Chelsea dan Dortmund yang Menjilat Ludah Sendiri

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Chelsea dan Dortmund yang Menjilat Ludah Sendiri

Mario Götze memutuskan untuk pulang kampung pada musim 2016/2017 ini. Ia memutuskan untuk kembali ke klub yang membesarkan namanya, Borussia Dortmund. Keputusan yang sama juga dilakukan oleh pemain asal Brasil, David Luiz.

Dilansir oleh Daily Mirror, Chelsea menebus mantan beknya tersebut di deadline day transfer musim panas ini sebesar 32 juta paun kepada manajemen Paris Saint-Germain. Luiz akhirnya pulang ke Stamford Bridge. Luiz diboyong oleh PSG dua tahun lalu dari The Blues dengan mahar 50 juta paun. Sempat ditolak, pada akhirnya pembicaraan mengenai transfer Luiz ini pun berlanjut dan dirampungkan.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Dortmund dan Chelsea dengan membawa pemain yang pernah membela mereka untuk pulang kembali. Die Borussen tidak memiliki pilihan lain setelah gelandang-gelandang serang incaran mereka menolak untuk hijrah ke Signal Iduna Park karena memilih untuk bertahan dengan klub yang sekarang.

Chelsea pun mengalami hal yang sama. Incaran-incaran mereka seperti Kalidou Koulibaly dan Alessio Romagnoli memilih untuk tetap bertahan dengan klubnya yang sekarang. Jadi, langkah Dortmund dan Chelsea merekrut kembali pemain yang pernah membela klub pada masa lampau adalah hal yang lumrah, apalagi di tengah pilihan pemain yang semakin sedikit.

Tapi, hal ini tetap saja terasa aneh. Merekrut pemain yang dulu mereka jual, sama saja seperti mengambil kembali sesuatu yang pernah mereka berikan kepada orang lain. Dortmund dan Chelsea sama seperti orang-orang yang menjilat ludah sendiri, mengambil kembali apa yang sudah mereka berikan beberapa tahun sebelumnya.

Nah, inilah yang sekarang sedang melanda Dortmund, dan mungkin juga Chelsea. Setelah ‘memberikan’ pemain mereka ke klub lain, mereka malah mengambil pemain tersebut kembali. Hal yang sah-sah saja untuk dilakukan, meski cukup sedikit disayangkan.

**

Ada banyak alasan yang dapat menjadi dasar kenapa kedua klub ini memboyong pemain yang pernah mereka ‘berikan’ kepada klub lain pada masa lampau, selain karena kebutuhan klub yang mendesak tentunya. Mungkin karena prestasi yang mereka cetak di klub yang baru, atau malah pemain yang mereka ‘berikan’ tidak mendapatkan jam terbang yang cukup di klub baru sehingga mendorong klub lama ingin mengambil lagi pemain tersebut.

Ketika ‘diberikan’ oleh Dortmund ke Bayern München, Götze berstatus sebagai pemain masa depan Jerman. Ia memiliki labelnya sendiri yang diberikan oleh masyarakat Jerman kala itu, “Messi dari Jerman”. Pun dengan Luiz. Saat ia ‘diberikan’ ke PSG oleh Chelsea, ia adalah salah satu bek kenamaan di Liga Primer Inggris (meski ia juga sering melakukan blunder).

Namun, keadaan kedua pemain cukup berbeda jauh, bak langit dan bumi. Götze, selama empat tahun masa baktinya di München, sulit sekali mendapatkan jam tampil reguler karena harus bersaing dengan nama-nama tenar di Allianz Arena seperti Thomas Müller, Franck Ribery, dan Arjen Robben di dalamnya, meski memang raihan trofi Götze selama di München terbilang tidak sedikit.

Sedangkan David Luiz, ia kembali melanjutkan penampilan gemilangnya bersama PSG. Meraih sembilan trofi dalam dua tahun masa baktinya untuk klub yang bermarkas di Parc des Princes ini adalah catatan Luiz selama ia membela PSG. Selama masa kepelatihan Laurent Blanc, ia adalah duet sejati Thiago Silva di lini belakang PSG (dan di Brasil juga).

Tapi, Unai Emery, pelatih anyar PSG, mengatakan bahwa ia tidak akan memasang Luiz sebagai pemain utama dalam skuatnya. Hal ini tentunya bukan kabar baik bagi Luiz, yang sudah menjadi tulang punggung pertahanan PSG selama dua tahun belakangan.

Keadaan-keadaan inilah yang membuat klub yang pernah ‘memberikan’ mereka, Borussia Dortmund dan Chelsea, berusaha untuk mengambil mereka kembali. Selain karena prestasi yang sudah dicetak oleh kedua pemain, jam terbang menjadi senjata utama klub-klub terdahulu untuk memboyong mereka pulang. Jaminan yang tentunya bernilai yang cukup besar bagi seorang pemain.

**

Sebenarnya normal-normal saja sebuah klub mengambil kembali pemain yang mereka jual, baik dengan harga yang lebih murah pada saat mereka dijual (seperti kasus Götze dan Luiz) ataupun lebih mahal (seperti kasus Paul Pogba atau Nemanja Matic).

Namun, di sisi lain, hal ini mencerminkan banyak sekali hal dari klub tersebut, entah itu tidak bisa move on dari pemain lama atau ketidakmampuan mereka menjual diri kepada pemain-pemain lain agar mau membela klub mereka.

Kasus Dortmund dan Chelsea ini hanya sebagai contoh dari sekian banyak kasus serupa, yang juga dialami oleh United ataupun Real Madrid musim ini (ingat Pogba dan Morata?). Tapi, siapa tahu di luar sana ada juga klub-klub yang mengalami kejadian serupa. Kejadian yang sama masih mungkin terjadi di masa depan, selama masih ada bursa transfer dan perpindahan pemain yang begitu masif seperti sekarang ini.

Komentar