untuk membawa timnya mengandaskan Italia empat gol tanpa balas.

Penampilan apik Harit sepanjang turnamen, selain itu, membawanya terpilih di dalam Team of the Tournament, bersama bintang-bintang muda lain seperti Abdelhak Nouri (Belanda) dan Kylian Mbappe (Prancis).

Musim panas berikutnya, Harit kembali disibukkan kejuaraan—kali ini di Korea Selatan. Pemain yang lahir pada 18 Juni 1997 itu masih menjadi pemain andalan, namun tak ada final untuknya. Perjalanan Prancis di Piala Dunia U20 2017 terhenti di 16 besar, karena kalah 1-2 dari Italia.

Itu tak berpengaruh banyak terhadap karier Harit, karena penampilan di Jerman sudah membuat namanya tertangkap radar banyak klub besar.

“Cara orang-orang memandangku sudah berubah,” ujar Harit kepada L’Equipe pada musim 2015/16. “Bahwa sekarang aku bermain di Ligue 1, 90 persen alasannya adalah Piala Eropa dan kerja keras yang aku lakukan untuk meyakinkan pelatih kepala [Nantes].”

Mendapat promosi ke tim senior Nantes (dan langsung menjadi pemain utama pula) per musim 2015/16 hanya satu dari sekian banyak hal yang berubah dalam kehidupan Harit. Bayern Muenchen, Paris Saint-Germain, dan Olympique Lyonnais juga hanya tiga dari sekian banyak peminat Harit sejak sang pemain mencuri perhatian di Jerman.

Begitu banyak perubahan dalam waktu yang relatif singkat menempatkan Harit di masa rawan. Sudah banyak contoh pemain muda berbakat yang kariernya terpuruk akibat popularitas dan kesuksesan yang menyilaukan. Tapi tampaknya Harit tidak termasuk golongan tersebut. Ia tenang menyikapi semuanya.

Baca juga: Pelajaran dari Kisah Mantan Wonderkid Arsenal

“Sejak pertandingan pertama Piala Eropa, teleponku tidak berhenti berdering hingga akhir musim panas,” ujar Florent Vagnetti, agen Harit pada Februari tahun lalu. “Musim dingin ini sama saja, tapi Amine sangat ‘zen’.”

Di antara banyak tawaran yang datang, Harit memilih untuk menandatangani kontrak baru di Nantes, pada Januari 2017. Setengah musim di tim utama, Harit yang terbukti mampu memikul beban sebagai pemain andalan disodori kontrak hingga 2020. Harit menandatanganinya, namun tidak menyelesaikannya.

Per 10 Juli di tahun yang sama, Harit menerima tawaran FC Schalke 04. Kecocokan gaya main dengan Schalke dan Bundesliga, dirasa Harit, bisa membuatnya berkembang pesat. Pelatih kepala Schalke, Domenico Tedesco, pun mengaku senang bisa mendapat pemain muda dengan kriteria yang ia butuhkan.

“Amine adalah pemain yang secara teknis cakap; kemampuan menggiring bolanya sangat baik dan ia mau ikut bertahan. Ia sering mencari peluang melepas umpan kunci saat menyerang, dan karena itu ia memberi perbedaan. Kami senang bisa merekrutnya,” ujar Tedesco sebagaimana dikutip dari situs resmi Bundesliga.

Berganti seragam dari kuning Nantes ke biru Schalke sendiri bukan perkara sederhana. Banyak kendala yang menanti: Harit minim pengalaman (karena baru satu musim berkarier sebagai pemain profesional) dan belum pernah berkarier di luar negeri kelahirannya (karena hanya pernah membela Nantes). Kultur dan bahasa yang sama sekali baru menambah panjang daftar tantangan yang harus dihadapinya; walau Harit fasih berbahasa Inggris, hidup di Gelsenkirchen tetap tak akan mudah jika tak mampu berkomunikasi dalam bahasa Jerman.

Harit sendiri tak menyembunyikan kekhawatiran yang ia rasa. Dalam wawancara pertamanya dengan situs resmi Bundesliga, Agustus tahun lalu, Harit berkata: “Aku senang sekali. Adaptasiku dibuat mudah oleh para pemain berbahasa Prancis, seperti Benji [Benjamin Stambouli], Nabil [Bentaleb], dan Breel [Embolo]. Naldo juga selalu ada untuk membimbing dan mendukungku. Pelatih [Domenico Tedesco] juga berbahasa Prancis, jadi aku sangat terbantu.”

“Selain itu, atmosfer skuat juga menyenangkan. Aku masih muda dan ini pengalaman pertamaku di luar negeri, namun berkat kondisi ruang ganti yang sangat baik aku merasa baik-baik saja dan tidak segugup yang aku bayangkan.”

Dipermudah oleh klub dan orang-orang di dalamnya, Harit bisa langsung fokus tampil sebaik mungkin di lapangan. Pada pertandingan pembuka musim, melawan RB Leipzig, Harit langsung menyumbang satu asis dalam kemenangan dua gol tanpa balas.

Di sepuluh pekan pertama Bundesliga 2017/18, Harit sepuluh kali tampil sebagai starter—dua di antaranya tampil penuh. Selama rentang waktu itu, Harit mencetak empat asis.

Baru pada pekan kesebelas Harit tampil sebagai pemain pengganti. Pekan berikutnya ia malah duduk di bangku pemain pengganti sepanjang pertandingan. Pada pekan ke-13, dalam hari besar sepakbola Jerman, Harit kembali didaftarkan sebagai pemain pengganti.

Hari itu, Sabtu 25 November 2017, Harit tak bisa berbuat banyak saat rekan-rekannya dipermalukan oleh Borussia Dortmund. Dalam 25 menit pertama laga, gawang Schalke kebobolan empat gol. Catat pula: gol pertama Dortmund baru tercipta di menit ke-12.

Sejak ditangani Tedesco, pertahanan Schalke tak mudah ditembus. Serangan Schalke pun tak mudah diredam. Di Westfalenstadion, melawan Dortmund yang sejatinya sedang dalam rangkaian negatif, keduanya perubahan positif itu tak tampak.

Baca juga: Pembuktian Juara Kelas

Tedesco yang merasa perlu melakukan sesuatu kemudian menarik keluar Franco Di Santo dan Wenston McKennie pada menit ke-33. Keduanya digantikan Leon Goretzka dan Harit. Perlahan tapi pasti, kualitas-kualitas yang membuat Schalke bisa menempati peringkat ketiga Bundesliga saat itu mulai tampak.

Gol balasan yang dinanti-nanti akhirnya hadir berkat sundulan Guido Burgstaller di menit ke-61. Tertinggal empat gol dan baru membalas kurang dari setengah jam sebelum laga berakhir rasanya terlalu terlambat. Namun anggapan itu tidak bertahan lama. Empat menit berselang, Harit memangkas ketinggalan menjadi dua gol saja.

Mencetak gol Bundesliga perdana di pertandingan sebesar Revierderby tentu alasan yang cukup untuk perayaan. Namun Harit tak punya waktu untuk itu. Masih ada setidaknya dua gol untuk dicetak, dan Harit harus memainkan perannya agar target mustahil itu bisa tercapai.

Di menit ke-79, pertandingan tampak berakhir cepat bagi Harit. Injakan Gonzalo Castro membuat betis kanan Harit tak berfungsi. Kaus kaki Harit bahkan sampai sobek karenanya. Minta diganti, walau demikian, bukan pilihan. Jatah pergantian pemain Schalke sudah habis sejak pergantian babak.

Memilih tidak melanjutkan pertandingan pun sebenarnya tidak apa-apa. Dengan keluarnya Harit, toh, Schalke melawan Dortmund tetap sepuluh melawan sepuluh karena Pierre-Emerick Aubameyang menerima kartu kuning keduanya pada menit ke-72. Harit, toh, tidak mengambil pilihan itu. Dengan terpincang-pincang, ia mengembalikan keunggulan jumlah pemain timnya.

Tak lama setelah Harit kembali ambil bagian pasca mendapat perawatan, Daniel Caliguri mencetak satu gol tambahan. Dengan masih terpincang-pincang, Harit ikut larut dalam perayaan.

Schalke butuh setidaknya satu gol lagi. Enam menit ternyata tak cukup untuk itu. Untungnya Schalke tak punya enam menit saja. Banyak hal di babak kedua, termasuk dua kartu kuning Aubameyang dan pelanggaran terhadap Harit, memberi Schalke cukup tambahan waktu. Di menit keempat injury time babak kedua, sundulan Naldo memulai perayaan yang tak terbendung.

Pertandingan berakhir dengan kedudukan 4-4. Empat pemain, termasuk Harit, mencetak masing-masing satu gol dan dua pemain—Benjamin Stambouli dan Yevhen Konoplyanka—mencetak masing-masing dua asis. Namun bintang pertandingan, tak lain dan tak bukan, adalah Harit.

Baca analisis pertandingan selengkapnya: Pembuktian Kelas Tedesco Soroti Kekacauan Pertahanan Dortmund

“Salut kepada Amine Harit. Ia membawa perubahan besar. Saya sangat bangga kepadanya dan kepada tim. Dia memberi segalanya untuk kami,” ujar Tedesco selepas laga.

“Aku bahagia sekali,” ujar Harit pada kesempatan yang sama. “Derbi ini akan tercatat dalam sejarah! Ini comeback luar biasa yang tidak disangka siapa pun. Betis saya baikan sekarang. Tadinya sakit dan sepuluh menit terakhir berat sekali, tapi aku ingin ada di lapangan untuk membantu tim. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya ketika Naldo membuat kedudukan menjadi 4-4. Seperti mimpi saja.”

Pasca Dortmund, Harit kembali akrab dengan starting line-up. Namanya semakin dikenal dan pengakuan terhadap kemampuannya pun datang dari khalayak yang lebih luas. Atas serangkaian penampilan gemilang, Harit mendapat penghargaan pemain muda terbaik Bundesliga edisi Desember 2017.

Selepas jeda musim dingin pun Harit tetap tak kehilangan tempat. Tak banyak yang berubah di tahun baru. Sejauh ini, di Bundesliga, Harit sudah tampil dalam 29 pertandingan serta mencetak tiga gol dan tujuh asis. Dibandingkan dengan catatannya selama di Nantes (34 pertandingan; satu gol dan satu asis), itu perkembangan yang cukup pesat.

Berikutnya untuk Harit adalah Revierderby edisi kedua hari Minggu (15/4) ini. Taruhannya lebih besar ketimbang edisi pertama, karena Schalke bisa tergeser dari peringkat kedua jika kalah dari Dortmund. Schalke, yang sudah mengumpulkan 52 poin sejauh ini, hanya satu posisi dan satu poin lebih baik dari Dortmund.

Tak ada yang sama begitu seseorang sudah menjadi pahlawan; Harit bukan pengecualian. Atas semua jasanya di Revierderby pertama, Harit akan secara khusus mendapat sorotan di edisi kali ini.

Komentar