Dosa-dosa Higuaín

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Dosa-dosa Higuaín

Bukan isu penting sebaik apa permainan Gonzalo Higuaín di perjalanan Argentina menuju final Copa America 2015. Tak penting seberapa besar atau seberapa banyak sumbangannya untuk keberhasilan kolektif mencapai partai pamungkas. Jika Argentina mencapai laga puncak maupun pertandingan penentuan sejenis, sebaiknya Higuaín duduk di bangku cadangan demi kejayaan kesebelasan.

Jika ada kesempatan berikutnya, Argentina sebaiknya belajar dari kesalahan. Di final Piala Dunia 2014 dan Copa América 2015 Higuaín ambil bagian dalam permainan, dan di kedua kejuaraan tersebut Argentina harus puas menjadi yang kedua saja. Higuaín tidak bermain di pertandingan medali emas cabang olah raga sepakbola Olimpiade Beijing 2008, dan Argentina memenangi pertandingan. Kebetulan? Real Madrid bilang tidak.

Higuaín memperkenalkan diri kepada para pendukung Real Madrid dengan cara yang cukup baik. Gol pertama Higuaín untuk Madrid adalah gol penyeimbang di pertandingan melawan Atlético Madrid, 24 Februari 2007. Di Estadio Vicente Calderón pula. Madrid selamat dari rasa malu di rumah tetangga berkat seorang pemuda yang baru bergabung dengan mereka dua bulan sebelumnya. Musim berikutnya, 2007/08, para pendukung Madrid menemukan alasan lain untuk mencintai Higuaín.

Sepanjang musim, Higuaín mencetak delapan gol dan tiga assist. Yang paling penting di antara sebelasan sumbangannya untuk Madrid, tidak lain dan tidak bukan, adalah satu gol dan satu assist di pertandingan melawan Osasuna pada pekan ke-35. Kedua sumbangannya membawa Madrid meraih kemenangan 2-1 dari kondisi tertinggal. Lebih jauh lagi, Madrid secara matematis tidak lagi mungkin terkejar berkat tambahan tiga angka dari pertandingan ini. Madrid juara (berkat Higuaín).

Namun Higuain tak mampu ternyata membawa Madrid juara di kejuaraan berbeda. Ya, memang ada satu gelar juara Copa del Rey dalam CV-nya. Namun patut dicatat bahwa Higuaín tidak bermain di final 2011. Di laga itu gol tunggal Cristiano Ronaldo di menit ke-102 membungkam Barcelona.

Pada final 2013 Copa del Rey, Higuaín bermain selama nyaris setengah jam. Dan dalam waktu yang singkat itu ia melakukan sebuah dosa besar. Kala itu, ia masuk dari bangku cadangan guna menggantikan Karim Benzema di menit ke-91. Skor sedang berada di titik sama kuat 1-1.

Tapi kaki-kaki segar Higuaín bukannya mencetak gol kemenangan Madrid. Sebaliknya, kaki-kaki itu malah dengan malas terangkat ketika Koke melepas umpan silang di menit ke-99. Saat itu Madrid dalam posisi bertahan, Bola kiriman Koke kemudian melayang tanpa hambatan hingga bersentuhan dengan kepala Miranda. Sebuah gol tercipta dan Atlético menjadi juara. Gara-gara Higuain yang malas menjaga Koke, cuma sekadar ngangkat asal-asalan, bola pun bisa dikirim mulus ke dalam kotak penalti.

Pindah ke Napoli setelah kekalahan dari Atlético, Higuaín langsung mencapai final Coppa Italia di akhir musim 2013/14. Ia bermain dan mencetak satu assist untuk gol kedua dalam tiga gol kemenangan kesebelasannya. Namun bukan berarti kutukan mengecewakan-ketika-dibutuhkan berakhir begitu saja.

Hingga pertandingan terakhir musim 2014/15, Napoli belum juga mengamankan satu tempat di zona Champions League. Di pekan terakhir mereka bertanding melawan Lazio yang memiliki tabungan angka dalam jumlah sama dan sama-sama mengincar posisi terhormat itu. Higuaín mencetak dua gol di menit ke-55 dan ke-64 sebagai balasan dari dua gol Lazio di babak pertama. Namun Higuaín juga melakukan kesalahan ketika gagal mengeksekusi penalti. Napoli kalah 2-4 dan harus rela mengakhiri musim di zona Europa League (karena dosa kecil Higuaín).

Dosa-dosanya yang paling terkenal dan paling banyak disoroti, bagaimanapun, ia catatkan ketika mengenakan seragam Argentina. Dua kali dalam rentang waktu dua tahun. Semuanya di partai final. Wajar jika kemudian publik Argentina akan mengingatnya.

Tahun lalu di Maracanã, Higuaín membuang begitu saja peluang gratis yang didapatnya dari Toni Kroos. Kesalahan Kroos membuat bola berada dalam penguasaan Higuaín yang berada paling dekat dengan Manuel Neuer. Pemain yang lahir di Brest, Perancis, ini juga berada setidaknya enam meter lebih dekat ke gawang Jerman dari pemain Jerman terdekat, Mats Hummels.

Alih-alih dengan tenang mengontrol bola dan memilih titik nyaman untuk membenamkan tembakan, Higuaín malah melepas tendangan tanpa mengontrol Brazuca Final Rio, tepat di garis batas kotak penalti. Neuer tidak menemui masalah karena bola tendangan Higuaín melebar. Jika saja Higuaín mampu memanfaatkan peluang tersebut, Argentina pasti sudah jadi juara dunia lewat gol tunggal. Jerman toh tidak mampu mencetak gol selama waktu normal.

Kemarin, Higuaín menorehkan dosa terbarunya. Bertentangan dengan opini publik, dosa Higuaín bukanlah kegagalan memanfaatkan peluang yang diciptakan Ezequiel Lavezzi di menit terakhir waktu normal; saat terbaik untuk membunuh lawan. Dengan sudut sesempit itu, kesalahan mudah terjadi. Sialnya kegagalan menaklukkan diri sendiri dan Manuel Neuer di Maracanã masih segar dalam ingatan dunia sehingga kegagalan wajar di Estadio Nacional dibesar-besarkan.

Higuaín tidak berdosa ketika gagal memanfaatkan umpan Lavezzi. Ia berdosa di adu penalti.

Setelah Matías Fernández dan Lionel Messi sama-sama berhasil melaksanakan tugas sebagai eksekutor pertama masing-masing kesebelasan, tugas besar berpindah tangan kepada Arturo Vidal dan Higuaín. Sementara Vidal berhasil menaklukkan Sergio Romero, Higuaín malah sama sekali tidak merepotkan Claudio Bravo.

Benar memang, Éver Banega sebagai penendang ketiga Argentina juga gagal mencetak gol. Namun setidaknya ia tidak menambah angka Argentina karena Bravo menggagalkan usahanya. Higuaín, tidak seperti para eksekutor lain yang mengambil kesempatan mereka hari itu, menendang bola jauh tinggi melewati tiang gawang.

Manusia adalah gudangnya salah dan dosa, katanya. Higuaín juga demikian. Namun ia seperti memiliki waktu pilihannya sendiri untuk mengecewakan massa. Seolah memang sudah takdirnya untuk selalu salah disaat penting. Jika memang benar demikian, seharusnya setiap pelatih kepala tahu di mana mereka harus menempatkan Higuaín pada pertandingan-pertandingan penentuan.

Lalu berbagai tuduhan pun datang. Yang paling menggelikan tuduhan ala (fans) Indonesia: dia dibayar Real Madrid untuk gagal menendang penalti supaya Messi gagal menjadi juara. Aya-aya wae. Ono-ono ae, bro.

Komentar