Menghukum Kesempurnaan Manchester City

Taktik

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Menghukum Kesempurnaan Manchester City

Dalam skena MOBA (Multiplayer Online Battle Arena), ada istilah over power (OP). Istilah tersebut biasanya dipakai untuk mendeskripsikan satu objek (bisa hero, karakter, pemain, atau bahkan tim) yang saking jagonya, membuat permainan itu sendiri menjadi “tidak seimbang”. Agar seimbang, biasanya perlu ada perlakuan-perlakuan khusus agar kekuatan mereka berkurang. Jika istilah tersebut kita proyeksikan pada skena sepakbola musim ini, mungkin Manchester City adalah tim yang paling layak menyandang gelar over power.

Manchester City era Pep Guardiola menjadi kekuatan terbesar di Liga Inggris, terutama ketika era Sir Alex Ferguson berakhir. Tujuh musim melatih The Citizens, Pep Guardiola mempersembahkan lima gelar Liga Inggris, dua Piala FA, empat Piala Liga dan dua Community Shield. Tidak mudah mempertahankan level permainan secara konsisten dalam tujuh musim, apalagi di Liga Inggris. Faktor terpenting yang membuat Man. City begitu intimidatif adalah kemampuan Pep yang berhasil membuat tim ini serba bisa secara taktikal.

Secara prinsip, Pep Guardiola menerapkan gaya positional play. Setiap pemain didoktrin dengan sebuah konsep bahwa semakin banyak menguasai bola, maka peluang kebobolan semakin rendah. Bedanya, Pep sangat jeli dalam melakukan penyesuaian di setiap pertandingan, bahkan di tengah pertandingan. Musim ini, Pep melakukan pengubahan taktik secara makro. Lebih dari lima musim ia bermain dengan struktur 4-3-3 (dengan detail-detail tertentu), namun di pertengahan musim ini tampil dengan struktur 3-2-4-1. Ajaibnya, sangat efektif.

Tuntutan adaptasi dari Pep ke pemain tidak mungkin berjalan efektif jika ia tidak memiliki pemain-pemain yang memiliki intelejensi tingkat tinggi. Imbasnya, perlahan para pemain bisa memainkan berbagai peran dan menjadi pemain yang serba bisa, baik secara visi maupun teknik. Contoh paling mudah adalah Kevin De Bruyne. Sebagai otak serangan, ia bisa mengancam gawang lawan melalui berbagai cara. Kombinasi umpan pendek di area sempit, umpan terobosan, early cross, bahkan tembakan dari luar kotak penalti.

Belum lagi musim ini mereka diperkuat Erling Haaland yang selalu lapar mencetak gol. Dua musim sebelumnya, lini depan Manchester City bermain dengan peran seorang false nine. Musim ini, mereka tetap bisa memainkan sistem tersebut karena masih memiliki Julian Alvarez, Phil Foden, bahkan Ilkay Gundogan. Dengan adanya Haaland, mereka bisa bermain dengan sistem lain yang memanfaatkan seorang poacher. Komposisi ini membuat Manchester City bisa bermain dengan berbagai jenis sistem.

Bercermin pada penampilan mereka sepanjang musim, baik di kompetisi domestik maupun Eropa, tim ini terlihat terlalu “sempurna”. Musim ini, The Citizens telah meraup dua gelar domestik. Meski demikian, tim besutan Pep Guardiola tersebut masih lapar akan satu gelar yang selalu “hampir” diraih, yaitu juara Liga Champions. Harapan tersebut kemungkinan besar akan terwujud pada Minggu dini hari nanti (11/6/2023).

Selain itu, situasi saat ini cukup unik karena jika Manchester City berhasil memenangkan laga final, maka mereka sah sebagai tim dengan predikat treble winner. Situasi ini tentu membuat banyak pihak tidak nyaman, terutama sang tetangga. Setelah gagal di final FA Cup, harapan mereka hanya ada di Inter Milan untuk mempertahankan treble winner satu-satunya di Manchester, bahkan Inggris.

Di atas kertas, peluang Inter Milan untuk mengubur harapan Manchester City terbilang kecil.

Meski demikian, bukan berarti tim besutan Simone Inzaghi tidak punya peluang sama sekali. Kita semua mengerti bahwa tidak ada yang tidak mungkin di sepakbola. Pada tulisan ini, kami akan menjelaskan potensi Inter menghukum kesempurnaan Manchester City.

Menjaga Kelebaran

Siapapun yang menghadapi Manchester City akan dihadapkan dengan pilihan pendekatan metode bertahan yang bertolak belakang, high pressing atau parkir “kapal selam”. Pendekatan high pressing tujuannya adalah membatasi penguasaan bola Man. City dan menggiring mereka ke posisi-posisi tertentu yang dinilai lebih rawan terjadi kesalahan individu. Pendekatan yang kedua tentu dengan menumpuk banyak pemain di area pertahanan sambil merencanakan serangan balik. Keduanya memungkinkan untuk dilakukan. Tapi, apapun pendekatan yang digunakan harus dilakukan total, menyeluruh, dan konsisten. Jangan setengah-setengah.

Jika berkaca pada kapabilitas skuad Inter dan tingkat efektivitas musim ini, tim besutan Simone Inzaghi akan lebih cocok jika bermain dengan pendekatan bertahan parkir “kapal selam”. Alasan utamanya adalah struktur serangan Manchester City yang bertumbuk dengan struktur bertahan Inter secara proporsional. Tapi, masih ada satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika menghadapi sistem serangan Manchester City, yaitu menjaga kelebaran.

Kelebaran merupakan salah satu prinsip mendasar dalam taktik sepakbola. Prinsip ini berkaitan erat dengan struktur, area bermain, dan posisi pemain. Kelebaran lebih banyak digunakan bagi tim yang sedang menguasai bola. Bagi tim yang tidak menguasai bola, kelebaran menyesuaikan tim lawan sebagai salah satu cara untuk menurunkan ancaman lawan. Pemain paling dekat dengan garis pinggir lapangan merupakan patokan dalam mengukur kelebaran tim. Semakin lebar, maka area bermain bagi tim yang menguasai bola juga semakin luas. Namun bukan berarti area yang luas selalu lebih efektif dibanding area sempit. Tergantung rencana dasar pelatih dan kapabilitas dari pemain yang akan bertanding.

Berkaca pada penampilan Manchester City dan Inter musim ini, kelebaran memiliki porsi besar dalam menentukan jalannya laga final. Kedua tim sama-sama memiliki struktur dengan kelebaran maksimal, meski penerapan nya berbeda. Pep menjaga kelebaran melalui dua sayapnya sementara Simone Inzaghi menjaga kelebaran dari posisi dua bek sayap.

Secara struktur tim dan permainan kolektif, situasi ini cukup menguntungkan bagi Inter Milan ketika bertahan, selama berhasil menjaga kelebaran selama pertandingan. Denzel Dumfries dan Di Marco sebagai bek sayap akan turun sejajar dengan tiga bek tengah untuk membentuk baris pertahanan lima orang. Dengan demikian, lima pemain depan Man. City akan selalu terjaga oleh minimal satu orang Inter. Situasi ini penting bagi Inter Milan untuk membatasi peluang Man. City menciptakan situasi overload (situasi unggul jumlah pemain) di area pertahanan.

Pada babak semifinal, Real Madrid kesulitan membendung serangan Haaland dkk karena empat bek bertemu dengan lima penyerang. Tim besutan Carlo Ancelotti tersebut gagal mengimbangi kelebaran yang Pep terapkan karena kalah jumlah pemain di area pertahanan. Maka tidak heran jika De Bruyne, Bernardo, Gundogan, dan Jack Grealish leluasa masuk ke sepertiga akhir dengan umpan terobosan, kombinasi umpan pendek, dan giringan bola.

Menjaga kelebaran bisa dibilang merupakan syarat pertama untuk membendung serangan Manchester City. Tapi, mengingat kualitas individu mereka di atas rata-rata, menjaga kelebaran saja belum cukup. Inzaghi perlu mencari solusi untuk meredam ancaman dari aksi-aksi individu. Di Liga Inggris musim ini, Haaland adalah pencetak gol terbanyak sementara De Bruyne adalah pencetak asis terbanyak. Silakan nilai sendiri betapa bahayanya kombinasi dua pemain ini. Meski The Citizens masih punya banyak pemain yang bisa mengancam, tapi memprioritaskan Haaland dan De Bruyne bisa menjaga langkah yang bijaksana.

Kapabilitas Haaland paling berbahaya adalah insting mencetak gol. Ia mampu memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi gol. Maka, cara terbaik untuk menghindarkan risiko tersebut adalah dengan membatasi suplai dari lini tengah. Oleh karena itu, Inter Milan wajib membatasi pergerakan aktor-aktor kreativitas Man. City seperti KDB, Bernardo Silva, dan Ilkay Gundogan.

Untuk mengeksekusi taktik ini, Inzaghi bisa menerapkan pola 5-4-1 ketika bertahan. Satu penyerang di depan harus bergerak melebar ketika Inter Milan mendapat kesempatan serangan balik. Keputusan ini perlu diambil karena rest defense Man City rapat ke tengah sehingga akan ada lebih banyak ruang di sisi lapangan untuk melancarkan tahap pertama serangan balik.

Maksimalkan Sayap Kiri

Perubahan struktur Inter Milan ketika menyerang sangat unik dan spesifik. Di atas kertas, mereka bermain dengan formasi dasar 3-5-2 tapi ketika fase build-up bisa berubah menjadi 4-3-3. Kuncinya ada di Di Marco dan Dumfries. Dua bek sayap ini punya peran berbeda ketika fase build-up. Di Marco mundur namun tetap melebar. Sementara Dumfries bergerak naik hingga hampir sejajar dengan penyerang. Posisinya diisi oleh salah satu bek tengah.

Target utama build-up Inter Milan jarang terarah ke gelandang, tapi langsung ke arah Edin Dzeko. Tiga gelandang bergerak sedemikian rupa untuk menciptakan jalur umpan bersih dari bek ke Dzeko (dalam istilah taktik sepakbola, sering disebut dengan decoy). Taktik ini kemungkinan besar cukup efektif menghadapi Manchester City yang melakukan pressing dengan menutup jalur umpan ke arah gelandang.

Ketika build-up berhasil, arah serangan Inter Milan lebih efektif dari sayap kiri. Selama bermain di Liga Champions, Inter Milan lebih sering menggunakan umpan silang untuk menyuplai bola untuk penyerang. Mereka melepaskan 230 umpan silang dari 14 pertandingan di Liga Champions musim ini, terbanyak kedua dari semua peserta. Di Marco memiliki kemampuan overlap dengan dukungan dari gelandang. Sementara Dumfries di sayap seberang mengincar tiang jauh yang lebih sulit terdeteksi pertahanan lawan.

Ketika bertemu AC Milan di laga semifinal, skema ini cenderung berhasil jika Dzeko setelah menerima umpan dari lini belakang berorientasi untuk menemukan ruang di sayap kiri. Pada situasi ini, pergerakan Di Marco dan Mkhitaryan memegang peran penting. Secara statistik, memang probabilitas penciptaan peluang Inter lebih banyak terjadi dari sayap kiri (37 persen).

Terlebih, Manchester CIty bermain tanpa Kyle Walker yang kuat dalam duel satu lawan satu. Jika Akanji yang mengisi posisi tersebut, peluang eksploitasi sisi kiri sedikit lebih besar karena Akanji bukan tipe pemain bertahan dengan keunggulan kecepatan dan duel satu lawan satu.

Hukum Lewat Bola Mati

Manchester City memiliki sistem permainan yang hampir sempurna. Baik pada saat fase menyerang, bertahan, maupun transisi. Tapi perlu diingat bahwa dalam sepakbola ada satu fase yang sedikit lebih sulit untuk dikontrol, yaitu situasi bola mati. Meski sulit, bukan berarti situasi bola mati hanya bergantung pada “hoki”. Sepakbola modern bahkan telah menciptakan seorang pelatih dengan spesialisasi eksekusi bola mati baik ketika bertahan maupun menyerang. Salah satu contohnya adalah Nicolas Jover, seorang pelatih set piece dari Arsenal.

Pada laga final nanti, Inter memiliki peluang cukup besar mampu mencuri gol dari situasi bola mati. Alasan pertama, Manchester City ternyata masih gagap dalam mengantisipasi bola mati. Data dari WhoScored menunjukkan bahwa Man. City di Liga Inggris kebobolan tujuh gol dari bola mati. Sementara di Liga Champions, tiga dari lima bola kebobolan berasal dari sitausi set piece. Di sisi lain Inter justru memiliki catatan duel udara terbaik di antara semifinalis lain.

Komentar