Chinese Taipei U-24 vs Indonesia U-24 : Pertahanan Terdisorganisasi dan Serangan Minim Kreativitas

Analisis

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Chinese Taipei U-24 vs Indonesia U-24 : Pertahanan Terdisorganisasi dan Serangan Minim Kreativitas

Langkah Tim Nasional Indonesia U-24 ke babak 16 besar Asian Games 2023 cabang olahraga sepakbola tertunda usai takluk dari China Taipei U-24 dengan skor 1-0. Gol dicetak oleh Chin Wei Chen pada menit ke-48. Hasil ini membuat Indonesia tertahan di peringkat kedua klasemen Grup G sementara Taiwan naik ke peringkat tiga dengan tiga poin.

Indra Sjafri melakukan beberapa rotasi pemain, terutama di lini belakang, termasuk penjaga gawang. Ernando Ari duduk di bangku cadangan dan posisinya diisi oleh Adi Satryo. Rizki Ridho kali ini berduet dengan Rachmat Irianto didukung Alfeandra Dewangga yang berdiri di depannya sebagai seorang poros tunggal (single pivot). Ananda Raehan menggantikan peran Taufany di lini tengah.

Rotasi tersebut secara komposisi seharusnya tidak mengubah sistem permainan. Sebab formasi dasar yang Indra gunakan tetap sama. Pemain yang dirotasi pun memiliki karakteristik yang sama. Satu-satunya pembeda adalah kualitas individu yang berpengaruh pada eksekusi taktik.

Sebelas Pertama Indonesia dan China Taipei

Sementara China Taipei turun dengan formasi dasar 3-5-2. Penerapan di lapangan bisa dinamis menjadi 5-3-2 atau bahkan 4-4-2 ketika bertahan. Pada intinya China Taipei bermaksud meninggalkan dua pemain di depan untuk memanfaatkan fase transisi. Fakta menarik dari pemain Taiwan adalah sebagian dari mereka merupakan pemain kampus, seperti yang mereka turunkan pada kualifikasi Piala Asia U-23. Bedanya, kali ini lebih banyak pemain liga profesional yang turut andil. Oleh karena itu, skuad yang dipanggil Chen Jiunn Ming memiliki kualitas individu yang sedikit lebih baik dari skuad kualifikasi Piala Asia U-23.

Sepanjang pertandingan, penguasaan bola lebih banyak didominasi oleh Garuda Muda. Namun, hal ini bukan sebuah pencapaian sebab China Taipei cenderung reaktif. Mereka membiarkan Indonesia mengambil inisiatif serangan. Dari satu sisi, keputusan China Taipei untuk menunggu bisa menjadi keunggulan bagi Indonesia karena praktis tidak ada tekanan pada fase pertama build up. Namun, hasil pertandingan jelas menunjukan bahwa Garuda Muda gagal memanfaatkan keunggulan tersebut. Apa yang terjadi?

Pertahanan Tidak Disiplin dan Terlalu Mudah Terdisorganisasi

Indra Sjafri bermain dengan format dasar 4-3-3, tapi ketika menyerang posisi pemain bergeser membentuk struktur 2-1-2-5. Pergeseran struktur tersebut membuat bek sayap sangat terlibat dalam serangan dengan overlap sehingga penyerang sayap bisa lebih bergerak ke dalam. Di sisi lain, Indonesia hanya memiliki dua hingga tiga pemain saja sebagai rest defense untuk mengantisipasi serangan balik lawan. Tugas tersebut diemban oleh dua bek tengah dan Dewangga sebagai gelandang bertahan.

Keputusan yang dibuat oleh Indra dimaksudkan untuk bisa membongkar pertahanan lawan dan menciptakan peluang sebanyak mungkin. Namun, secara natural muncul risiko pada situasi transisi karena China Taipei punya banyak celah yang bisa dimanfaatkan dengan serangan balik. Oleh karena itu, disiplin menjadi faktor yang sangat penting untuk menjaga organisasi pertahanan.

Sayangnya, kedisiplinan tidak banyak terlihat karena China Taipei berulang kali mampu mengancam gawang Adi Satryo pada fase transisi. Ruang yang ditinggalkan bek sayap ketika overlap menjadi area favorit China Taipei untuk memulai serangan balik. Po Lian dan Chei Wen lebih sering melebar agar bisa lepas dari pengawalan Rizky Ridho dan Rachmat Irianto. Beberapa kali mereka terpancing untuk ikut melebar sehingga muncul celah di tengah pertahanan. Maka tidak heran jika pada fase transisi, pertahanan Indonesia sangat mudah terdisorganisasi.


Selain pada fase transisi, struktur pertahanan Indonesia juga tidak jarang terdisorganisasi pada fase bertahan. China Taipei memang jarang sekali berhasil melakukan build up, namun ketika berhasil, berakhir dengan tendangan yang cukup mengancam.

Ilustrasi Struktur Pertahanan Indonesia yang Terdisorganisasi

(sumber : Kanal Youtube RCTI Entertainment)

Salah satu contohnya pada proses gol semata wayang China Taipei yang ditunjukan pada ilustrasi di atas. Terdapat jarak yang cukup jauh antara pemain terakhir dengan pemain bertahan lainnya. Akibatnya muncul ruang kosong pada area tersebut ditambah satu pemain di sisi lainnya tidak terjaga. Posisi Rachmat Irianto bahkan jauh sekali dari garis pertahanan. Sementara haykal yang menjaga di tiang jauh terlambat menyadari ancaman dari lini kedua pada ruang kosong tersebut.

Minim Support dan Kreativitas

Indonesia U-23 pada kualifikasi Piala Asia U-23 berhasil mencetak sembilan gol ke gawang Taiwan U-23. Sementara di Asian Games 2023, Indonesia U-24 gagal mencetak satu gol pun ke gawang China Taipei U-24. Betul memang Indonesia tampil tanpa persiapan maksimal dan komposisi pemain dari kedua tim berbeda. Tapi, dua faktor tersebut tidak semata-mata bisa menjadi alasan karena hasil yang didapat sangat amat bertolak belakang.

Pada pertandingan tersebut, salah satu masalah serangan Indonesia adalah kreativitas. Sepanjang pertandingan, Garuda Muda tidak punya masalah dalam hal build up hingga memasuki area pertahanan Taiwan. Namun, masalah muncul pada area sepertiga akhir karena Taiwan menerapkan pertahanan yang rapat. Pada situasi ini Indonesia membutuhkan kreativitas untuk membongkar pertahanan China Taipei. Namun, yang dilakukan justru sangat monoton dengan umpan silang dari area flank atau berusaha melewati pemain lawan dengan giringan bola (drible). Umpan silang tidak efektif karena Indonesia tidak memiliki banyak pemain yang unggul dalam duel udara. Giringan bola pun tidak efektif karena China Taipei menjaga pemain Indonesia minimal dengan dua pemain.

Bukan hanya soal kreativitas, saat menyerang Indonesia sering terisolasi dan tidak banyak pemain yang berusaha mendekat untuk memberi support. Pergerakan tanpa bola sangat statis. Masalah ini yang membuat serangan Indonesia sangat tumpul.


Ilustrasi Serangan Indonesia yang Sering Terisolasi dan Minim Support

(sumber : Kanal Youtube RCTI Entertainment)

Dua ilustrasi di atas menunjukan berulang kali Indonesia kalah jumlah pemain ketika memasuki area sepertiga akhir. Ramai Rumakiek beberapa kali mendapat ruang di sisi kanan pertahanan China Taipei. Tapi, respon mereka sangat cepat dengan mengurung Ramai. Tidak ada jalan bagi Ramai untuk keluar karena pergerakan rekan-rekannya pun sangat amat minim.

Pada momen lain, Egy berhasil mencoba melakukan penetrasi dari area flank. Namun pada momen tersebut hanya ada dua pemain di sekitar Egy sementara Taiwan mengerahkan lima pemain untuk mengurung Egy. Idealnya, pada momen ini akan muncul ruang di tiang jauh namun tidak ada satu pun pemain Indonesia yang datang bergerak menuju area tersebut.

Komentar