Ungkapan Rasa Cinta Mendalam di Balik Sepinya Gelora Bung Karno

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Ungkapan Rasa Cinta Mendalam di Balik Sepinya Gelora Bung Karno

Sabtu (21/5) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Kala itu suasana Stadion Gelora Bung Karno sedikit ramai, tapi tidak seramai ketika Tim Nasional Indonesia ataupun Persija Jakarta bertanding di stadion tersebut. Setidaknya, ada ratusan orang yang malam itu datang ke stadion yang cukup sakral bagi Indonesia ini.

Para penjaga memadati setiap pintu stadion. Mereka memeriksa setiap pengunjung yang datang, bahkan dari semenjak kedatangan para penonton di pintu sebelum pintu utama. Sebuah penjagaan yang ketat namun juga terkesan berlebihan. Tapi, mengingat siapa yang datang dan akan bertanding di stadion tersebut, mungkin itu adalah hal yang wajar. Bertindak berdasarkan SOP (Standar Operasional Pegawai) mungkin.

Di luar stadion, sudah banyak para penonton yang mengenakan jersey Juventus, AC Milan, dan beberapa ada yang mengenakan jersey AS Roma ataupun Inter Milan. Mereka sudah menanti sejak pukul 18.00 WIB hanya untuk menyaksikan laga yang akan dihelat pada pukul 20.00 WIB. Beberapa ada yang duduk-duduk, dan beberapa ada yang sedang berkumpul di kantin SUGBK, makan sekaligus menunggu pukul delapan malam tiba.

Tak lupa juga ada calo-calo tiket yang menawarkan tiket pertandingan malam itu kepada orang-orang yang ada di stadion. Mereka menawarkan harga tiket, bahkan sampai harga yang paling murah sekalipun agar mereka setidaknya memiliki uang untuk dibawa ke rumah mereka masing-masing, untuk diberikan kepada anak dan istri.

Sabtu (21/5) malam pukul 20.00 adalah waktu ketika laga yang digagas oleh Grande Evento antara Calcio Legend melawan tim eks Primavera Baretti akan dilangsungkan. Perkiraan awal, laga ini akan penuh dengan penonton dan mengundang banyak sekali para pecinta Serie-A maupun Tim Nasional Italia akan datang.

Namun, kenyataan kadang tak sejalan dengan harapan yang diinginkan. Suasana Stadion Utama Gelora Bung Karno setengah jam sebelum pertandingan tampak begitu lengang. Berbeda mungkin keadaannya ketika pertandingan yang dilangsungkan adalah pertandingan yang sifatnya lebih familiar, mungkin stadion akan terasa lebih semarak.

Suasana GBK yang sepi sebelum laga Calcio Legend vs eks Primavera Baretti

Jika diprediksi, yang datang adalah para kolega dan juga keluarga dari para pemain Primavera Baretti dan juga mungkin beberapa kawan dari para pemain Calcio Legend. Tak bisa dipungkiri dan juga diakui, pertandingan ini memang gagal menarik animo pecinta sepakbola Indonesia.

Tapi, setelah menunggu beberapa saat di dalam stadion, perlahan tribun-tribun SUGBK mulai terisi. Utamanya tribun di sisi seberang penulis. Banner-banner pun mulai dibentangkan, dan ternyata banner itu adalah milik Juventus Club Indonesia (JCI) yang notabene adalah suporter dari Juventus yang berbasis di Indonesia.

Kehadiran merekalah yang setidaknya membuat pertandingan menjadi sedikit lebih ramai. Teriakan-teriakan yang mereka gelorakan kepada Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, David Trezeguet, Angelo Peruzzi, dan Edgar Davids membuat suasana stadion menjadi sedikit lebih hidup dan tidak sepi ketika penulis masuk stadion ini.

Sepanjang pertandingan berlangsung, mereka kerap melakukan chants bagi para pemain Calcio Legend, utamanya mereka yang pernah membela Juventus. Chant yang begitu melekat di telinga penulis adalah saat mereka berteriak Ale Ale Juve yang menggema di stadion yang sepi tersebut.

Lucunya, mereka juga tak lupa untuk menggelorakan lagu Indonesia Raya, dan ini terjadi di tengah-tengah berlangsungnya pertandingan Calcio Legend melawan eks Primavera Baretti. Setidaknya, dengan itu mereka masih menganggap diri mereka sebagai warga Indonesia, hehehe.

Di tengah stadion yang sepi oleh penonton, penulis dapat menangkap sebuah rasa cinta di situ. Meski memang cinta itu tidak terlalu banyak, mungkin hanya berjumlah antara 200 sampai 500 orang, tapi setidaknya cinta itu tetap tersampaikan kepada para pemain yang bertanding, utamanya para pemain Calcio Legend.

Dengan chant-chant, dan juga panggilan-panggilan yang diucapkan dan diteriakkan oleh para Juventini Indonesia tersebut, terlihat bahwa masih ada yang menyukai Serie-A Italia. Masih ada orang-orang yang tahu dan memahami Serie-A Italia, juga mencintai Serie-A Italia. Mengapa penulis dapat mengidentifikasi bahwa itu adalah rasa cinta?

Bayangkan saja, di tengah sepi nya kehadiran penonton di GBK malam itu, mereka kuat untuk duduk berlama-lama dan menonton pertandingan yang, mungkin menurut orang lain tidak seru. Sama halnya seperti ketika seseorang rela melakukan apapun untuk orang yang ia sayangi, kira-kira, gambaran itulah yang bisa saya dapat dari para Juventini, dan juga orang-orang yang hadir dalam pertandingan tersebut, terlepas mungkin dari adanya kepentingan lain mereka menonton pertandingan tersebut.

Hal ini juga mungkin akan sedikit membahagiakan para Calcio Legend yang sudah jauh-jauh datang ke Indonesia. Mereka mungkin akan senang melihat bahwa di Indonesia ada juga orang-orang yang mencintai mereka. Di balik sepinya Gelora Bung Karno malam itu, setidaknya, masih ada wujud rasa cinta yang bisa mereka lihat.

Komentar