Siapa, Sih, Bradford Itu?

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Siapa, Sih, Bradford Itu?

Melayangkan kritik kepada para pemainnya sendiri bukanlah kebiasaan José Mourinho. Jika tidak mengarahkan perhatian media kepada dirinya, Mou pasti menyalahkan pihak lain seperti wasit atau kesebelasan lawan. Namun semalam ia berbeda.

Tertinggal dua gol, Bradford City AFC mencetak empat gol balasan. Tak hanya menang dan melaju, Bradford membuat para pemain Chelsea menerima kemarahan Mou. Karenanya, Bradford pantas disebut istimewa.

“Saya bahagia untuk Bradford. Dalam suasana hati saya yang buruk mengenai pertandingan dan hasilnya, saya dapat menemukan ruang untuk merasa bahagia bagi Bradford. Namun di lain pihak saya merasa malu,” ujar Mou dalam konferensi pers pasca pertandingan.

Karena kalah dari kesebelasan yang menurutnya memiliki tingkat kemampuan lebih rendah, Mou berkata bahwa para pemain Chelsea seharusnya merasa malu seperti dirinya. Mou juga tidak menarik ucapannya di hari Jumat, dalam sesi konferensi pers pra pertandingan.

“Saya ulangi kata-kata yang saya ucapkan [pada hari Jumat] dalam konferensi pers: ‘jika kami kalah, itu memalukan’. Bagi saya, kalah dari kesebelasab yang berasal dari divisi yang lebih rendah tidak dapat diterima. Jika saya adalah Anda [seorang reporter], saya akan melayangkan kritik pedas kepada Chelsea, manajernya, dan para pemainnya,” tambah Mou.

Bradford saat ini berkompetisi di League One, tingkat ketiga dalam piramida sepakbola Inggris. Mereka kini sedang berada di posisi ketujuh di divisinya. Itu artinya, ada 49 tim yang memisahkan Chelsea dengan Bradford di Premier League, Championship, dan League One.

Kemenangan Bradford ini semakin mengejutkan karena mereka bukanlah tim yang memiliki tren positif di ajang Piala FA. Satu-satunya gelar Piala FA (sekaligus satu-satunya major trophy yang mereka miliki) milik Bradford mereka dapatkan pada tahun 1911, saat Chelsea baru berusia enam tahun dan saat sepakbola Inggris belum sekompetitif saat ini.

Bradford juga sudah lama absen dari putaran keempat Piala FA. Terakhir kali mereka melaju sejauh ini di Piala FA terjadi pada musim 1999/2000. Saat itu, langkah Bradford terhenti oleh Gillingham FC.

Bradford adalah tim kecil. Umur mereka saat ini adalah 112 tahun dan 77 tahun di antaranya mereka habiskan di luar divisi teratas. Setelah meraih promosi pada tahun 1999, Bradford hanya bertahan selama dua musim di Premier League.

Fakta lain yang menegaskan status Bradford sebagai tim kecil adalah rekor transfer mereka. David Hopkin, pemain termahal sepanjang sejarah Bradford didatangkan dari Leeds United seharga 2,5 juta pound sterling saja pada bulan Juli tahun 2000.

Namun kecil tak berarti tidak berani. Dalam pertandingan semalam, 53% penguasaan bola adalah milik Bradford. Jumlah tembakan tepat sasaran yang dilepaskan kedua kesebelasan pun sama, enam kali. Bradford malah lebih efektif karena hanya mencatatkan dua tembakan melenceng, sementara Chelsea memiliki sembilan.

Semua itu terasa semakin manis karena Bradford berhasil membuat keunggulan dua gol Chelsea menjadi tidak berarti. Dua gol dari Gary Cahill (menit ke-21 dan Ramires (38), dibalas lewat Jon Stead (41) dan Filipe Morais (75). Bahkan setelah berbalik unggul dengan delapan menit tersisa (Andrew Halliday, 82), Bradford tidak bermain negatif. Mereka mengambil risiko dengan terus keluar menyerang. Hasilnya, Mark Yeates mengunci kemenangan Bradford pada menit ketiga di masa injury time.

Bradford melaju sementara Chelsea harus menanggung malu.

Tak banyak yang bisa membikin Mou merasa "bahagia" saat dirinya justru sedang dipermalukan. Tapi Bradford sanggup melakukannya dengan cara yang luar biasa dandy dan klimis: tertinggal 0-2, lalu mencetak empat gol balasan, dan itu dilakukan di Stamford Bridge.

Sebuah suguhan luar biasa yang diberikan sepakbola. Inilah sisi menakjubkan sepakbola, kali ini dihadirkan oleh dan melalui Bradford.

Baca juga:

Mourinho Bagaikan Kacang Lupa Kulitnya


Aksi Tutup Mulut Mourinho di Ruang Ganti


Dianggap ‘Sotoy’, Mourinho Diceramahi Profesor Sejarah

Komentar