Peluit Akhir John Motson

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Peluit Akhir John Motson

Suara sepakbola. Dengan frasa itulah Gary Lineker menggambarkan John Motson—komentator sepakbola Inggris yang telah berkarier di dunia penyiaran sepakbola selama lebih dari 50 tahun.

Memang sebutan itulah yang paling mewakili sosok Motson. Suara Motson sangat akrab di telinga siapa pun yang sering menyaksikan pertandingan sepakbola Inggris.

Pada Minggu (13/5) pria berusia 72 tahun itu resmi mengakhiri karier di dunia penyiaran. Pertandingan Liga Primer Inggris antara Crystal Palace dan West Bromwich Albion menjadi pertandingan terakhir yang disiarkannya.

Sebelum menunaikan tugas terakhirnya, Motson sempat berujar ia akan bertugas tanpa mengenakan mantel kulit domba yang selalu membalut tubuhnya tiap kali menyiarkan pertandingan. Itulah ciri khas penampilan Motson.

Tidak ada alasan yang kelewat sentimental di balik keputusan Motson untuk tidak mengenakan mantel kulit domba di tugas terakhirnya. Kepada Independent, Motson menjelaskan akhir-akhir ini ia sering merasa gerah ketika mengenakan mantel tersebut.

“Sudah sangat gerah untuk mengenakan mantel kulit domba. Aku merasa sangat gerah ketika minggu lalu bertugas di Watford. Jadi jangan khawatir, mantel kulit domba kusimpan saja sekarang,” ujarnya.

Setelah pertandingan antara Palace dan West Brom tuntas, Motson memasuki lapangan untuk menerima penghargaan BAFTA Awards. British Academy Television Awards menganugerahkan penghargaan tersebut kepada Motson atas kontribusinya yang luar biasa di dunia penyiaran olahraga. Motson juga menerima trofi berbentuk mikrofon dari manajer Crystal Palace, Roy Hodgson.

Motson menerima semua penghargaan yang diberikan kepadanya dengan pernyataan singkat yang bersahaja. “Seperti semua orang tahu, komentator hanya suara di ujung sebuah proses yang sangat profesional dan rumit.”

***

Pada Oktober 1971, John Motson yang masih berusia 26 tahun mulai bekerja sebagai penyiar magang di BBC Television. Motson sudah punya sedikit pengalaman menyiarkan pertandingan sepakbola ketika masih bekerja di radio, namun di awal kariernya bersama BBC, Motson sempat sulit mendapat kepercayaan.

Pada suatu hari, setelah enam bulan bekerja, tugas pertama menyiarkan pertandingan datang juga kepadanya. BBC menugaskan Motson menyiarkan pertandingan di putaran ketiga Piala FA antara Hereford United dengan Newcastle United.

Itu bukan pertandingan yang menarik. Hereford saat itu merupakan tim kecil yang bermain di Southern League, sementara Newcastle tim Divisi Utama Liga Inggris. Banyak orang memprediksi Newcastle akan menang mudah atas Hereford.

Anggapan tersebut lenyap dalam pertandingan. Hereford mampu mengimbangi permainan Newcastle. Ketika kedudukan sama kuat 1-1, Hereford mampu membalik keadaan dengan mencetak gol kedua, tendangan jarak jauh indah yang dilesakkan Ronnie Radford.

Bola yang ditendang Radford melesat deras ke pojok kiri gawang Newcastle. Tak ayal para pendukung Hereford menyambut gol tersebut dengan meriah. Banyak penonton berhamburan ke lapangan.

“Oh, what a goal! What a goal! Radford the scorer, Ronnie Radford! And the crowd, the crowd in the pitch!” pekik Motson dari mikrofonnya menyambut gol tersebut.

Usai pertandingan antara Hereford dan Newcastle, karier penyiaran Motson di BBC mulai menanjak. Atasannya terkesan atas kinerja Motson di pertandingan itu, dan mulai percaya Motson mampu meliput pertandingan-pertandingan besar.

“Pertandingan itu telah mengubah hidupku, karena atasanku di Match of The Day akhirnya mulai menyadari bahwa aku bisa dipercaya untuk menyiarkan pertandingan besar,” kenang Motson kepada media Inggris, Express.

Lima tahun berselang, pada 1977, Motson mulai menyiarkan pertandingan final Piala FA pertamanya. Liverpool melawan Manchester United. Pada 1979, Motson ditetapkan sebagai komentator utama BBC untuk pertandingan-pertandingan besar seperti final Piala FA, Piala Dunia, dan kompetisi Eropa.

Selama bertugas dari 1979 hingga 2008, Motson menyiarkan 6 pertandingan final Piala Dunia dan 29 pertandingan final Piala FA.

Dari sekian banyak pertandingan final Piala FA yang ia siarkan, Motson mengungkap bahwa pertandingan final tahun 1981, antara Tottenham Hotspur dan Manchester City, merupakan yang paling berkesan sepanjang karier penyiarannya.

Adalah aksi memukau Ricardo Villa, yang ketika itu mencetak gol penentu kemenangan Tottenham, yang membuat pertandingan tersebut begitu berkesan bagi Motson.

“Itu pertandingan yang sangat hebat. Pada saat itu pertandingan tinggal menyisakan beberapa menit lagi, skor sama kuat 2-2, dan Villa dengan sangat indah menembus pertahanan City dengan melewati beberapa pemain belakang,” bebernya.

Satu hal yang menjadi ciri khas Motson setiap bertugas menyiarkan pertandingan adalah membawa sebuah buku berisi catatan informasi mengenai kedua tim yang bertanding. Kebiasaan itu ia pertahankan bahkan ketika internet sudah menawarkan cara yang lebih mudah untuk mencari dan mengumpulkan informasi.

“Aku cukup konservatif. Aku seorang dinosaurus. Aku tidak bekerja menggunakan komputer, dan aku tidak menggali informasi melalui situs resmi klub. Penelitianku adalah lewat sebuah buku yang berisi informasi-informasi berbagai klub. Informasi-informasi dalam buku itu dikumpulkan dengan tekun oleh istriku. Semua informasi setiap musimnya tentang pertandingan, penampilan, pencetak gol, potongan berita dari koran, dan lain-lain,” ungkapnya kepada Independent.

***

Dengan berakhirnya karier Motson di dunia penyiaran, banyak orang akan merasa kehilangan dan merindukan suara khasnya. Tidak hanya penonton, tetapi juga para pesepakbola yang penampilannya pernah dikomentari Motson.

“Wawasan sepakbolanya luas, dan pensiunnya Motson akan menjadi kehilangan yang sangat besar. Dia adalah yang terbaik dan yang terindah untuk didengarkan,” ujar mantan penyerang Everton, Graeme Sharp.

Pesepakbola legendaris Belanda, Ruud Gullit, juga mengungkap rasa kehilangan atas pensiunnya Motson.

“Suara dari banyak generasi telah pensiun hari ini. John Motson akan melakukan siaran untuk yang terakhir kalinya. Kami semua akan merindukanmu,” ujar Gullit.

Komentar