Dunga Tak Kuasa Terus Tinggalkan Roberto Firmino

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Dunga Tak Kuasa Terus Tinggalkan Roberto Firmino

Flappy Bird yang belum lama ini sempat sangat populer adalah permainan yang unik dan menarik. Setidaknya bagi saya. Cara memainkannya sangat sederhana namun di saat yang bersamaan begitu sulit. Dan kunci kesuksesan dalam permainan ini (lagi lagi setidaknya bagi saya) ada di angka yang terpampang di bagian atas layar; jangan pernah memperhatikannya.

Sudah cukup sering saya melaju sangat jauh dan langsung gagal begitu menghabiskan sepersekian detik saja untuk melirik pencapaian yang telah saya torehkan. Abaikan score dan Anda akan sukses; perhatikan itu, dan Anda akan gagal.

Hal yang kurang lebih sama terjadi kepada gelandang serang TSG Hoffenheim, Roberto Firmino. Sejak meninggalkan tanah airnya, Brasil, pada tahun 2010 lalu, Firmino selalu memeriksa daftar nama yang dipanggil ke tim nasional. Selama itu tak pernah sekalipun ia mendapati namanya terpampang. “Saya selalu memeriksa daftar nama yang dipanggil tim nasional,” ujarnya kepada Globo.

Kondisinya berbeda kali ini. Tidak sama sekali ia memiliki niat untuk melihat siapa saja yang dipanggil oleh Dunga untuk menjalani dua pertandingan persahabatan melawan Austria dan Turki. Justru saat itulah namanya ada di daftar pemain.

“Namun untuk kali ini saya tidak melakukannya! Saya ingin berlari, berteriak-teriak di rumah – ini adalah impian yang menjadi nyata. Ini sangat penting bagi saya dan ini luar biasa,” lanjutnya.

Bukan karena Firmino mulai berhenti berharap dan menunggu datang gelap, seperti sosok yang kisahnya diangkat oleh Sheila on 7 ke dalam lagu berjudul “Berhenti Berharap”. Tidak pernah sekalipun Firmino menyerah. Kebetulan saja ada hal lain yang lebih penting baginya saat hari pengumuman; sang ayah merayakan ulang tahun ke-53.

“Hari pengumuman bertepatan pula dengan ulang tahun ayah saya. José Roberto berulang tahun ke-53 dan kemudian saya menerima panggilan,” ujarnya masih kepada Globo. “Saya selalu berharap. Para penggemar sepakbola Brasil tidak sempat mengenal saya namun mereka akan bertemu dengan pria yang ceria, penuh tawa, seseorang yang serius di lapangan dan seorang petarung, seseorang yang memiliki semua kualitas hebat khas Brasil.”

Apa yang diucapkan oleh Firmino bukanlah bualan. Para penggemar Bundesliga tahu benar bahwa Firmino memang Brasil banget. Pergerakan pemain berusia 23 tahun ini begitu natural. Perayaan golnya selalu tampak tidak direncanakan namun tetap dipenuhi keceriaan. Mengenai kualitas permainan, torehan gol dan assist-nya di Bundesliga musim lalu boleh dijadikan acuan.

Musim 2013/14 boleh dibilang merupakan musim terbaik Firmino. Di Bundesliga saja ia berhasil mencetak 16 gol dan 12 assist. Tak mengherankan, karenanya, jika situs resmi Bundesliga memberi penghargaan Breakthrough of the Season kepada pemain yang didatangkan dari Figueirense tersebut.

Firmino akan menjalani pertandingan bersejarah. Debut untuk tim nasional Brasil.  Entah pada 12 November saat melawan Turki atau ketika dijamu oleh Austria enam hari setelahnya. Namun itu tidak penting. Lewat pemanggilan ke tim nasional saja kerja kerasnya sudah terbayar. Dan yang bahagia bukan Firmino saja.

“Kami selalu mengatakan bahwa Roberto memiliki semua hal yang dibutuhkan untuk dipanggil ke tim nasional. Kami sangat bahagia untuknya dan menyambut pemanggilannya sebagai penghargaan untuk kerja keras semua pemain di klub,” ujar Alexander Rosen, sporting director Hoffenheim, sebagaimana dikutip oleh situs resmi Bundesliga.

Ucapan Rosen diamini oleh Firmino sendiri. “Pemanggilan tim nasional datang sebagai hasil dari kerja keras Anda bersama klub. Jika kami bermain baik di sini, kami akan menarik perhatian pelatih-pelatih kami di tim nasional,” ujarnya kepada Bild.

Meninggalkan Brasil di usia yang sangat muda dan dari sebuah klub yang berkompetisi di kasta kedua, Firmino tak sempat membuat orang-orang Brasil mengenal dan memujanya. Sekarang, ia memiliki peluang itu. Jika di tim nasional ia mampu menampilkan permainan yang ia tunjukaan bersama Hoffenheim, maka Dunga tak memiliki alasan untuk mengedepankan para langganan tim nasional atau para pemain yang bermain di klub yang lebih besar.



Komentar