Ketika Derby Sarajevo Tak Berbahaya Lagi

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Ketika Derby Sarajevo Tak Berbahaya Lagi

Sarajevo adalah kota olahraga dan pusat olahraga di negara Bosnia Herzegovina. Di olahraga basket tidak ada pesaing serius dan hampir seluruh kota mendukung Bosna Royal. Klub asal Sarajevo ini berhasil berkuasa di Eropa pada 1979, saat itu Mirza Delibasic menjadi pemain paling terkenal di kota tersebut.

Tapi berbeda dalam olahraga sepakbola. Kota Sarajevo memiliki dua kesebelasan di satu kota, FK Zeljeznicar Sarajevo dan FK Sarajev. Dua kesebelasan ini dikenal luas dipenjuru kota Sarajevo. Bahkan setiap kali terjadi derby Sarajevo, kota itu akan terbagi menjadi dua warna, biru dan merah marun.

Zeljeznicar didirikan tahun 1921 yang dibentuk oleh para pekerja kreta api dengan citra liberal. Stasiun berada di lingkungan Grbavica dan kesebelasan didirikan di lingkungan itu. Grbavica dibuka untuk pemukiman selama era sosialis Yugoslavia dan stasiun kereta api dipindahkan ke tempat lain. Lingkungan itu didominasi oleh blok-blok apartemen, berada di bawah kendali penyerbuan dari perang saudara, sehingga banyak yang rusak. Selama invasi, tidak hanya muslim Bosnia, tetapi juga Serbia Bosnia dan Kroasia Bosnia penduduk yang hidup di lingkungan tersebuat.

Zlatko Topcic menggambarkan kondisi yang dimaksud dalam bukunya "Mimpi buruk di Sarajevo". Di era pasca-perang, lingkungan itu relatif mampu mempertahankan struktur etnis campurannya. Saat ini, stadion terletak di tengah-tengah pemukiman, sedangkan pusat kesebelasan Zeljeznicar dan Fasilitas pelatihannya berada di sebelahnya.Dan kesebelasan rival, FK Sarajevo didirikan oleh para pemimpin lokal dari kalangan komunis Yugoslavia di tahun 1946.

Derby Sarajevo telah dimainkan lebih dari 100 kali, dengan rasio menang-kalah hampir sama. Asim Ferhatovi?, Josip Katalinski, Ivica Osim, Safet Susic, adalah beberapa nama pesepakbola besar yang telah tumbuh di dua kesebelasan tersebut.

Tentang rivalitas dalam sepakbola, anda bisa membaca banyak artikel kami tentang tema tersebut. Dari rivalitas pemain yang seru dan membangkitkan kreativitas, rivalitas kesebelasan dan laga-laga derby yang mengerikan hingga rivalitas antar suporter yang seringkali berdarah-darah dan mematikan, walau pun tak sedikit juga rivalitas yang bisa melahirkan kisah-kisah kemanusiaan yang menyentuh.

Di kota Sarajevo pun terkenal dua kelompok pendukung Maniaci dan Horde zla. Maniaci adalah kelompok pendukung kesebelasan sepakbola FK Zeljeznicar Sarajevo yang terdiri dari subkelompok seperti Blue Tigers dan Joint Union. Pemimpin yang paling berpengaruh di Maniaci adalah Dzevad Begic-Dilda, pahlawan yang tewas selama perang saudar di Bosnia tahun 1992. Saingan utama mereka adalah Horde zla, kelompok pendukung kesebelasan lainnnya di Sarajevo, FK Sarajevo.

Setiap pecinta kesebelasan Sarajevo mengangap dirinya sebagai anggota Horde zla meskipun mereka tidak punya ikatan keorganisasian. Salah satu pendukung melalui hasil penelitian dari University of Vienna mengungkapkan; Sebagaimana sesungguhnya, Horde zla bukan sebuah kelompok tapi nama mereka cenderung meniru kelompok-kelompok pendukung di Inggris.

Tapi di musim gugur 2007. Menjelang akhir musim 2006/2007, ada pemisahan dalam kelompok penggemar Horde zla. Sekelompok pendukung pindah dari tribun utara belakang gawang, Stadion Kosevo, ke tribun barat.

Para pendukung yang pindah ke sisi barat menyebut diri dengan Horde zla Zapad. Alasan mereka meninggalkan tribun lama disebabkan, pemimpin di tribun lama mereka memiliki hubungan terlalu dekat dengan para pengurus kesebelasan dan ia dieksploitasi atas hubungan tersebut. Pemimpin Horde zla mendapat uang dari klub untuk koreografi dan laga tandang, namun uang tersebut dihabiskan untuk kebutuhan pribadi dua belah pihak. Karakteristik lain dari Horde zla Zapad adalah jarak yang terus dijaga dengan manajemen kesebelasan sesuai tujuan pendiriannya.

Sedangkan untuk pendukung Zeljeznicar, Maniaci, pengertian "keanggotaan" lebih pasti dan jelas. Dan hal itu pun membuat mereka lebih atraktif ketika di tribun dengan kecenderungan mengadopsi pengemar sepakbola di Italia.

Maniaci lebih benci terhadap kesebelasan rival, yaitu FK Sarajevo, dibandingkan dengan sikap pendukung FK Sarajevo, Horde zla. Pendukung Zeljeznicar menanam kebencian setelah FK Sarajevo "mencuri" pemain mereka selama era pembentukan FK Sarajevo dan selalu didukung oleh elit perkotaan. Wacana anti FK Sarajevo dikembangkan oleh Maniaci dan menyebabkan wacana anti FK Zeljeznicar ikut berkembang di pihak Horde zla.

Meskipun kebencian ini ditekankan di antara para pendukung dan konsep kekerasan dan hooliganisme yang demikian mendorong, pada kenyataannya tindak kekerasan dari sepakbola tidak sesuai dengan wacana yang didengungkan. Apakah penggemar atau tidak, orang-orang dari Sarajevo mengklaim bahwa kehidupan berhenti di Sarajevo pada saat permainan derby dan bahkan roda tidak bekerja.

Bahkan tidak jarang melihat anggota keluarga yang sama ada di sisi yang berlawanan. Mereka tidak berbicara satu sama lain pada hari itu. Tapi ketika permainan berakhir, provokasi adalah sesuatu tradisi, taruhan aneh harus dipenuhi, dan semua orang akan menunggu yang berikutnya. Meskipun, insiden antara penggemar yang lebih muda dapat dilihat dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, menurut penelitian dari University of Vienna menyatakan beberapa pendukung dan beberapa penduduk Sarajevo menyadari bahwa tidak ada lagi perbedaan budaya, politik atau ekonomi antara kedua kelompok pendukung. Perwakilan dari kedua kesebelasan juga meminta pendukung untuk menjadikan sepakbola sebagai kompetisi yang adil. Mereka menekankan bahwa pertandingan harus menjadi perayaan sejati.

Gambaran tersebut pun menjadikan kisah kelam perseteruan di sepakbola Bosnia menjadi kisah lama yang harus ditinggalkan. Sebab mereka telah banyak belajar dari rasa sakit akibat perang saudara.

Komentar