Mengenal Yoyo Prasetiyo: Pengorbanan untuk Jadi Asisten Pelatih Klub Liga 1 di Usia 27 Tahun (Bagian 1)

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Mengenal Yoyo Prasetiyo: Pengorbanan untuk Jadi Asisten Pelatih Klub Liga 1 di Usia 27 Tahun (Bagian 1)

Halaman kedua

Permohonan mengikuti kursus di beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Myanmar, Filipina, hingga Maladewa diajukan Yoyo pada 2016. Namun semuanya ditolak karena slot semua negara tersebut sudah penuh untuk para pelatih lokal di sana.

Kemudian Yoyo mencoba peruntungan di Malaysia, yang ternyata jawaban yang ia dapat masih sama; slot penuh untuk pelatih lokal. Tapi tanpa menyerah ia terus "meneror" FAM, federasi sepakbola Malaysia, sampai akhirnya ia diperbolehkan mengikuti kursus B AFC di Malaysia.

"B AFC sekitar 25 jutaan. Saya dapet slot itu H- (min) 2 minggu. Itu juga perjuangan. Karena yang pengen B AFC di Malaysia itu banyak banget, banyak. Karena di sana yang sudah punya C AFC banyak. Tadinya gak ada slot, tapi saya telepon terus PSSI-nya Malaysia itu tiap hari sampai dia mungkin bosen dan bilang “yaudah, Yoyo. Sekarang kamu beli tiket, kamu boleh ikut sekarang. Yang tadinya peserta cuma 24 orang (di manapun kursus jumlah maksimal 24 orang), jadi 25 orang setelah saya bisa masuk. Dari 25 orang tersebut, 11 orang itu mantan pemain timnas Malaysia, salah satunya Tengku Hazman, lawan BP [Bambang Pamungkas] di Piala Tiger (2002), GBK."

Kesungguhan Yoyo dalam mengikuti setiap kursus kepelatihan terlihat pada B AFC di Malaysia tersebut. Karena di akhir kursus, ia menjadi pelatih dengan nilai terbaik. Kembali ke Indonesia pun ia lebih mudah dalam mencari kesebelasan. Ia akhirnya menjadi asisten pelatih Rudy Eka di Celebest yang akan berkiprah di Liga 2 2017.

Ternyata nilai terbaik yang didapat Yoyo pada B AFC tersebut menundanya berkarier di kompetisi Indonesia. Tapi penundaan tersebut memberikannya tantangan yang jauh lebih hebat. Saat itu, instruktur kepelatihannya di kursus B AFC Malaysia, yang berasal dari Tiongkok, menghubunginya lewat surel. Tanpa disangka, Yoyo direkomendasikannya untuk melatih akademi salah satu kesebelasan China Super League U-16, Lijiang FC. Akhirnya di usia 26 tahun, ia melatih sebuah tim U-16 di Tiongkok.

"Kaget juga waktu dapet tawaran itu. Waktu itu saya di Celebest, di liga 2, jadi asisten Rudy Eka. Baru satu bulan setengah saya di sana, saya dapet telepon dari Perserang, liga 2 juga, tapi ditawari jadi head coach. Saya gak bisa, karena saya udah teken kontrak di Celebest. Terus besok paginya saya dapet email (dari Tiongkok), ditanya kabar segala macam terus saya direkomendasikan jadi pelatih salah satu klub China Super League U-16 karena salah satu syaratnya harus B AFC. Akhirnya saya diskusikan dengan Rudy Eka, dan dia mengizinkan sekali."

Yoyo saat memberikan instruksi di Lijiang U-16

Hanya saja karier Yoyo di Tiongkok tidak berjalan mulus. Ia diputus kontrak oleh kesebelasan asal provinsi Yunnan itu setelah enam bulan melatih. Penyebabnya adalah hasil buruk timnya di China Super League U-16. Menurutnya, kendala bahasa menjadi penyebab ia tak bisa mengeluarkan potensi terbaiknya di Lijiang.

"Di Tiongkok saya enam bulan bertahan. Tapi susah sekali. Kalau Luis Milla (di timnas Indonesia) bawa asisten, ya. Kalau saya sulit banget. Sendirian banget. Huruf Tiongkok dan Indonesia itu beda jauh. Mereka sebenarnya siapkan penerjemah. Tapi saking sulitnya, penerjemahnya ini mahasiswi dan dia sulit banget mengerti bahasa sepakbola."

Yoyo dan penerjemahnya berfoto bersama skuat Lijiang FC U-16

"Saya juga harus adaptasi dengan makanan. Saya juga harus adaptasi dengan cuaca, yang selama dua bulan pertama mencapai 1 derajat celcius; saya sampai pakai empat jaket waktu ngelatih. Hal-hal yang buat saya gila banget," kenang Yoyo.

"Itu gak bisa dilupakan, meskipun pada akhirnya saya diputus kontrak. Menurut saya itu hal yang wajar, karena di sepakbola kegagalan itu hal yang beda tipis dengan keberhasilan. Saya kurang cepat berkomunikasi baik dengan pemain, itu menyebabkan kalah. Saya 12 atau 13 pertandingan, cuma empat kali menang, tiga kali seri, sisanya kalah," lanjutnya.

Pengalaman di Tiongkok memang memberikannya pelajaran yang berarti. Di sana juga ia melihat bahwa sepakbola di Tiongkok sangat jauh lebih maju dibanding di Indonesia. Selain fasilitas, federasi di sana, CFA, menurutnya menunjukkan keseriusan dalam membina para pemain muda dengan memberlakukan sistem-sistem yang inovatif.

"PSSI-nya Tiongkok itu strukturnya bagus. Setiap pemain di Tiongkok punya paspor pemain, warnanya hijau seperti paspor kita. Punya itu harus tes MRI, tes gigi, segala macam dilakukan di dokter, untuk memastikan bahwa usianya segitu (menghindari pencurian umur)."

"Pemain muda juga gak bisa asal pindah, misal pemain Persib Bandung U-16 pindah ke Persija U-16 gak bisa pindah kecuali ada tanda tangan Asprov Jabar, Askot bandung dan PSSI pusat, baru dia bisa pindah. Data pemain juga setiap pemain (muda) ada," beber Yoyo.


Bersambung ke bagian dua, tentang kedekatannya dengan Djanur dan Iwan Setiawan.

Komentar