Ketakutan yang Melahirkan Legenda

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Ketakutan yang Melahirkan Legenda

Rasa cinta Telmo Zarraonandia Montoya terhadap sepakbola mendapat penolakan sejak awal. Ayahnya merasa bahwa cukup dua kakak Zarra saja, Tomás dan Domingo, yang bermain sepakbola. Namun Zarra terus bermain dan bermain hingga ia mencetak salah satu gol paling penting sepanjang sejarah sepakbola Spanyol.

Pada 2 Januari 1950, Zarra mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan melawan tim nasional Inggris. Gol tersebut mengantar tim nasional Spanyol ke semifinal Piala Dunia, pencapaian terbaik mereka (hingga akhirnya pencapaian tersebut dilampaui pada tahun 2010). Reaksi ayah Zarra yang sedang menjalani kesehariannya sebagai kepala stasiun saat gol tersebut tercipta hanya “ah, Telmo”. Ia terus bekerja.

Selain satu gol ke gawang Inggris, Zarra juga mencetak ratusan gol lain sepanjang karirnya. Sebanyak 251 di antaranya ia ciptakan di La Liga saja; catatan terbanyak sepanjang masa hingga Lionel Messi melewatinya pada 22 November 2014. Putri Zarra, Carmen, menolak hal tersebut. Menurutnya, Messi tidak melampaui rekor ayahnya; Messi hanya mencetak lebih banyak gol.

“Messi mencetak lebih banyak gol namun tidak melampaui rekor Ayah. Rekor Ayah akan terlewati ketika seseorang mencetak 251 gol dalam 267 pertandingan, namun Messi membutuhkan 280 pertandingan,” ujar Carmen Zarra.

Jika Zarra masih hidup ketika putrinya berkata demikian, ia pasti sudah dengan penuh pengertian memberi tahu Carmen bahwa hal tersebut tidak perlu diucapkan. Zarra adalah sosok santun yang tidak pernah menghitung jumlah golnya sendiri. Ia mungkin tidak tahu bahwa 81 gol yang ia cetak di ajang Copa del Rey adalah rekor yang belum terpecahkan hingga saat ini.

“Telmo adalah atlet kelas dunia, namun sebagai manusia dirinya memiliki nilai yang tak terhingga. Setiap pemain Athletic mengetahui kebaikan hatinya. Ia adalah contoh luar biasa untuk semua orang. Ia adalah perwujudan semangat Athletic,” ujar José Ángel Iribar, penjaga gawang legendaris Athletic Club.

Sifat santun Zarra membuat Málaga menghadiahi dirinya dengan medali emas. Málaga tergerak untuk memberi penghargaan tersebut karena pada sebuah kesempatan dalam pertandingan melawan Málaga, Zarra membuang bola ketika dirinya tinggal mencetak gol ke gawang kosong. Zarra melakukan hal tersebut karena merasa secara tidak sengaja menendang penjaga gawang Málaga ketika ia melewatinya.

Baca juga: Mempersoalkan Anggapan Banyak Orang tentang El Clasico

Banyaknya gol yang ia cetak perlahan tapi pasti membentuk reputasi Zarra. Ia dikenal sebagai pemain hebat dalam duel udara (Saat Spanyol bertanding melawan Swedia di Stockholm, poster pertandingan mengajak penonton untuk menyaksikan kepala terbaik di Eropa setelah [Winston] Churchill; kepala Zarra, tentu saja). Selain itu, Zarra juga mendapat reputasi sebagai pemain yang berani. Ia tertawa karenanya. Wajar saja, mengingat saat kanak-kanak Zarra mendapat julukan Si Pemalu.

“Berani? Faktanya, sebaliknya. Ketika saya berusia 16 atau 17 tahun, yang saya pikirkan hanya menggiring bola. Namun kemudian saya menyadari sesering apa lawan menendang saya dan saya berkata ‘ini bukan untuk saya’. Saya menjadi praktikal. Alih-alih menggiring bola, saya mulai melepas tendangan dari segala arah demi membebaskan diri dari mereka. Pada dasarnya saya belajar menghindari lawan karena saya merasa takut. Ketika saya mulai bermain [secara profesional di Erandio, musim 1939/40] mereka mengolok-olok saya karena saya terlalu takut menyundul bola. Saya tidak tahu cara menyundul bola,” ujar Zarra.

Semua rasa takut Zarra membuatnya mencari cara lain untuk tampil maksimal tanpa harus melakukan kontak fisik dengan lawan. Ia akhirnya menguasai teknik melepaskan diri dari kawalan lawan dan penempatan diri di saat dan tempat yang tepat. Semua itu membuatnya mencetak ratusan gol, yang pada akhirnya membuat dirinya merasakan satu gelar juara La Liga, lima Copa del Rey, dan enam gelar El Pichichi (pencetak gol terbanyak musiman La Liga; belum dapat dikalahkan pemain manapun hingga saat ini).

Ya, dari rasa takut yang ingin dibebaskan, Zarra justru menjadi sosok yang menakutkan di kotak penalti lawan. Apa yang mulanya merupakan ketakutan baginya, berhasil ia bebaskan dan lepaskan, dan dengan itulah ia bisa begitu bebas dan lepas saat bersama bola -- dan apalagi saat berada di depan gawang. Di jantung pertahanan lawan, tak ada yang mencintai Zarra, yang ada ialah semua takut dengannya.

Jika kau bisa memilih, kata pemikir politik Italia yang termasyhur bernama Niccolo Machiavelli, "jauh lebih baik ditakuti daripada dicintai."

Komentar