Alasan Kenapa Van Gaal Lebih Senang Duduk dan Mencatat

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Alasan Kenapa Van Gaal Lebih Senang Duduk dan Mencatat

Katanya, jika Anda susah tidur, sebaiknya Anda menonton saja pertandingan Manchester United. Alasannya, permainan "Setan Merah" begitu membosankan sampai-sampai yang insomnia pun akan segera mengantuk.

Satu sosok yang bertanggung jawab dengan membosankannya United ini tentunya adalah Louis van Gaal, sang manajer. Sudah bukan rahasia juga dalam satu setengah musimnya di pinggir lapangan, ia selalu terlihat menulis di "buku catatannya" sambil duduk-duduk saja tanpa sekalipun memberikan instruksi kepada para pemainnya di lapangan.

Tentunya ini sangat berbeda jika kita membandingkannya dengan Sir Alex Ferguson atau bahkan David Moyes.

Khususnya Ferguson, ia sudah terkenal sangat aktif di pinggir lapangan apalagi jika kesebelasannya sedang ketinggalan, sampai-sampai muncul istilah "Fergie time" dengan gayanya yang sambil menunjuk-nunjuk waktu di jam tangannya.

Selama 27 tahun terus begitu, sejak 1986 sampai 2013. Maka tidak mengagetkan kalau sekarang kita semua pasti gemas dengan kebiasaan "mencatat sambil duduk-duduk" sepanjang 90 menit dari Van Gaal.

Bahkan Ryan Giggs saja, asistennya dan juga sekaligus legenda United, kedapatan beberapa kali berdiri dan memberikan instruksi dari pinggir lapangan sementara LvG, ya, duduk-duduk saja.

Kegemasan kita menimbulkan pertanyaan, apakah manajer asal Belanda itu benar-benar bergairah untuk memimpin "Setan Merah"? Tak usah menunggu lebih lama lagi, pertanyaan kita tersebut akhirnya terjawab.

Van Gaal bersikukuh bahwa kealfaannya dalam berteriak dan memberikan istruksi bukan berarti dia tidak berkomunikasi dengan para pemainnya. Sebaliknya, ia percaya bahwa manajer yang melakukan hal tersebut (meneriaki pemainnya dari pinggir lapangan) adalah mereka yang sedang melakukan sesuatu yang tidak benar-benar menguntungkan timnya.

"Saya bukan Sir Alex, kalian sudah tahu. Setiap orang berbeda dan saya tidak percaya dengan berteriak dari pinggir lapangan," katanya seperti yang kami lansir dari Sky Sports.

"Saya lebih percaya komunikasi yang dibangun sepanjang pekan, sepanjang persiapan, dan saya percaya kepada para pemain saya yang harus menunjukkan performa mereka. [Memberikan istruksi] itu sulit karena kebisingan. Banyak manajer yang berteriak dari pinggir lapangan tapi saya ragu itu berpengaruh banyak," tutupnya.

Memang setiap orang punya kebiasaan yang berbeda. Kita juga sebagai penonton biasa disuguhkan dengan para manajer yang berteriak dari pinggir lapangan, sehingga ketika ada satu manajer yang tidak melakukannya, apalagi di kesebelasan besar, kita akan menganggapnya aneh.

Namun sejujurnya, Van Gaal memang aneh. Memang belum ada studi yang mempelajari hal ini, tetapi rasanya kehadiran manajer di pinggir lapangan memang tidak otomatis memberi keuntungan yang terlihat. Tetapi hal tersebut dilakukan lebih karena sisi psikologis.

Sir Alex mengakui bahwa ia sering melakukannya untuk memengaruhi lawan, manajer lawan, wasit, dan tentunya menaikkan psikis para pemainnya. "Memengaruhi" ini memang tidak serta-merta, tetapi ini seperti hal yang sangat umum.

Tapi kembali, semua orang punya kebiasaannya sendiri. Jika lebih banyak orang mengupil dengan jari telunjuk, bukan berarti mengupil dengan jari kelingking itu salah bukan? Meskipun yang jadi masalah adalah jangan sampai mengupil di depan umum dan upilnya dipeperkan sembarangan.

Bahkan sejujurnya saya bisa menjadi manajer yang membawa Leeds United menjuarai Liga Champions UEFA dengan duduk-duduk saja di depan layar komputer saya, tentunya kadang sambil mengupil, dan tentunya juga, saya sedang membicarakan "karier manajerial" saya di permainan Football Manager.

Sumber: Sky Sports, Squawka

Komentar