Ludah & Sepakbola: Lebih Baik Ditanduk daripada Diludahi

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Ludah & Sepakbola: Lebih Baik Ditanduk daripada Diludahi

”Meludah adalah bentuk penghinaan martabat. Aku lebih baik ditanduk oleh lawanku daripada diludahi.” –Steven Gerrard.

Aksi saling meludah di dalam lapangan merupakan kejadian yang telah lama dan terulang berkali-kali. Aksi yang cenderung terlihat sangat menyerang ini dinilai sebagai aksi yang paling sangat menyerang dibandingkan aksi yang lain. Bahkan memuat atau cenderung menjurus pelecehan dan penghinaan.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan majalah FourFourTwo (FFT), meludahi lawan dinilai sebagai pelecehan paling buruk dalam sepakbola. Bahkan dianggap lebih buruk dari tindakan rasisme.

FFT melakukan jajak pendapat soal aksi ludah meludah ini menyusul insiden antara Papiss Cisse dari Newcastle United dan bek Manchester United, Jonny Evans, yang saling meludahi di Premier League, Kamis (5/3) dini hari WIB.

Pemungutan suara yang dilakukan kepada 123 pesepak bola di Liga Inggris dan Liga Skotlandia menempatkan tindakan tercela itu sebagai sesuatu yang sangat serius. 64 pemain merasa hal tersebut sebagai gestur paling ofensif di atas lapangan, lebih ofensif ketimbang rasisme (yang dipilih oleh 42 pemain), homofobia (yang dipilih oleh enam pemain), diving (yang dipilih oleh lima pemain) dan memukul (dipilih oleh lima pemain).

Jajak pendapat itu menegaskan betapa seriusnya rasa terhina akibat tindakan diludahi. Dalam kata-kata Gerrard di atas, itu tindakan yang sangat menghina martabat. Jangan heran jika ia lebih suka ditanduk oleh lawan ketimbang diludahi.

Tapi aksi ludah meludah ini terus saja terjadi. Apa yang terjadi antara Pappis Cisse dan Evans jelas bukan yang pertama juga bukan yang terakhir. Beberapa pemain top pernah melakukan tindakan hina itu.

Berikut beberapa insiden meludahi lawan yang pernah terjadi di lapangan hijau:

Frank Rijkaard vs Rudi Voller

Belanda dan Jerman merupakan musuh bebuyutan di ajang Internasional. Persaingan kedua negara ini begitu ketat, sehingga merasuki mental pemain sekelas Frank Rijkaard di Piala Dunia 1990. Kejadian itu bermula ketika Rijkaard di kartu kuning setelah menjegal Voller. Dengan tenang, Rijkaard meludahi Rudi Voller yang seperti berjalan dengan gembira di depannya.

Pertikaian kedua pemain pun masih berlanjut beberapa menit kemudian. Perselisihan dua pemain ini berimbas ganjaran kartu merah untuk kedua pemain, setelah sebelumnya Voller dan Rijkaard terlibat adu mulut yang kemudian dibumbui aksi diving Voller yang berpura-pura ditanduk oleh Rijkaard.

Hingga kini pun, kedua pemain sama sekali belum mau berdamai. Terutama Voller yang masih sangat sakit hati atas perlakuan meludah yang dilakukan Rijkaard.



Sinisa Mihajlovic vs Adrian Mutu

Sinisa Mihajlovic dikenal sebagai pemain yang lumayan temperamental. Beberapa menyebutnya punya kecenderungan rasis. Dalam lanjutan laga Liga Champions 2003/2004 melawan Chelsea, ia yang sedang memperkuat Lazio menunjukkan ketidakmampuannya mengontrol emosi dengan meludahi penyerang Chelsea, Adrian Mutu.

Mihajlovic pun akhirnya mendapatkan hukuman delapan larangan bermain dari UEFA karena meludahi dan menendang Mutu. Namun siapa sangka jika enam tahun kemudian, saat Mihajlovic menjadi pelatih Fiorentina pada 2010/2011, ia bertemu kembali dengan Mutu. Menariknya lagi, Mihijlaovic saat itu berstatus sebagai pelatih dan Mutu sebagai anak asuhnya.

090217084156-213-897

Francesco Totti vs Cristian Poulsen

Totti dan Poulsen terlibat insiden serius ketika Italia ditahan Imbang Denmark 0-0 di Euro 2004, Portugal. Saat itu, Il Capitano Roma ini terlihat meludahi Poulsen akibat kesal karena selalu diprovokasi Poulsen sepanjang pertandingan.

Akibat prilaku memalukan tersebut, Totti harus menerima hukuman larangan tampil di tiga pertandingan, yang juga membuatnya harus absen di semifinal. Pangeran Roma itupun mengakui jika ia belum dapat melupakan insiden yang sempat membuat namanya menjadi tercemar. Merasa bersalah atas Poulsen karena kelakuannya, Totti berharap bisa meminta maaf langsung kepada pemain Denmark itu.

Memohon maaf kepada orang yang telah disakitinya dan banyak tekanan terhadap dirinya, Totti pun berziarah di sebuah tempat di Roma Utara. Di sana terdapat patung Bunda Maria yang banyak dikunjungi oleh umat katolik. Di depan Bunda Maria, Totti berdoa agar semua kesalahannya bisa dimaafkan. Ia menulis doanya di sehelai kertas disertai seragam nomor 10 yang ia pakai saat melawan Denmark.

totti_poulsen

 Baca juga kumpulan cerita tentang Totti di luar lapangan

Fabien Barthez vs Wasit

Fabien Barthez dihukum enam bulan karena meludahi wasit ketika bermain untuk Marseille di laga persahabatan kontra WAC Casablanca di Maroko. Barthez mengaku menyesal, tetapi ia merasa tidak bersalah karena tidak meludah di bagian wajah.

Wasit Abdella El Achiri mengatakan dia akan melaporkan insiden itu kepada federasi sepakbola Maroko, seperti yang diberitakan harian olahraga L`Equipe.

"Saya agak kaget melihat Barthez menghampiri saya saat dia digantikan," kata El Achiri. "Dia mendekati saya, menghina dan meludahi saya," kata El Achiri.

Pertandingan itu dihentikan ketika percekcokan tersebut meletus pada menit ke-80, sementara tuan rumah klub Maroko itu sedang unggul 2-1, yang akhirnya kedudukan itu menjadi hasil akhir.

Jonny Evans vs Papiss Cisse

Striker Newcastke United Papiss Cisse dan bek Manchester United Jonny Evans sama-sama dianggap bersalah oleh Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) setelah terlibat dalam insiden saling meludah. Peristiwa itu terjadi saat Manchester United menumbangkan tuan rumah Newcastle 1-0 dalam partai Premier League, Rabu (4/3).

FA pun akhirnya resmi mengetuk palu untuk memberi hukuman larangan kepada Evans enam laga dan Cisse dihukum larangan bermain sebanyak tujuh laga. Evans sebenarnya meludah terlebih dahulu dan Cisse sayangnya membalas dengan tindakan yang sama kemudian. Insiden ini memang tidak terpantau oleh wasit Anthony Taulor saat pertandingan namun terekam dengan jelas di tayangan ulang.




Baca juga: Mengapa Pappis Cisse Dihukum Lebih Berat dari Johny Evans?

Komentar