Ball Playing Goalkeeper : Kiper yang Dinilai dari Kakinya

Taktik

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ball Playing Goalkeeper : Kiper yang Dinilai dari Kakinya

Sejak sepakbola ditemukan, seorang penjaga gawang memang ditakdirkan untuk spesial. Kesan spesial bisa terlihat dari berbagai sudut, mulai dari yang kasat mata hingga hal yang lebih fundamental. Kiper merupakan satu-satunya pemain yang diperbolehkan menggunakan tangan. Oleh karena itu, mereka wajib menggunakan sarung tangan khusus sebagai pelindung. Dengan hak dan wewenang yang berbeda dengan pemain non-kiper, para penjaga gawang juga mengenakan seragam yang berbeda dengan warna rekan-rekan satu tim, lawan, kiper lawan, bahkan ofisial. Aturan ini juga diatur dalam Law of The Game yang diterbitkan oleh International Football Association Board (IFAB) yang berbunyi :

Law 4 : Players Equipment

  • “Setiap penjaga gawang harus memakai warna yang dapat dibedakan dari pemain lain dan ofisial pertandingan”
  • “Jika seragam kedua penjaga gawang memiliki warna yang sama dan tidak ada opsi warna seragam lain, wasit mengizinkan pertandingan untuk tetap dimainkan”

Meski spesial, tugas utama seorang penjaga gawang sangat sederhana, yaitu mencegah kebobolan. Lebih tepatnya mencegah kebobolan dari sepakan yang mengarah ke gawang. Mereka diperbolehkan menggunakan seluruh bagian tubuh untuk menuntaskan tugas tersebut selama berada di dalam kotak penalti. Aksi-aksi kiper menjadi sangat menarik ketika mereka berhasil menggagalkan bola-bola yang mengarah ke gawang. Baik dengan tepisan, tangkapan, tinjuan, dan aksi lain yang menggunakan bagian-bagian tubuh tak terduga. Maka tidak heran jika Rene Higuita menjadi salah satu legenda kiper berkat rutinitasnya menghalau bola menggunakan telapak kaki.

Seiring berkembangnya sepakbola, peran setiap posisi di sepakbola turut berkembang, tidak terkecuali bagi seorang penjaga gawang. Pada awal abad ke-20, kiper diizinkan untuk menangkap bola di manapun selama berada di area nya sendiri. Aturan ini diperbaharui pada tahun 1912 dengan hanya memperbolehkan kiper menggunakan tangan di area kotak penaltinya sendiri. Delapan puluh tahun kemudian, muncul aturan backpass. Aturan ini melarang kiper untuk menangkap bola yang berasal dari umpan kaki rekan. Secara tidak langsung, perkembangan peraturan di atas memaksa kiper untuk meningkatkan teknik olah bola yang lebih banyak melibatkan kaki.

Evolusi peran penjaga gawang juga dipercepat dengan perkembangan taktik. Mulanya, porsi kiper dalam taktik hanya pada fase bertahan saja. Taktik paling ekstrem sebatas maju ke kotak penalti lawan pada situasi bola mati, untuk mengejar ketertinggalan di penghujung laga. Tapi dengan berkembangnya taktik, porsi kiper menambah drastis hingga terlibat dalam semua fase (menyerang, bertahan, transisi, set piece).

Dampak dari evolusi peran penjaga gawang memunculkan berbagai tipe kiper yang dinilai berdasarkan atribut-atribut tertentu. Kemampuan menghalau bola (shot stopping), kemampuan menangkap (handling), refleks, aerial command, penalty saving, sapuan (sweeping), dan kemampuan distribusi merupakan atribut-atribut yang digunakan untuk mengukur kemampuan kiper. Dari atribut-atribut tersebut, distribusi menjadi atribut yang sangat diminati dalam sepakbola modern hingga muncul istilah Ball Playing Goalkeeper.

Definisi Ball Playing Goalkeeper

Ball Playing Goalkeeper (BPG) adalah penjaga gawang yang memiliki kemampuan melakukan distribusi dan progresi bola. BPG juga sering dikategorikan sebagai varian atau pengembangan dari sweeper keeper (kiper yang gemar keluar dari kotak penalti untuk menyapu bola). Kedua tipe kiper ini sama-sama memiliki insting, visi permainan, dan kemampuan membaca arah bola. Bedanya, BPG tidak sebatas “menyapu bola”, tapi melakukan progresi dengan akurasi umpan yang lebih tinggi dan jangkauan yang lebih jauh. Maka dari itu, BPG sering dilibatkan dalam fase build up bagi tim yang memiliki prinsip permainan penguasaan bola.

Meski banyak terlibat dalam proses serangan, BPG tetap bertanggung jawab dalam mencegah kebobolan. Sejauh ini, tidak banyak BPG yang memiliki atribut shot stopping istimewa. Atribut shot stopping dan distribusi seperti tidak bisa tumbuh secara sinergis.

Untuk menilai seorang BPG, kebijakan dalam pengambilan keputusan (decision making), komunikasi, pemahaman taktik, akurasi dan jangkauan umpan, kepercayaan diri, dan ketenangan menjadi indikator yang sangat penting. Oleh karena itu, seorang BPG lebih sering dinilai dari kakinya, bukan tangannya.

Peran Ball Playing Goalkeeper

Salah satu pembeda BPG dengan non-BPG adalah kontribusinya dalam fase build up. BPG dengan kemampuanya dalam distribusi dan progresi memberi keuntungan bagi tim untuk membangun serangan dari lini belakang. BPG memungkinkan untuk memainkan umpan pendek atau bola panjang yang akurat. Bahkan umpan-umpan panjang yang diarahkan tepat ke pemain tertentu daripada menendang lapangan sejauh mungkin. Dengan kehadiran BPG, tim memiliki lebih banyak opsi build up dan pilihan gaya bermain.

Secara taktikal, BPG sangat krusial untuk melawan strategi high press lawan. Pada fase build up, BPG bertransformasi menjadi pemain outfield tambahan yang aktif berkontribusi melakukan sirkulasi bola. Dengan demikian, secara natural akan tercipta situasi unggul pemain di sekitar kotak penalti sendiri. Situasi ini membuat high press lawan menjadi tidak efektif karena selalu ada opsi umpan tambahan berkat kehadiran BPG.

Dampak lebih lanjut, tim yang memiliki BPG secara natural membuat lawan menjadi ragu untuk menerapkan high press. BPG mampu memainkan berbagai umpan mulai dari umpan jarak pendek, sedang, maupun panjang. Kemampuan ini meningkatkan probabilitas keberhasilan build up karena lebih banyak opsi umpan dan lebih banyak pemain yang mampu melakukan distribusi bola secara vertikal. Situasi ini secara psikologis memberi tekanan pada lawan yang menerapkan high press karena berulang kali lepas dari tekanan yang mereka lancarkan.

Sama seperti kiper non-BPG, seorang BPG pada fase bertahan juga bertanggung jawab mencegah kebobolan. Keunggulan BPG ketika bertahan adalah kemampuanya membaca arah bola yang meningkatkan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Tidak berhenti di situ, BPG juga akan sangat berguna pada fase transisi positif. BPG akan meningkatkan probabilitas keberhasilan serangan balik. Sebab, BPG memiliki akurasi dan jangkauan umpan yang lebih baik dari non-BPG

Keuntungan dan Risiko Penggunaan Ball Playing Goalkeeper

Keuntungan utama tim yang memiliki BPG adalah pemain tambahan ketika fase build up. Dari perspektif taktis, pada fase build up lumrahnya akan tercipta situasi 10 lawan 10 (tidak melibatkan kiper). Berkat kehadiran BPG, secara natural menciptakan situasi overload (unggul jumlah pemain) di lini pertahanan tim sendiri. Secara tidak langsung, pada fase ini tercipta situasi 11 pemain lawan 10 pemain karena penjaga gawang lawan tidak terlibat dalam fase ini (tidak mungkin menjaga penyerang).

Keuntungan berikutnya adalah meningkatnya variasi build up yang berdampak pada variasi permainan secara keseluruhan. Andai lawan menerapkan high press dengan garis pertahanan tinggi sehingga tidak ada akses dari lini belakang untuk mengirimkan bola ke lini tengah. Pada situasi ini, tim yang memiliki BPG bisa lebih percaya diri untuk keluar dari tekanan dengan mengirimkan umpan panjang vertikal ke lini depan (tanpa melalui lini tengah). Maka dari itu, situasi ini sangat tepat untuk mengukur keahlian seorang BPG. Jika ia mampu mengirimkan umpan dengan akurat, maka kemungkinan besar tim akan menciptakan peluang dengan potensi gol yang tinggi.

Risiko terbesar dari seorang BPG tentu kebobolan dari salah mengoper atau menggiring bola. Meski demikian, risiko tersebut sangat bisa diminimalisasi dengan komunikasi dan pemahaman taktik.

Ball Playing Goalkeeper Terbaik dalam Lima Musim Terakhir

Gelar BPG terbaik dalam lima musim terakhir pantas dianugerahkan kepada penjaga gawang Liverpool asal Brasil, Alisson Becker. Peran nya sebagai BPG berkontribusi besar terhadap keberhasilan Liverpool meraih gelar juara Liga Inggris musim 2019/2020 dan Liga Champions musim 2018/2019. Sejak musim 2019/2020, secara rata-rata Alisson tercatat menjadi kiper dengan akurasi passing tertinggi di Liga Inggris. Salah satu musim terbaiknya adalah musim 2019/2020. Alisson melepaskan lebih dari 100 umpan progresi dan hanya enam umpan pendek yang tidak akurat.

Selain Alisson, terdapat beberapa BPG dengan kualitas di atas rata-rata dan mendekati Alisson. Di Liga Inggris ada Ederson yang sangat konsisten sejak dibesut oleh Pep Guardiola. Jangan lupakan juga Aaron Ramsdale, David Raya, dan Jason Steele. Mike Maignan di AC Milan juga memberi kontribusi besar kepada timnya ketika memerankan BPG. Marc Andre Ter-Stegen bersama Barcelona konsisten meski tidak lagi muda.

Komentar