Bukan Salah Rumput Buatan

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Bukan Salah Rumput Buatan

Imbang melawan Myanmar pada pertandingan pembuka Grup B di AFF U22 2019 tentu bukanlah hasil yang diinginkan Indonesia. Garuda Muda sadar bahwa pertandingan pertama yang digelar Senin (18/2) memiliki peran krusial dalam menentukan keberhasilan mereka selama turnamen.

"Kami optimis bisa menang. Kemenangan ini akan sangat penting sebagai motivasi di laga-laga selanjutnya," kata gelandang Indonesia, Osvaldo Haay, beberapa hari sebelum pertandingan.

Hal serupa juga diutarakan Indra Sjafri selaku pelatih yang menjanjikan penampilan menyerang untuk meraih kemenangan atas Myanmar. "Kami sudah jauh-jauh ke sini [Kamboja], tentu targetnya menang," kata Indra.

Indra berhasil memenuhi janjinya, Indonesia memang terus berusaha menyerang Myanmar sepanjang pertandingan. Namun pada akhirnya target tiga poin yang dicetuskan Osvaldo gagal tercapai. Menanggapi penampilan tim nasional, beberapa penggemar sepakbola Indonesia merasa kondisi rumput Stadion Nasional Kamboja menjadi alasan utama kegagalan Garuda Muda.

Rumput sintetis atau buatan yang digunakan di stadion tersebut sebelumnya sudah diprotes Pelatih Thailand, Bruno Gama. Menurut Gama, permukaan keras pada lapangan menjadi alasan utama beberapa pemainnya cedera saat menghadapi Timor Leste di Grup A.

Cedera memang menjadi salah satu `efek samping` dari lapangan dengan rumput sintetis. Laporan Michael Meyers dalam American Sports Journal tahun 2013 juga mendapatkan hasil yang sama. Lapangan dengan rumput sintetis lebih sering menimbulkan cedera dibandingkan alami. Pada pertandingan melawan Myanmar, Indra Sjafri juga terpaksa mengganti Witan Sulaiman dan Samuel Simanjuntak setelah keduanya mengalami kram.

Meski demikian, bukan berarti rumput sintetis Stadion Nasional Kamboja bisa dikambinghitamkan atas kegagalan Indonesia meraih tiga poin melawan Myanmar. Rumput sintetis bukan barang baru di dunia sepakbola, termasuk Indonesia. Setidaknya sejak 2015, lapangan-dengan rumput sintetis sudah ada di Indonesia. FIFA bahkan mengucurkan dana 5,5 miliar rupiah untuk membangun lapangan di daerah Sawangan, Depok.

Beberapa kesebelasan di Indonesia seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung sudah mulai terbiasa dengan rumput sintetis. Persija memindahkan tempat latihan mereka dari Lapangan Halim Perdanakusuma ke Aldiron demi membiasakan diri dengan jenis rumput tersebut. Barito Putera kabarnya juga ingin mencoba rumput tersebut. Sementara tim nasional merupakan pihak pertama yang punya lapangan dengan jenis rumput sintetis di Indonesia.

Lapangan Sawangan yang dibangun menggunakan dana FIFA adalah salah satu tempat pemusatan latihan milik PSSI. Lapangan C Senayan yang juga menggunakan rumput sintetis menjadi tempat pertandingan internal timnas U22 selama pemusatan latihan. Hal tersebut dilakukan Indra Sjafri agar anak-anak asuhnya terbiasa main di rumput sintetis.

Kapten Indonesia U22, Andy Setyo, sebelumnya juga percaya diri bisa mengatasi kondisi rumput Stadion Nasional karena sudah terbiasa di Jakarta. "Selama latihan di Jakarta kami sudah terbiasa dengan kondisi [rumput] itu. Semoga juga bisa mengatasinya ketika tanding nanti," kata Andy.

Kondisi lapangan yang "buruk" disebut sebagai faktor utama kegagalan Indonesia meraih kemenangan. Tapi mereka sebelumnya sudah terbiasa ada di lapangan dengan rumput seperti itu. Lalu di mana masalahnya? Cedera? Betul rumput jadi salah satu faktor pemain cedera. Tapi, toh, Myanmar pun bermain di lapangan yang sama, dengan rumput yang sama.

Apabila mendengar perkataan lawan, arogansi jadi masalahnya. Hal tersebut diutarakan Pelatih Myanmar, Velizar Popov, seusai pertandingan. "Dalam sepakbola, kita sama-sama bermain dengan 11 pemain. Masalahnya, ketika ada yang meremehkan kami mereka akan kesulitan. Indonesia sedikit terlihat seperti itu. Mungkin karena dua tahun lalu mereka pernah mengalahkan kami 7-1," kata Popov.

Indra membantah anggapan tersebut. "Itu perasaan dia saja mungkin. Dulu pernah kalah 7-1 dan sekarang bisa seri, mungkin dirinya bangga dan mencari alibi," kata mantan pelatih Bali United tersebut.

Tapi jika menengok kembali pertandingan, perkataan Popov tidak sepenuhnya salah. Kata `arogan` mungkin terlalu agresif untuk Indra Sjafri. Namun dirinya mengaku bahwa para pemain Indonesia sempat kekurangan fokus di awal pertandingan. "Gol Myanmar lahir dari kesalahan kita yang kurang siap mengantisipasi pergerakan lawan," akunya.

`Kurang siap`. Ketika itu ada empat sampai pemain Indonesia berusaha mengawal pemain yang menguasai bola, dan tidak memperhatikan sekitar mereka. Gelandang Myanmar, Myat Kaung Khant yang tak terjaga di sisi kiri pertahanan akhirnya dengan mudah menceploskan bola ke gawang Garuda Muda.

Setelah kebobolan Indonesia yang sebelumnya baru satu kali melancarkan serangan berbahaya berusaha menekan. Biasanya, ketika Indonesia asik menyerang, pemain kehabisan stamina untuk mundur dan lini pertahanan menjadi longgar. Namun kali ini hal itu tidak terjadi. Hingga peluit panjang berbunyi, pemain-pemain Indonesia selalu siap menyapu dan merebut bola dari Myanmar. Hanya satu peluang karena `kurang siap` akhirnya harus rela mendapatkan hasil imbang.

Apa mungkin sebelum tertinggal Tim Garuda Muda merasa ada di atas angin? Mereka sudah latihan dengan lapangan dengan rumput sintetis sejak masih di Indonesia. Beberapa pemain yang diturunkan Indra Sjafri juga terlibat dalam kemenangan 7-1 di AFF U19 dua tahun lalu. Arogan? Entahlah. Jika ya, setidaknya pertandingan tersebut bisa mengembalikan para pemain ke bumi dan siap untuk laga berikutnya.


Saksikan video terbaru Kamar Ganti Pandit berjudul "Era Baru Timnas Indonesia?"

Komentar