Kritik Pedas Daniel Radcliffe untuk Sepakbola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kritik Pedas Daniel Radcliffe untuk Sepakbola

Daniel Radcliffe tahu football lebih dalam dari pecinta football sekalipun. Ia jatuh cinta begitu dalam.

Daniel adalah seorang Inggris yang dikenal lewat perannya dalam film adaptasi Harry Potter. Soal olahraga, mereka yang awam dengan kehidupan pribadi Daniel, pasti menyangka kalau ia amat hebat dalam bermain quidditch—olahraga macam rugby dalam film Harry Potter. Di kehidupan nyata, ia tak jauh berbeda.

Daniel mencintai olahraga. Ia menyenangi football dan cricket. Lahir di Fulham, Daniel akrab dengan Fulham FC dan Craven Cottage-nya. Sejatinya, Daniel tak begitu tertarik dengan sepakbola. Ia adalah seorang penggemar american football; penggemar fanatik lebih tepatnya.

Kepada sejumlah media di Amerika, Daniel mempertunjukkan pengetahuannya soal american football. Dalam sebuah program di MTV, Daniel menjawab tantangan sang pembawa acara, Josh Horowitz,  yang memintanya menyebutkan satu persatu nama quarterback di NFL.Tentu, Daniel tak kesulitan. Ia bahkan mampu menyebutkan nama pemain cadangannya sekalipun.

Awal kecintaan Daniel terhadap american football  adalah saat ia mendarat di Amerika Serikat untuk pertunjukan teater. Lalu, seorang kru memberinya kostum New York Giants. “Aku tidak tertarik saat itu,” ungkap Daniel seperti dikutip Yahoo.

Daniel lebih tertarik pada cricket hingga akhirnya ia melakoni perannya dalam teater yang lain. “Orang-orang mulai mengikuti fantasy league,” ucap Daniel, “Aku ikut pertunjukan selama delapan bulan, dan perlu sesuatu untuk mengalihkan perhatian Anda.”

Daniel pun ikut tantangan teman-temannya di fantasy league. Karena sifatnya yang tak ingin kalah, ia pun berusaha semaksimal mungkin. “Aku tak senang kalah, bahkan pada sesuatu yang aku tak mengerti. Jadi, aku mulai menyaksikan pertandingan dan benar-benar masuk ke dalamnya,” kata Daniel. Sejak saat itu, ia mulai memerhatikan american football lewat NFL.

Salah satu hal yang membuatnya meninggalkan sepakbola—sebagai warisan anak-anak di Inggris—adalah lebih atletisnya para atlet di NFL. Kepada The Guardian, pria yang berperan dalam The Woman in Black ini juga menyatakan sudah berhenti mendukung Fulham.

“Aku benar-benar mencintai American Football. Kemampuan atletiknya jelas ungul jauh ketimbang sepakbola Inggris, dan itu menarik untuk ditonton,” tutur Daniel, “Aku sudah tidak mendalami lagi sepakbola Inggris. Mereka terjatuh dan lalu menangis.”

Komentar tersebut muncul setelah ia merasa bersalah karena menghasilkan pendapatan yang begitu besar dalam perannya di Harry Potter.

“Aku dibayar begitu besar di film Harry Potter, itu menggelikan. Jika seseorang bertanya padaku, ‘apa kamu pantas mendapatkannya? Tidak, tentu saja. Tapi apakah Anda akan tetap mengambilnya? Ya, tentu saja. Aku melihat industri ini di mana banyak orang dibayar dengan jumlah yang menggelikan.”

Komentar Daniel tersebut berkaitan dengan besarnya pendapatan yang didapatkan pesepakbola, tapi hanya untuk “jatuh lalu menangis”. Di Inggris, sejumlah aktivis kerap mempertanyakan besarnya pendapatan bankir. Padahal, pendapatan pesepakbola juga tidak kalah besar.

Kritik Daniel nyatanya diamini oleh sejumlah pembaca The Guardian. Dalam opini yang muncul dalam kolom komentar, sejumlah orang setuju dengan pendapat Daniel. Bahkan, beberapa dari mereka merasakan hal yang sama: menonton rugby dan meninggalkan sepakbola.

Meskipun demikian, Daniel punya mimpi besar untuk menjadi “the next England football manager”. Dalam wawancara dengan Radio Absolute, Daniel mengaku kalau ia tidak benar-benar mengerti sepakbola. Ini karena ia kecewa dengan talenta yang dimiliki para pemain tapi disia-siakan dengan cara terjatuh.

“Saat mereka mulai terjatuh untuk mendapatkan penalti, itu seperti kecurangan yang luar biasa. Itu membosankan,” ujar Daniel.

“Apakah kau tertarik untuk menangani timnas Inggris?” tanya sang penyiar.

Daniel menjawabnya dengan cepat disertai tawa pada awalnya, “Ya, ya, aku akan melakukannya. Jika mereka menawarkannya, tentu aku akan mengatakan ‘yes’.”

“Aku tidak tahu apa-apa soal sepakbola, tapi aku mungkin bisa membuat perubahan,” kata Daniel.

Daniel mungkin terlalu berlebihan soal ketidaktahuannya soal sepakbola. Ini barangkali hanya merupakan bentuk ketidakpuasan Daniel terhadap isu-isu yang memang sudah menjadi topik pembicaraan di sepakbola.

Soal diving agaknya kita semua tahu bahwa hal tersebut makin marak dilakukan oleh pesepakbola. Semakin berkurangnya nilai-nilai gentleman dari pesepakbola membuat sepakbola, seperti kata Daniel, membosankan. Apa jadinya saat sebuah kesebelasan mesti berhenti menyerang hanya karena pemain depannya pura-pura terjatuh, tapi wasit tak memberi hadiah penalti? Kejadian ini, seperti kita tahu, terus berulang sepanjang waktu.

Selain itu, Daniel pun mengkritik besarnya gaji yang didapatkan pesepakbola. Daniel kemudian membandingkannya dengan organisasi sosial di mana ia pun terlibat di dalamnya. Daniel merasa malu karena sepatutnya ia tak pantas mendapatkan gaji sebesar itu.

Bagaimana dengan pesepakbola? Pantaskah seseorang yang kerjanya hanya “terjatuh dan menangis” dibayar 3 miliar rupiah setiap pekan?

Tapi tenang saja, meskipun begitu banyak kelemahan yang hadir di sepakbola, situs ini tak akan berganti nama menjadi “PanditAmericanFootball” kok.

Foto: topwalls.net

Komentar