Banks of England

Backpass

by Fahmin

Fahmin

Playing football with his hands. Writing and playing PlayStation.

Banks of England

Penjaga gawang identik dengan saves (penyelamatan). Sementara saves (tabungan) identik dengan bank. Maka penjaga gawang yang satu ini, Gordon Banks, rasanya sudah cocok antara nama dan profesinya. Pada 1980, dia juga merilis otobiografi yang berjudul Banks of England.

Sebagai pemain, nama Gordon Banks digdaya setelah membawa Inggris menjuarai Piala Dunia 1966 dan semakin masyhur karena aksi heroiknya menahan tandukan Pelé di Piala Dunia 1970. Namun bagi Stoke City, pemain kelahiran 30 Desember 1937 ini menempati ruang khusus di hati penggemar The Potters. Saat berkarier di Stoke City ia tidak hanya berhasil merengkuh kejayaan, namun sebuah insiden sempat pula merenggut kariernya sebagai pesepakbola.

Gordon Banks baru saja meraih trofi Jules Rimet (Piala Dunia) saat isu kepindahannya dari Leicester City berhembus. Kehadiran anak muda bernama Peter Shilton membuat Gordon Banks harus angkat kaki.

"Kami pikir hari terbaik Anda ada di belakang Anda, dan Anda harus melanjutkan [karier di tempat lain]," ujar Matt Gillies, Manajer Leicester.

Shilton yang saat itu masih berusia 18 tahun kabarnya mengultimatum manajemen Leicester. Jika Leicester tak menjamin tempat utama baginya, ia meminta dirinya untuk dijual. Akhirnya manajemen The Foxes memilih menjual Banks dan mempertahankan prospek dalam diri Shilton.

Liverpool, Manchester United, West Bromwich Albion, dan West Ham United menjadi kesebelasan yang menaruh minat pada kiper terbaik kedua abad dua puluh versi IFFHS ini. Kepindahannya ke West Ham hampir terealisasi. Ini tidak lepas dari faktor keberadaan kompatriotnya di Timnas Inggris seperti Bobby Moore, Martin Peters, dan Geoff Hurst di kubu The Hammers

Namun Ron Greenwood selaku Manajer West Ham sudah kadung membeli Bobby Ferguson dari Kilmarnock sehingga kepindahan Banks ke Upton Park urung terjadi.

Namun dalam pengakuannya, pemain yang memiliki 73 caps bersama Inggris ini sebetulnya berharap Liverpool akan merekrutnya. Pada saat itu The Reds asuhan Bill Shankly memang menjadi destinasi impian bagi pemain manapun. Pada sebuah laga Internasional ia bertemu dengan mantan pemain Liverpool, Roger Hunt, yang meyakinkannya bahwa kepindahannya ke Liverpool cuma masalah waktu.

“Jangan bergabung dengan kesebelasan manapun, sebab Bill Shankly akan mendatangimu,” ujar Hunt.

Bill Shankly memang menunjukkan ketertarikan yang kuat pada Banks, tetapi ketidakmampuannya meyakinkan dewan direksi Liverpool untuk menyetujui biaya transfer Gordon Banks, membuat transfer itu gagal terwujud.

Akhirnya Banks bergabung dengan Stoke City dengan nominal transfer 50.000 euro.

Bagi The Potters, Banks adalah legenda. Ia adalah bagian kesebelasan Stoke City saat mereka meraih gelar mayor pertamanya dalam sejarah setelah mengalahkan Chelsea di Wembley pada final Piala Liga Inggris 1972.

The Potters sedang memimpin 2-1 melalui gol Terry Conroy dan George Eastham saat back-pass Micky Bernard di ujung pertandingan hampir saja diserobot Christopher Garland dalam usahanya menyamakan kedudukan. Namun Banks dengan sigap menutup area dan melakukan tekel untuk mengamankan kemenangan kesebelasannya (di video di bawah, ditampilkan pada menit 9:30).

"Jika itu terjadi (gol), mungkin mengubah seluruh situasi."

Banks mengatakan bahwa aksi penyelamatan melawan Chelsea merupakan salah satu momen paling penting dan membanggakan dalam hidupnya, "Aku sudah bermain di dua final Piala FA bersama Leicester dan dua final Piala Liga, namun ini adalah momen terbesar dan membanggakan dalam karierku di sebuah kesebelasan."

"Bukan karena kami menang di final, namun karena Stoke sudah bermain lebih dari 100 tahun dan tidak memenangi apapun sebelumnya," imbuhnya.

Hampir 100 ribu fans Stoke merayakan keberhasilan Stoke dengan selebrasi tumpah ruah di jalan.

Namun kariernya di Stoke tidak hanya tentang pengalaman luar biasa, sebagaimana hakikat hidup yang hitam putih, sebuah insiden buruk sempat menghempaskan Banks ke titik nadir.

Pengalaman buruk itu terjadi pada 22 Oktober 1972, dua bulan sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke-34. Sebuah kecelakaan sempat menyudahi kariernya.

Melakukan perjalanan menuju Victoria Ground untuk melakukan terapi pada cedera bahunya. Ia kehilangan kontrol terhadap mobil Ford Consul yang sedang dikendarainya. Dia berusaha untuk menyalip mobil di tikungan tajam namun tabrakan dengan mobil van Austin A60 yang melaju dari arah berlawanan tak dapat dihindarkan.

Akibat kecelakaan tersebut, serpihan kaca melukai mata kanannya dan merusak retina. Ia setidaknya membutuhkan sekitar 200 jahitan termasuk 100 jahitan mikro di dalam rongga mata kanannya.

"Suatu hari aku mencondongkan tubuh untuk mengambil secangkir teh di meja samping tempat tidurku dan kaget karena tidak dapat mengambilnya. Saat itulah aku menyadari kenyataan yang terjadi."

"Aku berpikir, jika untuk mengambil secangkir teh saja aku tidak bisa, bagaimana mungkin aku akan menangkap bola lagi."

Banks sebetulnya tidak benar-benar pensiun dari sepakbola. Pada musim 1978/1979 ia sempat memperkuat Fort Lauderdale Strikers. Namun sejak insiden kecelakaan itu, semuanya tidak lagi sama bagi Gordon Banks.

Komentar