Vietnam U-23 vs Indonesia U-23 : Bek Sayap Vietnam Disiplin, Indonesia Perlu Maksimalkan Area Tengah

Taktik

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Vietnam U-23 vs Indonesia U-23 : Bek Sayap Vietnam Disiplin, Indonesia Perlu Maksimalkan Area Tengah

Piala AFF U-23 memasuki babak puncak. Tim nasional (Timnas) Vietnam U-23 akan berhadapan dengan Timnas Indonesia U-23 di Rayong Provincial Stadium, Sabtu (26/8). Berstatus sebagai juara bertahan, Vietnam berpeluang menjadi negara pertama yang meraih gelar Juara AFF U-23 dalam dua edisi berturut-turut.

Di atas kertas, jelas, Vietnam U-23 unggul dari Indonesia U-23. Hal ini terlihat dari hasil pertandingan sepanjang kompetisi bergulir. Vietnam tak terkalahkan dengan catatan sembilan gol dan hanya kebobolan 1 gol. Sementara Indonesia lolos ke babak semifinal sebagai runner up terbaik, sempat kalah di pertandingan pertama, dan hanya mencetak lima gol dengan catatan kebobolan tiga kali.

Hasil tersebut bukan sebuah kebetulan mengingat Vietnam melakukan persiapan serius untuk AFF U-23 dan Kualifikasi Piala Asia U-23. Mereka membentuk dua tim untuk dua kompetisi tersebut. Tim pertama dipegang oleh Phillipe Troussier untuk Kualifikasi Piala Asia U-23 tahun 2024 sementara Hoang Anh Tuan bertanggung jawab mengolah tim kedua untuk AFF U-23. Demi hasil terbaik, Anh Tuan sudah melakukan pemusatan latihan sejak 29 Juli lalu.

Jika melihat persiapan dan perjalanan menuju babak Final, Timnas Indonesia U-23 berada di posisi yang tidak diunggulkan. Terlebih, Shin menjelaskan bahwa ia memiliki keterbatasan dalam memilih pemain. Sebab, hanya ada 15 pemain yang secara fisik siap diturunkan akibat banyak pemain yang dibekap cedera. Kemungkinan besar komposisi pemain yang ia turunkan tidak berbeda jauh dari yang ia tampilkan di semifinal.

Perkiraan Sebelas Pertama Vietnam dan Indonesia

Berkaca pada tiga pertandingan sebelumnya, Vietnam kemungkinan besar akan bermain dengan formasi dasar 3-4-2-1. Hoang Anh Tuanh menggunakan skema ini ketika melawan Laos dan Malaysia. Secara statistik, Vietnam mencetak delapan gol dan hanya kebobolan dua gol ketika bermain dengan skema ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat nyaman dan paham cara bermain dengan skema 3-4-2-1 berikut dengan detail-detail di dalamnya.

Di kubu Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dengan segala keterbatasannya kemungkinan besar tidak akan mengubah banyak sebelas terbaiknya. Tapi, untuk mengimbangi Vietnam, ada potensi Shin akan menggunakan sistem tiga bek dalam format dasar 3-5-2. Haykal yang bermain solid di babak semifinal kemungkinan besar kembali mendapatkan kepercayaan pelatih. Selain itu, masih ada Robi Darwis yang bisa mengisi posisi bek tengah atau gelandang bertahan. Pemain asal Persib Bandung tersebut punya nilai tambah dengan kemampuan lemparan jauhnya.

Redam dengan High Press

Berdasarkan penampilan pada tiga laga sebelumnya, Vietnam memiliki pertahanan dan serangan yang sama kuatnya. Kekuatan serangan Vietnam berpusat pada pergerakan tiga penyerang yang sangat cair. Hal ini didukung dengan keberanian bek sayap yang membuat Vietnam selalu unggul ketika melakukan kombinasi di area flank. Maka tidak heran jika Vietnam banyak mendapat peluang dari akselerasi bek sayap, early cross dari half space, atau umpan terobosan dari tengah setelah melakukan sirkulasi cepat di depan blok pertahanan lawan.

Hal ini menunjukkan bahwa Vietnam sangat berbahaya ketika memasuki area pertahanan lawan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Indonesia perlu mencegah Vietnam pada fase pertama build up. Struktur build up Vietnam adalah tiga gelandang dengan satu pivot (3-1). Tapi, jalur progresi mereka ke arah bek sayap, sehingga fungsi pivot hanya sebagai pengatur sirkulasi. Oleh karena itu, Indonesia bisa menerapkan high press dengan struktur tiga penyerang dan dua gelandang dengan fokus menutup jalur progresi ke arah sayap (3-2 / 3-4).


Dengan demikian, harapannya bek sayap Vietnam kesulitan mendapatkan bola dan ruang kosong. Sekaligus memaksa Vietnam melakukan progresi ke tengah atau umpan jauh. Pada situasi tersebut, peluang Indonesia merebut bola dan menghentikan serangan Vietnam semakin tinggi.

Memenangkan Lini Tengah

Meski peran bek sayap Vietnam sangat besar ketika menyerang, tapi mereka sangat disiplin untuk menjaga areanya. Hal ini yang membuat lawan kesulitan mencetak gol ke gawang Vietnam, sebab pertahanan mereka rapat di tengah tapi kelebaran tetap terjaga berkat bek sayap yang disiplin.

Jika mengincar dari proses transisi negatif (menyerang ke bertahan), Vietnam memiliki mekanisme transisi yang cukup rapi. Bek sayap yang meninggalkan posisinya tidak meninggalkan celah yang besar karena tiga bek dan satu gelandang bertahan menjaga area-area yang berpotensi menjadi taget serangan balik.

Peluang terbesar Indonesia untuk mencetak gol adalah dengan menciptakan keunggulan di area tengah. Bek sayap cukup mengikuti pergerakan bek sayap lawan sekaligus menjaga kelebaran. Lini tengah Indonesia secara natural unggul jumlah pemain sebab Vietnam hanya memiliki dua gelandang menghadapi tiga gelandang Garuda Muda. Jika Vietnam melibatkan para penyerang untuk mendukung lini tengah, Indonesia juga masih memiliki Sananta dan Abdul Rahman yang memiliki mobilitas tinggi.

Ketika berhasil menguasai lini tengah, harapannya Beckham dan Arkhan mampu mengeluarkan semua potensi kreativitasnya untuk menciptakan peluang. Frengky Missa dan Jeam Kelly Sroyer di area sayap secara natural tidak akan mendapat banyak ruang. Namun, jika muncul satu momen yang membuat mereka lepas, dua pemain ini berpotensi besar menjadi penentu kemenangan Indonesia.

Ikuti terus perkembangan dan nikmati konten eksklusif dari turnamen sepakbola terbesar di Asia Tenggara di akun resmi sosial media Piala AFF, @affmitsubishielectriccup dan @affu23championshipofficial.

Komentar