10 Hal Menarik dari Buku Terbaru Sir Alex

Buku

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

10 Hal Menarik dari Buku Terbaru Sir Alex

Tiga tahun telah berlalu sejak Sir Alex Ferguson pensiun dari jabatannya sebagai manajer Manchester United, di usianya yang sudah menginjak 73 tahun ini ia baru saja merilis buku terbarunya yang berjudul “Leading.”

Tidak seperti “My Autobiography” yang menjadi buku otobiografi terlaris di Inggris Raya pada Oktober 2013, bukunya kali ini yang ia tulis bersama Michael Moritz lebih banyak membicarakan bisnis dan manajemen yang bisa dibaca oleh orang-orang yang bahkan tidak tertarik dengan sepakbola.

Sekarang ini, Ferguson juga merupakan pengajar tidak tetap di Harvard Business School dan memiliki hubungan baik dengan komunitas bisnis, tapi sepakbola tetap menjadi landasan umum baginya dalam berbagi ilmu.

Ada beberapa kisah menarik yang bisa kita dapatkan dari buku terbarunya tersebut. Beberapa di antaranya akan kami bahas pada tulisan kali

Ferguson adalah seorang workaholic dan diktator

Ferguson sudah terkenal sebagai sosok yang senang bekerja secara berlebihan atau workaholic, dedikasinya terhadap pekerjaan sampai-sampai sangat detail.

“Kita akan mendapatan suatu hari yang normal dengan kehadirannya di lapangan latihan pada pukul 7 pagi sampai pukul 9; pada Hari Rabu, waktu selesainya akan lebih lambat karena ia bisa saja bersama tim utama untuk sebuah pertandingan, menonton tim cadangan (reserve), atau memantau pemain (scouting).

Ia juga selalu enggan untuk berlibur; kontrak memperbolehkannya cuti lima pekan selama setahun, tapi tidak sampai ia berusia 50 tahun ketika ia hanya baru mengambil tiga (pekan cuti) di antaranya,” seperti yang ditulis di The Telegraph.

Selain workaholic, ia juga mengakui bahwa ia adalah seorang diktator dengan tidak memungkiri mengenai pendekatan kepelatihannya yang otoriter di United. “Saya  selalu berhati-hati agar kontrol saya tidak direbut orang lain,” tulisnya. “Itulah kenapa saya menjual beberapa pemain yang mencoba mengambil alih kontrol dari saya... siapapun tanpa terkecuali.”

Memang di bukunya tersebut tidak ada nama yang disebutkan, tapi akan sangat sulit membaca kalimat di atas tanpa membayangkan wajah Roy Keane, David Beckham, atau Ruud van Nistelrooy.

Ia hanya punya empat pemain kelas dunia

Di bukunya tersebut, Ferguson mengatakan bahwa “Cristiano Ronaldo adalah pemain terbaik yang pernah bekerja bersamanya di Old Trafford”, menurut The Daily Mail. Tapi, ia juga mengatakan bahwa hanya Eric Cantona, Ryan Giggs, dan Paul Scholes yang selevel dengan Ronaldo.

“Jika Anda membaca berita atau mendengar komentator di televisi, sepertinya mereka terlalu mengumbar istilah pesepakbola 'world-class',” tulis Ferguson. “Saya tidak bermaksud untuk menjelekkan atau mengkritik beberapa pemain sepakbola terbaik yang pernah bermain untuk saya sepanjang 26 tahun karier saya di United, tapi hanya ada empat pemain yang berstatus ‘world-class’: Cantona, Giggs, Ronaldo, dan Scholes.”

Ia memang memuji gairah dan kualitas dari pemain-pemain lain seperti Bryan Robson, Roy Keane, dan Steve Bruce, tapi ia juga mengatakan bahwa mereka semua tidak seberbakat empat pemain kelas dunia tersebut.

Tidak ada pemain yang gajinya lebih besar daripada Ferguson

Dalam satu bagian di bukunya, ia mengungkapkan kejengkelannya dengan para direktur Manchester United atas kesepakatan baru yang diusulkan untuk Wayne Rooney ketika ia tergoda untuk pindah ke Manchester City.

Bagian tersebut menjelaskan bahwa pemain sebaiknya tidak boleh mendapatkan gaji yang lebih besar daripada dia.

“Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak berpikir itu adil bahwa Rooney harus mendapatkan dua kali dari yang saya dapatkan dan [joint-chairman] Joel Glazer segera berkata: 'Saya setuju dengan Anda, tapi apa yang harus kita lakukan?’ Itu sederhana. Kita hanya perlu sepakat bahwa tidak ada pemain yang dibayar lebih dari saya.”

“Akhirnya kami sepakat dalam waktu kurang dari yang dibutuhkan untuk membaca kalimat sebelumnya (maksudnya: kesepakatan didapatkan secara cepat sekali).”

Sir Alex menyukai Keluarga Glazer

Dari kesepakatan Ferguson dengan Keluarga Glazer di atas, kita bisa mengetahui bahwa ia memiliki hubungan baik dengan para pemilik “Setan Merah” yang berasal dari Amerika Serikat tersebut.

Meskipun pada kenyataannya kepemilikan Keluarga Glazer ini banyak yang ditentang oleh para suporter United, Ferguson dengan jeniusnya bisa menyenangkan kedua pihak dalam waktu yang bersamaan.

Di buku terbarunya, “Ferguson memiliki beberapa cara untuk menunjukkan dukungannya kepada sekelompok pemilik yang sebagian besar tetap dibenci oleh pendukung United,” kata The Telegraph. “Dukungannya didasarkan bahwa 'mereka tidak pernah bersembunyi' ... [dan] mereka tidak pernah berkata 'tidak' atau menolak untuk melakukan sesuatu yang saya peduli.”

Dia tidak menyukai (beberapa) agen

Ketika Ferguson memuji Jorge Mendes karena (menurutnya) selalu bertindak untuk kepentingan terbaik bagi kliennya, ada kata-kata keras untuk Kia Joorabchian (“Saya selalu merasa dia merekayasa langkah lain untuk Carlos Tevez”) dan Mino Raiola, yang merupakan agen dari Paul Pogba yang akhirnya pindah ke Juventus FC.

“Ada satu atau dua agen sepakbola yang saya tidak suka, dan Mino Raiola adalah salah satunya. Dia dan saya seperti minyak dan air. Saya tidak mempercayainya dari pertama saat saya bertemu dengannya.”

Beberapa pemain incaran yang lepas

Mantan manajer Aberdeen ini juga mengingat-ingat beberapa incarannya yang gagal ia datangkan ke United. Misalnya saja Didier Drogba yang dianggap memiliki harga yang terlalu mahal (25 juta euro); Thomas Müller yang sudah dipantau sejak usia 10 tahun ketika ia bermain untuk kesebelasan amatir di Jerman sebelum akhirnya “ditikung” oleh FC Bayern Munich; Ronaldo (Brasil) yang tidak jadi direkrut karena gagal memperoleh izin kerja; Robin van Persie yang gagal direkrut saat ia masih berumur 16 tahun; Mario Balotelli yang tidak jadi direkrut karena tidak ingin mengambil risiko; David Silva yang tidak jadi direkrut karena dianggap tidak bisa banyak berkontribusi saat bertahan; sampai Raphael Varane yang hampir direkrut ketika Ferguson sudah bersiap naik kereta dari London ke Lilla, sebelum akhirnya Zinedine Zidane “menikungnya” untuk membujuknya bergabung dengan Real Madrid CF.

David Moyes bukan pilihan pertamanya

Dalam bukunya mengenai Mourinho, jurnalis Spanyol, Diego Torres, mengklaim bahwa Mourinho menangis saat mengetahui bahwa David Moyes diumumkan menjadi pengganti Ferguson.

Menurut Torres, penunjukkan Moyes ini membuat Mourinho merasa dikhianati karena Mourinho sebenarnya menginginkan menjadi pengganti Fergie, di mana mereka memiliki hubungan pertemanan yang erat.

Namun, Ferguson mengatakannya secara berbeda di bukunya. Ia berkata bahwa Mourinho sudah terlebih dahulu memantapkan niatnya untuk kembali ke Chelsea ketika United mencoba mendekatinya.

Selanjutnya, Ferguson menulis bahwa ia sempat bertanya kepada Pep Guardiola namun ia lebih memilih menukangi Bayern Munich.

Tidak sampai di situ, beberapa nama juga sempat muncul sebelum Moyes, antara lain Carlo Ancelotti, Louis van Gaal, dan Jürgen Klopp, yang semuanya sedang tidak menganggur saat dihubungi. Pada akhirnya United memilih Moyes sebagai suksesor Ferguson.

Namun Ferguson tetap mendukung Moyes

Moyes mungkin dipecat kurang dari satu tahun dalam kontrak enam tahunnya di Old Trafford, namun Fergie menegaskan keputusannya untuk menunjuk Moyes adalah tepat.

“Setelah saya menyampaikan keputusan pensiun kepada Keluarga Glazer, maka proses mencari pengganti saya sudah dimulai sejak itu. Pada akhirnya kami memilih David Moyes,” katanya.

“Dia telah konsisten dalam pekerjaannya di Everton selama 11 tahun dan menunjukkan selera yang bagus. Sayangnya, entah kenapa semuanya tidak berjalan lancar untuk David. Padahal prosesnya sudah sempurna dan sudah baik.”

“Saya mengerti mengapa kritikus, terutama mengingat musim 2013/14, mengatakan kita harus menangani transisi dengan lebih baik. Saya hanya ingin David dan United menang, seperti yang saya lakukan hari ini dengan Louis van Gaal.”

Namun menurut Ferguson, Moyes memang melakukan satu kesalahan yang paling berdampak, yaitu keputusannya untuk memecat Mike Phelan (asisten manajer saat Ferguson pensiun) - yang disiapkan untuk menjadi “panduan berharga bagi berbagai lapisan di klub.”

Queiroz dan Giggs sempat disiapkan sebagai manajer United selanjutnya

Kekaguman Ferguson kepada manajer asal Portugal, Carlos Queiroz, yang sempat menjabat sebagai asistennya di United pada dua kesempatan terpisah, 2002 sampai 2003 dan 2004 sampai 2008, tidak ia tutup-tutupi.

Pada dua kesempatan terpisah dalam bukunya, Ferguson mengatakan bahwa Queiroz bisa menggantikannya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan Real Madrid dan kemudian kesebelasan negara Portugal.

Di dalam bukunya tersebut, Ferguson mengatakan bahwa dua keputusan Queiroz tersebut adalah “keputusan yang buruk yang berubah menjadi bencana baginya”. Setelah dua “bencana” tersebut, Queiroz melatih kesebelasan negara Iran sejak 2011 sampai sekarang.

Selain Queiroz, ternyata Ferguson juga menyiapkan satu kader lagi untuk menjadi manajer United. Ia bukan lain adalah Ryan Giggs, yang saat ini menjabat sebagai asisten Van Gaal.

“Ryan Giggs akhirnya akan menjadi manajer yang hebat,” tulis Ferguson. “Dia memiliki kecerdasan, pengaruh, dan pengetahuan.”

Dia juga mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan Giggs untuk menjadi stafnya... andai saja Giggs tidak memperpanjang kariernya sebagai pemain sampai usia 40-an.

Ferguson hampir melatih Inter

Ketika ia masih menjadi manajer Aberdeen pada tahun 1980-an, Ferguson sempat melakukan interviu dengan Wolverhampton dan juga FC Barcelona. Namun, ada yang lebih mengejutkan lagi.

“Menjelang akhir karier saya, saya sempat bertemu dengan wakil dari Massimo Moratti, pemilik Inter Milan,” katanya.

“Itu sempat berjalan lancar sampai-sampai dia menunjukkan kepada saya daftar pemain yang mereka ingin beli dan jual. Namun sejujurnya saya tidak akan pernah bisa membujuk (istrinya) Cathy untuk pindah ke Italia.”

Andai saja ia pindah ke Italia, mungkin sejarah Manchester United akan berubah total dari yang kita ketahui sekarang.

Sumber: The Telegraph, The Guardian, Daily Mail, ESPNFC, Mirror, The Week, Talk Sport

Komentar