Kita Harus Kecewa dengan Pertandingan Barcelona vs City

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kita Harus Kecewa dengan Pertandingan Barcelona vs City

Pertarungan antara juara bertahan La Liga Spanyol menghadapi tamunya, pemuncak klasemen sementara Liga Primer Inggris, berlangsung mengecewakan. Tiga gol dari Lionel Messi dan satu tambahan gol dari Neymar tentunya membuat Barcelona senang dan membuat City bersedih; namun bukan hasil pertandingan yang kami soroti, karena Barcelona menang dengan skor besar, 4-0, melainkan jalannya pertandingan.

Pertandingan ini tadinya menjanjikan pertarungan untuk mendapatkan dan memanfaatkan ruang, yang sebenarnya benar-benar tersajikan di awal laga. Pertandingan yang awalnya memiliki aroma taktikal yang kental antara Enrique dan Guardiola, pada akhirnya harus ternodai oleh beberapa insiden cedera, blunder, dan dua pemain yang terusir.

Dengan memainkan false nine, Guardiola menumpuk gelandang untuk menekan Barcelona sampai ke wilayah pertahanan mereka sendiri, sambil juga menutup jalur operan Barcelona melalui tengah.

Barcelona tidak mau kalah dengan meresponnya secara sabar dan konsekuen. Hal ini sempat membuat pertandingan ini diwarnai oleh adu taktikal yang menarik anatara Luis Enrique dan Pep Guardiola. (Baca analisis selengkapnya: Barca-City yang Akhirnya Ditentukan oleh Faktor Non-Taktikal)

Superioritas bukan ditentukan melalui banyaknya jumlah gol atau banyaknya penguasaan bola, Enrique dan Pep tahu betul tentang hal ini. Tapi melihat semua gol, insiden penalti, dan dua kartu merahpun adalah hasil blunder; ini yang membuat pertandingan tidak superior semalam.

Pada gol pertama misalnya, Fernandinho yang terpeleset membuat Messi leluasa mendapatkan ruang dan waktu bahkan sampai sempat mengecoh Claudio Bravo. Selanjutnya, sebelum babak pertama berakhir, Barcelona sudah melakukan dua pergantian pemain akibat Jordi Alba dan Gerard Piqué yang menderita cedera.

Yang mengecewakan lagi, saat itu City sedang tertinggal 1-0 dan dengan cederanya Alba dan Piqué (digantikan oleh Lucas Digne dan Jeremy Mathieu), dua pemain bertahan utama Barcelona, ternyata tidak membuat Guardiola mengubah taktik, setidaknya lebih menyerang dengan memasukkan Sergio Agüero.

Kemudian pada babak kedua Bravo melakukan “penyelamatan” dengan tangannya di luar kotak penalti, yang mana berdasarkan peraturan berarti menghasilkan kartu merah langsung.

Kehilangan Bravo menjadi sorotan untuk City. Mereka seperti kehilangan dua pemain sekaligus karena keterlibatan Bravo dalam membangun serangan maupun sweeper-keeper. Dengan keunggulan jumlah pemain, Barcelona semakin menguasai pertandingan.

Kevin de Bruyne, sang false nine, kemudian kehilangan bola saat transisi, blunder ini yang mengawali gol kedua Barcelona yang kembali dicetak oleh Messi. Beberapa saat kemudian back pass Ä°lkay GündoÄŸan berhasil disabet oleh Luis Suárez, ini menjadi blunder lainnya yang menghasilkan gol ketiga Barcelona, kembali dicetak oleh Messi yang sempat digosipkan bergabung dengan Pep di City.

Pertandingan terlihat seimbang dengan 10 pemain melawan 10 pemain saat Jeremy Mathieu mendapatkan dua kartu kuning berturut-turut pada menit ke-71 dan 73. Sebuah tindakan konyol yang tidak penuh pertimbangan – bisa disebut blunder lainnya.

Agüero malah baru masuk setelah itu. ketika City ketinggalan 3-0, meskipun jumlah pemain saat itu sama banyaknya.

Setelah itu, insiden penalti berawal dari kurang sigapnya City dalam menutup ruang Messi di defensive third mereka; penalti disepak dengan tidak sempurna oleh Neymar dan berhasil diselamatkan oleh Willy Caballero.

Kemudian akhirnya blunder terakhir diciptakan oleh pertahanan City lagi, saat itu Neymar berhasil mendapatkan ruang melalui dribelnya, melewati John Stones, dan membuat papan skor berubah menjadi 4-0.

Sempat diawali dengan pujian (atau psywar?) dari Guardiola, penonton netral seharusnya kecewa dengan pertandingan itu, pertandingan taktikal yang harus terganggu oleh cedera dan kartu merah, serta menghasilkan gol-gol dari blunder. Sampai-sampai pergantian pemainpun tidak ada yang bersifat taktikal, hanya merespon pemain yang cedera dan pemain yang mendapatkan kartu merah.

Hasi inilah yang membuat kepulangan Pep Guardiola (dan juga Claudio Bravo) ke Camp Nou menjadi tercoreng. Tapi kita boleh kembali berharap, kedua kesebelasan akan dipertemukan kembali pada matchday keempat 2 November nanti. Jadi, selamat menunggu… dan selamat memutar otak, Pep.

Komentar