Kesuksesan FK Skenderbeu Dicurigai Hasil dari Pengaturan Skor

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Kesuksesan FK Skenderbeu Dicurigai Hasil dari Pengaturan Skor

Aksi demonstrasi dilakukan ribuan suporter FK Skenderbeu Korce di ruas jalan utama kota Korce, Albania, pada 21 Februari lalu. Dalam aksi itu, mereka berpawai mengelilingi pusat kota sambil bernyanyi, membentangkan syal, dan poster bertuliskan: “Jangan bunuh mimpi kami”, “Kami menjalankan sepakbola, Kami mencintai Skenderbeu,” dan “Kota kami bukanlah ancaman, kota kami menginginkan keadilan diarak di jalanan.”

Demonstrasi suporter Skenderbeu itu merupakan reaksi atas potensi hukuman Skenderbeu yang dilarang tampil di kompetisi Eropa selama 10 tahun dari UEFA karena kasus pengaturan skor. Klub berjuluk Ujqerit e Debores itu mendapat sanksi atas pengaturan skor yang terjadi pada 2016/2017.

Namun sejak Februari 2018, penyelidikan kasus pengaturan skor yang melibatkan Skenderbeu kembali dibuka UEFA. Dalam investigasi lanjutannya itu, UEFA menggunakan sistem pendeteksi aktivitas mencurigakan di bursa taruhan dalam pertandingan sepakbola; Betting Fraud Detection System (BFDS).

Fakta baru didapatkan UEFA dari hasil investigasi melalui BFDS. Mereka menemukan pola keterlibatan Skenderbeu dalam kasus pengaturan skor dengan skala yang lebih luas dari sebelumnya. Dilansir dari The Guardian, UEFA telah mengidentifikasi 53 pertandingan Skenderbeu (persahabatan, pertandingan domestik, dan kompetisi Eropa) yang diduga telah dimanipulasi untuk kepentingan di bursa taruhan dari November 2010 hingga April 2016.

Fokus utama UEFA dalam penyelidikannya itu adalah keterlibatan Skenderbeu dalam kasus pengaturan skor di kompetisi Eropa. Paling mencolok dari kasus tersebut ada saat mereka menghadapi Crusader FC di pertandingan leg dua kualifikasi Liga Champions, 21 Juli 2015 lalu.

Saat itu Skenderbeu unggul 2-1 hingga menit 80. Namun setelah itu, dalam rentang 10 menit menuju berakhirnya laga, gawang Ujqerit e Debores dibobol dua kali hingga Crusaders bisa membalikkan keadaan menjadi 3-2. Dianulirnya dua gol Crusaders dalam pertandingan tersebut pun menambah kecurigaan lain. Meski kalah, Skenderbeu tetap lolos ke babak Kualifikasi Liga Champions ronde tiga, menyusul keunggulan agregat 6-3 (4-1, 2-3) atas Crusaders.

Kiper Crusaders, Sean O’Neill, curiga dengan hasil akhir pertandingan yang menurutnya amat tak masuk akal. Seusai pertandingan, ia mengunggah pernyataan melalui akun Twitter pribadinya: "Jika tidak ada investigasi UEFA dalam permainan kami malam ini, maka ada sesuatu yang salah,” tulis O’Neill.

***

Kasus pengaturan skor yang melibatkan Skenderbeu kabarnya dimulai saat Agim Zeqa terpilih sebagai presiden klub pada Januari 2010. Saat itu klub tengah terpuruk hingga terancam terdegradasi. Ada laporan yang menyebutkan bahwa dalam beberapa pertandingan yang dilakoni Ujqerit e Debores pada November 2010 menunjukkan hasil akhir yang mencurigakan. Akan tetapi hal tersebut dibantah Zeqa.

“Saya dengan tegas menyangkal bahwa pengaturan pertandingan terjadi selama masa jabatan saya sebagai presiden Skenderbeu. Saya siap menghadapi tuduhan tersebut secara terbuka di depan umum, termasuk pengadilan hukum jika diperlukan,” kata Zeqa kepada The Guardian.

Setelah hampir terjerat degradasi, Skenderbeu bangkit dan malah merajai Liga Super Albania. Dalam lima musim beruntun (2010/11 - 2014/15) Skenderbeu menjadi kampiun di kompetisi domestik. Ada kecurigaan bahwa prestasi yang diraih Skenderbeu di kompetisi domestik dalam lima tahun beruntun itu dicapai dengan cara yang tidak benar.

Zeqa diduga bukan satu-satunya yang dicurigai terlibat dalam kasus pengaturan skor tersebut. Ardjan Takaj, Presiden klub saat ini dan Ridvan Bode, mantan Menteri Keuangan Albania pun dicurigai terkait kasus ini. Kedua sosok tersebut diduga memiliki pengaruh besar dalam skema pengaturan skor yang melibatkan Skenderbeu.

"Saya tidak pernah menjadi bagian dan tidak pernah tahu ada upaya untuk mempengaruhi hasil pertandingan apa pun,” tegas Bode, menyangkal.

Bahkan, Takaj dituduh menargetkan pengaturan skor di pertandingan persahabatan untuk mendapatkan keuntungan ilegal. Dalam aksinya itu, diduga Takaj menggunakan hubungannya dengan pemain untuk mempengaruhi aksi mereka di lapangan.

"Saya tidak pernah terlibat, langsung atau tidak langsung, dalam setiap kegiatan yang bertujuan untuk memanipulasi hasil pertandingan, tidak ada orang yang terkait dengan saya,” terang Takaj.

Dari jajaran pemain, penjaga gawang Skenderbeu, Orges Shehi, dan pemain belakang, Tefik Osmani, dituduh terlibat dalam kasus pengaturan skor yang melibatkan klubnya. Namun seperti yang lainnya, keduanya pun menyangkal. Shehi bahkan menjamin bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam kasus pengaturan skor tersebut. Baginya, itu sama saja dengan mencoreng kariernya selama ini sebagai pesepakbola.

"Saya percaya pada nilai-nilai olahraga dan sportivitas dan telah mencoba seluruh karier saya untuk memberikan contoh bagi generasi berikutnya,” kata Shehi.

***

Sebenarnya, sampai dengan saat ini UEFA belum memutuskan sanksi kepada Skenderbeu atas keterlibatannya dalam tindak-tanduk pengaturan skor. Ketuk palu vonis yang akan dijatuhkan UEFA kepada Skenderbeu masih menunggu pengesahan dari badan pengatur, badan etika dan disiplin UEFA. Namun bocoran soal laporan sanksi yang akan diterima Ujqerit e Debores telah menyebar luas di Albania, hingga membuat suporter klub tersebut turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya.

Pada Februari lalu, saat UEFA masih dalam proses investigasi terhadap keterlibatan Skenderbeu dalam kasus pengaturan skor di kompetisi Eropa, salah satu inspektur disiplinnya menerima ancaman pembunuhan setelah laporan itu bocor.

UEFA sendiri sampai dengan saat ini belum mengonfirmasi soal kebenaran dari laporan yang bocor itu, namun juga tak menyangkalnya. Tapi andai sanksi tersebut benar-benar dijatuhkan, maka itu akan menjadi hukuman larangan bermain terlama yang dijatuhkan UEFA kepada sebuah kesebelasan.

Foto: KF Skenderbeu Official Website

Komentar