Ini Penyebab Lapangan Stadion Nasional Singapura Masih Buruk

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Ini Penyebab Lapangan Stadion Nasional Singapura Masih Buruk

Singapura adalah sebuah negeri yang secara luas wilayah termasuk kecil. Namun, untuk hal ekonomi dan turisme mereka adalah negara raksasa, setidaknya di Asia Tenggara. Pembangunan infrastruktur yang pesat dan megah, menjadi magnet bagi turis (juga dana investasi) untuk mencicipi atmosfer negeri pulau nan kosmopolit itu. Bahkan Brazil (dan juga Jepang) pun rela menempuh ribuan kilometer untuk berujicoba sembari --tentu saja-- sedikit piknik.

Kemarin (14/9/2014), Brazil mengalahkan Jepang dengan skor telak 4-0 dalam sebuah laga ujicoba yang dilangsungkan di National Stadium. Ini stadion yang pada 30 Juni 2007 mulai dimodernisasi oleh pemerintah Singapura. Mereka mulai memasang atap di semua penjuru stadion, dan memperbaiki sejumlah bagian seperti mengecat tribun, dan memasang kursi. Mereka berusahan menjadikan stadion tersebut sebagai ikon, bukan hanya dari sepakbola Singapura, tapi sekaligus menjadi landmark Singapura itu sendiri.

Secara kasat mata, ada hal yang janggal dari stadion tersebut. Kala menjadi tempat penyelenggaan antara Jepang menghadapi Brasil, rumput Stadion Nasional terlihat gundul di beberapa bagian. Malah, bola pun terlihat sering memantul karena tanah yang tidak rata.

Lantas mengapa rumput Stadion Nasional gundul? Jurnalis harian Singapura Today, Adelene Wong, mencoba menjawab.

Rumput Stadion Nasional menjadi sorotan setelah pelatih dari dua kesebelasan menyatakan keprihatinannya soal keselamatan para pemain. Maklum, kemungkinan cedera akan lebih besar jika bermain di atas lapangan yang tidak rata.

Empat bulan setelah pembangunan stadion, permukaan yang berpasir masih menutupi hampir separuh lapangan.

Pelatih Brasil, Dunga, menyebut seolah lebih banyak rumput sintetis ketimbang rumput asli di atas lapangan.

“Timnas Brasil selalu ingin mencoba untuk membuat pertunjukan yang baik, tapi untuk melakukan itu semua, Anda harus berada dalam kondisi yang baik,” kata Dunga, “Permukaan lapangan meningkatkan kemungkinan bagi pemain untuk mendapatkan cedera, karena banyaknya pasir. Aku berharap permukaan yang berpasir tersebut tidak terlalu banyak menciptakan lubang di lapangan selama pertandingan.”

Wajar jika Dunga begitu detail memerhatikan kondisi lapangan. Ia tak ingin para pemain bintangnya cedera. Menjadi tugas Dunga agar pemain seperti Neymar, Kaka, Robinho, Oscar, dan Willian, masih diberi ijin oleh klub untuk memperkuat timnas.

Pun dengan pelatih Jepang, Javier Aguirre. Menurutnya masih terlalu banyak pasir di lapangan, dan hal tersebut dapat menyulitkan Jepang untuk menunjukkan penampilan terbaik.

Ini bukan kali pertama rumput stadion mendapat sorotan. Sebelumnya, pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, terpaksa tidak menurunkan Carlos Tevez dalam pertandingan menghadapi Singapore Selection, pada Agustus lalu. Alasannya sama: rumput.


Sumber gambar: todayonline

Kepala Operator Stadion, Oon Jin Teik, mengakui bahwa kondisi lapangan masih jauh dari ideal. Banyak hal yang masih perlu diperbaiki. Tim pengembang stadion menekankan, lapangan yang ditumbuhi rumput Desso GrassMaster seharga 800 ribu dollar Singapura ini, cukup aman.

Untuk mempercepat proses perbaikan, pengelola stadion menganggarkan 1,5 juta dollar Singapura untuk berinvestasi pada penerangan yang akan digantung semeter di atas lapangan. Cahaya dari penerangan tersebut dapat berperan sebagai cahaya matahari dan memastikan fotonutrisi tersebar ke seluruh penjuru.

Direktur Stadion Nasional, Greg Gillin, menyebut perlu waktu satu tahun untuk memahami kondisi iklim di area stadion. “Permukaan lapangan tidak seperti standar penyelenggaraan pertandingan internasional. Namun, kami telah bicara dengan perwakilan kedua kesebelasan, dan mereka telah bertanya untuk memastikan stabilitas permukaan.”

Sudah jelas?

Sumber gambar: straitstimes.com

Komentar