Merelakan Astori

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Merelakan Astori

Antonio Puerta, Miklos Feher, Dani Jarque, Marc-Vivian Foe, dan Choirul Huda adalah nama-nama yang tentu tidak lagi asing. Mereka semua meninggal dunia ketika masih aktif merumput. Kini, deretan nama tersebut bertambah satu: Davide Astori.

Sampai menjelang akhir pekan kemarin, tepatnya Jumat (2/3), hampir seluruh pengikut Serie A fokus pada tiga pertandingan: Lazio vs Juventus, Napoli vs AS Roma, dan Derby della Madonnina.

Memasuki Minggu (4/3) pagi waktu setempat, mereka pun masih membicarakan tentang tiga laga tersebut. Maklum, kemenangan Juventus dan kekalahan Napoli akan membuat perebutan Scudetto semakin sengit (peringkat kedua, Juventus, hanya berselisih satu poin dengan peringkat pertama, Napoli). Milan vs Inter, sementara itu, ramai dibicarakan karena merupakan salah satu derbi terpanas di Italia.

Fiorentina dijadwalkan menghadapi Udinese di Stadion Friuli pada hari itu. Namun, sekitar tiga jam sebelum sepak mula, akun Twitter resmi klub mengumumkan bahwa Astori telah tiada. Ia meninggal dalam tidurnya, di usia yang 31 tahun. Astori meninggalkan istrinya, Francesca Fioretti, dan seorang putri yang baru berusia 2 tahun.

Tak berselang lama, Serie A mengonfirmasi bahwa seluruh pertandingan tersisa ditunda, termasuk laga antara Cagliari -- mantan tim Astori (2008-2014) -- melawan Genoa yang sebenarnya sudah hampir sepak mula. Pemain dari kedua kesebelasan mengetahui kabar ini ketika tengah melakukan pemanasan. Penjaga gawang Genoa, Mattia Perin, tak kuasa menahan air matanya.

Penjaga gawang Juventus dan tim nasional Italia, Gianluigi Buffon, yang mengaku jarang mengungkapkan perasaan secara terbuka kepada publik, memberikan salam perpisahan emosional.

“Untukmu, saya merasa perlu membuat pengecualian karena kamu memiliki istri muda dan keluarga, juga anak kecil yang harus tahu bahwa ayahnya benar-benar seseorang yang baik hati,” tulis Buffon melalui akun Instagram pribadinya. “Kamu adalah ungkapan terbaik dari dunia klasik dengan nilai-nilai altruisme, elegansi, kesopanan, dan hormat kepada orang lain. Pujian ini benar-benar tulus karena kamu merupakan salah satu sosok pesepakbola terbaik yang pernah saya temui.”

Mantan rekan Astori di Fiorentina yang tengah menjalani masa peminjaman bersama Espanyol, Carlos Sanchez, sempat tak sadarkan diri begitu diberi tahu kabar meninggalnya Astori. Ia akan terbang ke Italia untuk menghadiri pemakaman sang rekan.

Ungkapan duka terus-menerus datang dari pelbagai belahan dunia. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) bahkan siap menjadikan laga uji coba melawan Italia di Stadion Wembley pada 27 Maret mendatang.

Bagi keluarga besar dan suporter La Viola sendiri, kepergiaan Astori adalah pukulan yang teramat telak. Ia merupakan salah satu andalan di lini belakang dan dipercaya mengenakan ban kapten sejak awal musim 2017/18 ini.

“Ini terasa seperti hal yang mustahil bagi saya. Saya tidak bisa mempercayainya,” tulis mantan Perdana Menteri Italia dan Walikota Firenze, Matteo Renzi, di akun Twitternya. Pagar Stadion Artemio Franchi telah dipenuhi oleh bunga dan syal.

Kematian Astori tentulah mengejutkan. Ia tidak memiliki riwayat atau tanda-tanda sakit. Bahkan, sebelum tidur untuk terakhir kalinya, ia sempat bermain PlayStation bersama penjaga gawang Fiorentina, Marco Sportiello, hingga menjelang tengah malam.

Penyidik Antonio De Nicolo mengatakan, berdasarkan hasil investigasi terbaru, mantan pemain akademi AC Milan diduga kuat meninggal akibat serangan jantung. Jika benar, jelas ini adalah hal yang terbilang miris mengingat Italia sebenarnya merupakan salah satu negara maju urusan antisipasi kematian mendadak pemain.

Dalam buku IOC Manual of Sports Cardiology, dijelaskan bahwa pemerintah Italia mewajibkan setiap kota untuk memiliki minimal satu klinik yang didedikasikan untuk para atlet, baik profesional maupun amatir. Khusus bagi para pemain sepakbola Serie A dan Serie B, mereka diizinkan diperiksa oleh tim dokter klub dengan pengawasan konsultan, tetapi tetap harus melewati pemeriksaan sistem kardiovaskular, termasuk elektrodiagram 12 sadapan dan ekokardiografi, setiap enam bulan sekali.

Undang-undang ini dibuat sebagai bentuk antisipasi pemerintah Italia terhadap kematian mendadak akibat serangan jantung, yang tak lain merupakan alasan kematian atlet paling umum. Sebagai pengingat, sebelum Astori, sepakbola Italia sudah pernah kehilangan Renato Curi (Perugia) pada 1977, Giuliano Taccola (Roma) pada 1962, dan Piermario Morosini (Livorno) pada 2012 atas kasus serupa.

“Di negara kami, terdapat kontrol yang lebih ketat ketimbang negara-negara lain di dunia. Dengan pengecekan yang kami lakukan, risiko kematian mendadak para atlet profesional turun hingga 89%,” ujar Professor Carlo Tranquilli, spesialis kedokteran olahraga yang telah lama menjadi bagian dari staf tim nasional U-21 Italia, sebagaimana dikutip dari La Gazzetta dello Sport.

Inilah paradoks sepakbola, juga olahraga pada umumnya. Meski para atlet menjaga kebugaran fisik dan pemerintah telah berusaha, pada akhirnya takdir jugalah yang menentukan. Kematian tidak bisa dihindari, dan yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah merelakan Astori.


Kabar terbaru, kepolisian setempat membuka penyelidikan atas kematian Astori untuk melihat adakah kemungkinan ia mati dibunuh atau tidak.

Komentar