Alasan Kenapa Liverpool Akan Sulit Juara Bersama Juergen Klopp

Taktik

by Dex Glenniza 25146

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Alasan Kenapa Liverpool Akan Sulit Juara Bersama Juergen Klopp

Persepsi kita kepada kesebelasan Liverpool di bawah asuhan Jürgen Norbert Klopp adalah bahwa mereka sering berjaya saat melawan kesebelasan besar (ya, saya tahu mereka baru saja kalah 5-0 dari Manchester City) tapi sering kerepotan melawan kesebelasan kecil.

Musim 2016/2017 misalnya, Liverpool meraih lima kemenangan, lima kali imbang, dan tanpa satu kalipun kalah ketika menghadapi kesebelasan enam besar (Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester City, Arsenal, dan Manchester United) di Liga Primer Inggris. Jika ada klasemen khusus enam kesebelasan besar, maka Liverpool akan menjadi juaranya.

Namun, kalau kita sudah lama menjadi fans sepakbola, kita pasti tahu ada lebih banyak kesebelasan kecil daripada kesebelasan besar.

Sejalan dengan kalimat pembuka di tulisan ini, apa yang salah dengan Liverpool? Kalau boleh jujur, para pengamat sepakbola, termasuk saya, sangat senang melihat cara bermain Liverpool yang sangat energik.

Jika kamu adalah orang yang memerhatikan masa depan jangka panjang, maka kamu sudah tahu apa masalah Liverpool dari paragraf di atas: mereka terlalu energik.

Liverpool ahlinya transisi

Dengan gegenpressing-nya, Klopp sangat mengagungkan transisi. Transisi adalah situasi di mana kekacauan hadir.

Di dalam kekacauan, kesebelasan bisa menjemput peluang dengan memanfaatkan kesalahan lawan. Seringnya sebelum transisi lawan selesai (bertahan ke menyerang, setelah mereka merebut bola dan berniat menyerang), Liverpool sudah menekan mereka dan bahkan menciptakan peluang.

Ini seperti meng-counter sebuah counter attack, kesebelasan Klopp akan sangat senang untuk memenangkan bola secepat-cepatnya ketika bola tersebut hilang dari penguasaan mereka.

Ketika bertahan, garis pertahanan tinggi Liverpool akan memadatkan lini tengah, yang membuat para pemain bisa “berburu” bola bersama-sama. Hal ini membuat lawan hampir mustahil untuk menembus Liverpool dari tengah.

“Momen terbaik untuk memenangkan bola adalah sesegera mungkin setelah kesebelasan kehilangan [penguasaan],” kata Klopp. “Lawan masih mencari orientasi ke mana mereka akan mengoper. Itu membuat mereka sangat rentan [untuk direbut].”

“Tidak ada playmaker di dunia ini yang bisa sebagus ketika situasi counter-pressing yang bagus,” lanjutnya. Ia membuktikannya jauh ketika masih membesut Borussia Dortmund. Beberapa kali kita bisa melihat Dortmund (2008-2015) dan Liverpool (2015-sekarang) mencatatkan peluang satu lawan satu dengan kiper pada situasi ini.

Musim lalu Liverpool berhasil mencatatkan 43 big chance di Liga Primer. Sementara sampai pekan pertandingan keempat musim ini, mereka sudah mencatatkan 7 big chance, atau kedua terbanyak di bawah Man United dengan 8. (Apa itu big chance? Ketahui istilah statistik sepakbola tersebut di tautan ini)

Gegenpressing terlalu melelahkan dalam jangka panjang

Konsep utama dalam melakukan pressing adalah tim harus padat atau kompak (compact). Karena jika kesebelasan tidak kompak, mereka sendiri yang akan mendapatkan kekacauan. Jika hanya penyerang yang menekan, maka akan ada ruang kosong terbuka antara lini serang dengan lini tengah. Jika hanya penyerang dan gelandang yang menekan, maka akan ada ruang kosong di antara lini tengah dan lini belakang.

Jika ada ruang kosong ketika kesebelasan menekan, maka lawan akan mudah untuk melepaskan operan terobosan menuju ruang kosong tersebut. Sementara hal terburuk yang terjadi jika seluruh lini menekan secara kompak, maka lawan akan mengembalikan bola ke belakang atau memainkan operan panjang. Di situ ada poin plus bagi kiper yang bertipikal sweeper-keeper.

Tujuan gegenpressing Klopp adalah untuk meningkatkan kecepatan permainan secepat-cepatnya dengan menekan secara vertikal (menekan bola ke arah depan), bukan lateral (menekan bola ke arah samping).

Tidak heran, Liverpool dipenuhi pemain-pemain yang ahli transisi seperti Emre Can, Jordan Henderson, Adam Lallana, James Milner, Georginio Wijnaldum, sampai Naby Keïta (calon pemain Liverpool) yang cepat, memiliki stamina bagus, serta rajin naik-turun.

Pada gim seperti FIFA, para gamer biasanya akan sangat menikmati menekan tombol R1 (lari) terus-menerus tanpa jeda jika memakai Liverpool, baik ketika menyerang maupun bertahan.

Membayangkan bagaimana permainan gegenpressing Liverpool seperti di atas, seharusnya sudah bisa menunjukkan kepada kita jika itu sangat-sangat melelahkan. Tidak ada pemain yang bisa terus berlari sepanjang 90 menit. Kalaupun ada, tidak ada pemain yang bisa melakukannya dua kali setiap pekannya selama sembilan bulan (satu musim kompetisi). Ini adalah sepakbola yang mengagungkan kontrol penuh, tapi ini terlalu gila. Klopp memang gila!

Bersambung ke halaman selanjutnya soal pertahanan Liverpool dan masalah mereka dalam mempertahankan keunggulan.

Komentar