Dunia Benzema

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Dunia Benzema

"Kalau latihan ini cuma untukmu, aku akan menjadwalkan latihan di siang hari karena kamu datang pukul 10 dengan setengah tertidur kemudian pukul 11 kamu sudah bersiap untuk tidur lagi."

Menurut Marca, José Mourinho kerap memarahi Karim Benzema di depan rekan-rekannya karena sang pemain tak juga berbenah diri. Meski bertalenta luar biasa, pemain Timnas Perancis itu punya segudang masalah yang membuatnya lebih lekat dengan isu negatif.

Benzema sebenarnya eks wonderkid yang berhasil mencapai potensi maksimalnya. Digadang-gadang sebagai calon penyerang "kelas dunia" sejak dulu, kini Benzema bermain di salah satu kesebelasan besar dunia, Real Madrid.

Namun memang Benzema menjalani karier dan kehidupannya dengan serangkaian masalah. Hebatnya, serangkaian masalah menimpa tapi Benzema tetap jadi striker utama Real Madrid.

***

Awal kemunculan Benzema adalah ketika keran golnya mengalir di Olympique Lyonnais. Di usia 20 tahun dirinya sudah menjadi top skor Ligue 1 lewat torehan 20 gol dari 36 penampilan. Lyon sendiri merekrut Benzema pada 1996 karena sang pemain tampil luar biasa ketika membela kesebelasan kecil di Lyon, Bron Terraillon SC. Melawan Lyon di pertandingan U10, dua gol dicetaknya kala itu.

Promosi ke tim senior saat masih berusia 17 tahun, Benzema langsung menjalani debut. Gol belum akrab dengannya. Ketajamannya mulai muncul pada musim ketiganya. Pada 2008, musim di mana dia menjadi top skor, kesebelasan-kesebelasan besar mulai menggodanya.

Manchester United adalah salah satu kesebelasan yang diisukan paling tertarik mendatangkan Benzema. Manajer mereka waktu itu, Sir Alex Ferguson, tak sungkan untuk melontarkan pujian sekaligus keinginan untuk merekrutnya. Meski sudah memiliki Cristiano Ronaldo yang menjadi mesin gol United, bersama Carlos Tevez dan Wayne Rooney di lini depan, Benzema cukup menggiurkan sebagai pengganti nomor 9 yang ketika itu dimiliki Louis Saha.

Rekan setim Benzema, Jean-Alain Boumsong, memprediksi rekannya itu akan hijrah ke United. "Uang akan membuatnya pindah ke United. Kami tidak bisa menandingi United. Mereka kesebelasan terkaya di dunia."

Rumor itu didengar Presiden Lyon, Jean-Michel Aulas. Dia geram akan kehilangan pemain terbaiknya. Dia tidak rela Benzema ke United. "Oke. Jika mereka ingin Benzema, mereka bisa memberi kami uang [60 juta euro]. Lalu kami akan membawa Cristiano Ronaldo juga."

Beruntung bagi Aulas. Benzema tidak tertarik hijrah ke United. Pemain kelahiran 19 Desember 1987 itu lebih menyukai sepakbola Italia dan Spanyol. "Liga Primer Inggris tidak terlalu membuatku tertarik. Meski mereka punya banyak tim bagus, cara mereka bermain tidak membuatku tertarik."

Benzema membuktikan ucapannya. Alih-alih hijrah ke United, Benzema menandatangani kontrak baru untuk lima tahun berikutnya. Benzema langsung jadi pemain dengan gaji termahal Perancis kala itu. Namun hal itu membuatnya dicibir mata duitan mengingat usianya yang baru menginjak 20 tahun.

Kelegaan Aulas tak bertahan lama. Semakin banyak kesebelasan tertarik membeli Benzema. Apalagi setelah menjadi top skor, gol demi gol terus dicetaknya pada musim berikutnya. Kesebelasan-kesebelasan yang disebut memantau Benzema adalah Internazionale Milan, AC Milan, Real Madrid, Arsenal, dan Manchester City.

Tuttomercato memprediksi Inter akan mendapatkan penyerang Timnas Perancis tersebut. Selain karena Benzema diketahui menyukai sepakbola Italia, Inter yang butuh penyerang seperti Adriano Leite punya hubungan yang baik dengan Lyon. Sebelumnya Inter pernah membeli Jeremie Brechet dari Lyon, sementara pada musim panas 2007, Inter menjual Fabio Grosso ke Lyon.

Di saat yang bersamaan, David Trezeguet, eks penyerang Timnas Perancis, menantang Benzema untuk hijrah ke luar Liga Perancis. Menurut Trezegol, pengalaman bermain di luar Liga Perancis akan membuatnya semakin matang sebagai pemain depan.

"Melihat pergerakan dan fisiknya, dia calon penerusku. Tapi untuk menjadi lebih dewasa dibutuhkan pengalaman di luar negeri. Bagaimanapun, mencetak gol untuk Juventus dengan mencetak gol untuk Lyon bukan hal yang sama," ujar Trezeguet yang juga coba membujuk Benzema ke Juventus.

Benar saja, Benzema akhirnya meninggalkan Lyon. Tapi bukan United, Inter, atau Juventus. Real Madrid-lah yang berhasil mendapatkan salah satu talenta terbaik Perancis tersebut. Benzema tergiur pindah ke Madrid karena Los Galacticos jilid dua baru saja dibangun dengan mendatangkan Cristiano Ronaldo dan Kaka.

"Beberapa hari yang lalu, Karim Benzema memberi tahu Jean-Michel Aulas tentang keinginannya untuk bergabung ke Real Madrid sesegera mungkin. Dia ingin meraih kesempatan tawaran Real Madrid yang berisikan pemain-pemain kelas dunia. Olympique Lyon menerima keputusan tersebut dan transfer ini menyenangkan kedua belah pihak," tutur pernyataan resmi Lyon.

Keputusan Benzema memilih Real Madrid juga dipengaruhi jejak Ronaldo "Brasil" yang juga pernah membela Madrid. Benzema mengakui bahwa gaya permainannya mengikuti legenda Brasil tersebut.

"Ketika aku masih muda, cara Ronaldo `Brasil` bermain memengaruhiku. Buatku, dia adalah penyerang terbaik sekaligus pemain terbaik sepanjang sejarah. Aku menonton video-videonya, mencoba melakukan apa yang dia lakukan. Tentu itu tidak mudah. Itu tidak mungkin untuk melakukan sama persis seperti yang ia lakukan."

Benzema bersama idolanya, Ronaldo (via: Getty Images)

Memilih Real Madrid (dibanding United atau Inter misalnya) seolah menegaskan bahwa anak ke-7 dari 9 bersaudara ini memang mudah tergiur uang. Nama Benzema semakin tercoreng di Perancis. Padahal, seperti yang diakui Aulas, Benzema memilih Madrid karena memang ingin berseragam Madrid sejak lama.

"Dia ingin bermain untuk Madrid sejak lama. Ketika negosiasi berlangsung kami tidak ingin melawan keinginannya. Tawaran Manchester United sejujurnya lebih besar daripada Real Madrid. Namun kami memberikan kesempatan untuknya pergi ke tempat yang ia inginkan," ujar Aulas pada 2014.

Sebelum itu Benzema memang sudah kerap jadi kontroversi. Ketika dia ditanya soal alasan memilih Timnas Perancis, Benzema yang punya darah Aljazair ini memilih Perancis dengan alasan "olahraga". Publik menilai bahwa Benzema sebenarnya tidak mencintai Perancis. Mereka menilai Benzema memilih Perancis demi kepentingan kariernya semata.

"Sejak awal aku sudah berdiskusi bersama presiden dan pelatih. Kami berbicara tentang Aljazair yang merupakan negara orang tuaku, itu cukup di hatiku. Tapi demi aspek olahraga, ya, aku memilih Timnas Perancis. Bukan Aljazair. Sekali lagi, ini lebih karena aspek olahraga. Aljazair, orang tuaku datang dari sana. Perancis.... ini aspek olahraga. Itu saja," ujar Benzema pada RMC.

Publik Perancis makin mempertanyakan rasa nasionalisme Benzema ketika dirinya selalu tidak menyanyikan lagu kebangsaan Perancis—La Marseillaise—jelang pertandingan timnas dimulai. Bahkan meski kritik deras mengalir padanya, sampai-sampai muncul petisi penolakan keberadaan Benzema di Timnas Perancis, dia tetap bergeming untuk tetap pada pendiriannya, yakni tidak menyanyikan lagu La Marseillaise.

"Jika aku menyanyikan La Marseillaise tidak berarti aku akan mencetak hat-trick. Aku pikir itulah masalahnya. Aku tidak mencetak gol. Tidak ada yang harus aku lakukan. Kalian harus tetap tenang. Aku suka Timnas Perancis. Impianku bisa bermain di Timnas Perancis. Namun itu tetap tidak akan membuat aku menyanyikan La Marseillaise."

Persoalan ini sempat menjadi isu panas di Perancis. Benzema dibela Patrick Vieira yang juga kerap tidak menyanyikan lagu kebangsaan. Menurutnya, tidak menyanyikan lagu kebangsaan bukan berarti tidak mencintai negara.

"Aku tidak mengerti. Ini harusnya bukan masalah. Aku tidak menyanyikannya bukan berarti hatiku tidak berdebar. Lilian Thuram menyanyikannya, tapi itu bukan berarti dia lebih mencintai Perancis. Michel Platini juga tidak menyanyikannya."

Karena persoalan isu ini juga Benzema melontarkan pernyataan kontroversial. Menurutnya, banyak pihak yang tidak menyukainya karena dia keturunan Arab. "Mereka akan menyebutku orang Perancis ketika aku mencetak gol. Tapi ketika aku tidak mencetak gol, aku disebut Arab."

Di saat bersamaan, produktivitas gol Benzema sempat menurun. Pada musim pertamanya di Madrid hanya 9 gol ia koleksi dari total 33 penampilan. Tak heran dia kalah bersaing dengan Gonzalo Higuaín. Benzema mulai diprediksi akan menjadi Nicolas Anelka berikutnya, pemain Perancis yang gagal di Madrid.

Ketika tongkat kepelatihan berpindah dari Manuel Pellegrini ke Mourinho, Benzema masih dalam sorotan negatif. Namun meski Mourinho kerap mengkritik kebiasaan Benzema yang sering terlambat latihan, Mourinho tetap mengatakan bahwa Benzema pemain penting di skuatnya.

"Benzema mestinya mengerti bahwa dia adalah pemain yang sangat bertalenta. Namun itu saja tidak cukup. Aku membutuhkannya. Buatku, dia adalah pemain yang sangat penting tapi aku harus bisa memperbaikinya. Kami butuh seorang penyerang yang meledak setiap saat."

Di tangan Mourinho, Benzema menjadi lebih tajam. Total 26 gol dan 9 asis dicetaknya pada musim kedua di Madrid. Musim keduanya bersama Mourinho, atau musim ketiganya di Madrid, torehan golnya semakin bertambah dengan total 32 gol dan 19 asis.

Walau begitu, isu negatif masih menemani karier Benzema. Persoalan lain seorang Benzema adalah dirinya tidak bisa mengontrol berat badannya setelah libur kompetisi. Hampir setiap musim, jelang musim dimulai, Benzema kerap dikritik para pelatihnya, dimulai dari Mourinho, Laurent Blanc, hingga Zinedine Zidane, karena berat badannya yang berlebih hingga 7-8 kilogram.

Segala kritik yang dialamatkan pada Benzema dijawabnya di lapangan. Pemain bernama lengkap Karim Mustofa Benzema ini selalu mencetak lebih dari 20 gol. Apalagi perannya dalam trio BBC (Benzema, Bale, Cristiano) tak tergantikan. Meski golnya tidak sebanyak Ronaldo, tapi pengaruhnya pada lini serang Madrid sangat besar. Terlebih Benzema mulai rajin turun ke tengah lapangan untuk menjemput bola atau menjadi pemantul. Kemampuan tanpa bola adalah kelebihannya yang menyempurnakan trio BBC.

Akan tetapi lagi-lagi Benzema dirundung isu tak sedap. Kali ini ia terlibat skandal pemerasan pada rekan setimnya di Timnas Perancis, Mathieu Valbuena. Pada 2015, beredar rekaman obrolan antara Benzema dan Valbuena yang dalam rekaman tersebut Benzema disebut-sebut meminta sejumlah uang pada Valbuena agar video rekaman seks Valbuena tidak tersebar.

Benzema membantah telah melakukan pemerasan pada Valbuena. Menurut versinya, Valbuena merekayasa cerita tersebut untuk menjatuhkan kariernya.

Namun publik punya penilaiannya sendiri. Setidaknya, itu juga yang memengaruhi Didier Deschamps, Pelatih Timnas Perancis. Sejak kasus ini beredar, Deschamps tidak pernah lagi membawa Benzema ke timnas. Bahkan pada Piala Eropa 2016 yang digelar di Perancis, Benzema yang mencetak 28 gol dari 36 penampilan tetap tidak dibawa.

"Didied Deschamps dan Noel Le Graet (Presiden Federasi Perancis) telah bertemu untuk membahas situasi Benzema. Performa atlet adalah sebuah kriteria penting, tapi bukan kriteria eksklusif untuk Timnas Perancis. Kemampuan pemain bekerja sama, dalam grup, juga jadi syarat lain. Hasilnya, Noel Le Graet dan Deschamps memutuskan bahwa Karim Benzema tidak akan berpartisipasi pada Piala Eropa 2016," tulis situs resmi FFF.

Pada 2016, Benzema masih berusia 29 tahun, usia matang untuk seorang penyerang yang subur. Namun di usia itu pula Benzema mulai tidak lagi berseragam Timnas Perancis. Bahkan hingga Piala Dunia 2018, namanya tidak pernah ada lagi dalam jajaran penyerang Timnas Perancis. Terakhir kali Benzema membela Perancis adalah pada 2015. Piala Dunia 2014 adalah satu-satunya Piala Dunia yang ia ikuti.

"Tentu aku ingin bermain di Piala Dunia, aku ingin memenangi sesuatu dengan negaraku. Buntu. Kami bicara di telepon sebelum Piala Eropa dan dia tidak memberi penjelasan. Setelah itu dia berpaling dariku," ujar Benzema.

Tapi Benzema seperti sudah tahu caranya menghadapi tekanan. Ketika namanya di Timnas Perancis sudah tercela, di Real Madrid dia terus mencetak sejarah. Madrid dibawanya menjuarai Liga Champions Eropa tiga musim beruntun.

Ketajaman Benzema memang tampak menurun. Bahkan pada musim 2017/18 hanya 12 gol yang berhasil dicetaknya dalam satu musim (total 47 laga). Tapi Benzema tahu cara menyenangkan pelatih, yang ketika itu adalah Zinedine Zidane, sesama Perancis.

Dalam skema Zidane, Benzema bukan lagi si nomor 9 berinsting "pembunuh". Bersama Zidane dia lebih banyak mengintai di area bermain pemain No. 10, menampilkan kreativitasnya dalam mengkreasi serangan akhir, atau menarik penjaganya untuk menciptakan ruang. Singkatnya: ada peran besar Benzema di balik gelontoran gol Ronaldo. Transfermarkt mencatat torehan asis Benzema saat ini sudah mencapai angka 119 untuk Real Madrid dari 445 laga. Benzema mulai disebut salah satu penyerang yang mahir bermain sebagai false nine.

Walau begitu tak sedikit yang tetap menyangsikan kehebatan Benzema. Rumor-rumor kepindahannya berkali-kali menyeruak karena dianggap mulai mandul. Arsenal adalah salah satu kesebelasan yang paling getol dikaitkan dengan penyerang bertinggi 185 cm ini.

Anjing mengonggong, kafilah berlalu. Benzema tetap jadi andalan di lini depan Real Madrid. Bahkan ketika Cristiano Ronaldo hengkang ke Juventus sementara Gareth Bale berkutat dengan cedera, dia tetap bisa diandalkan. Kini dia jadi top skor sementara Madrid dengan 15 gol dari segala ajang. Real Madrid yang sempat tercecer di La Liga, kini menempati posisi ketiga, terpaut 10 poin dengan Barcelona.

Ketika banyak fans yang mulai pasrah atau kehilangan harapan pada Real Madrid musim ini, Benzema adalah pemain terdepan yang berusaha menjaga agar Madrid tetap berada di jalur yang benar. Pada laga melawan Espanyol di pekan ke-21 La Liga 2018/19, Benzema mencetak dua gol untuk kemenangan 4-2 Madrid. Dia tak memedulikan rasa sakit tangannya demi kemenangan tim.

***

Benzema punya dunianya sendiri. Benzema punya caranya sendiri dalam menjalani kariernya dengan luar biasa. Ketika banyak orang kehilangan harapan padanya, dia adalah satu-satunya orang yang percaya akan kemampuannya. Bahkan ketika banyak orang mulai membencinya, dia tetap menjadi Benzema yang dia inginkan.

"Aku ingin menunjukkan banyak hal lewat sepakbolaku. Aku juga ingin membantu rekan-rekanku untuk memenangi pertandingan. Sekarang aku sudah di sini selama 10 tahun, aku tahu klub dan rekan-rekanku membutuhkan pertolonganku di manapun, semampu yang aku bisa."

"Aku punya masalah dengan jariku dan ini sudah dibalut. Aku tidak akan melakukan operasi saat ini. Cukup sakit memang, tapi ketika di lapangan aku berusaha fokus pada sepakbolaku. Aku ingin mencetak gol, menciptakan asis, dan memenangi laga."

Baca juga: Meluruskan Salah Kaprah Istilah False Nine

Komentar