Alasan Kenapa Liverpool Akan Sulit Juara Bersama Juergen Klopp

Taktik

by Dex Glenniza 33006 Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Alasan Kenapa Liverpool Akan Sulit Juara Bersama Juergen Klopp

Persepsi kita kepada kesebelasan Liverpool di bawah asuhan Jürgen Norbert Klopp adalah bahwa mereka sering berjaya saat melawan kesebelasan besar (ya, saya tahu mereka baru saja kalah 5-0 dari Manchester City) tapi sering kerepotan melawan kesebelasan kecil.

Musim 2016/2017 misalnya, Liverpool meraih lima kemenangan, lima kali imbang, dan tanpa satu kalipun kalah ketika menghadapi kesebelasan enam besar (Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester City, Arsenal, dan Manchester United) di Liga Primer Inggris. Jika ada klasemen khusus enam kesebelasan besar, maka Liverpool akan menjadi juaranya.

Namun, kalau kita sudah lama menjadi fans sepakbola, kita pasti tahu ada lebih banyak kesebelasan kecil daripada kesebelasan besar.

Sejalan dengan kalimat pembuka di tulisan ini, apa yang salah dengan Liverpool? Kalau boleh jujur, para pengamat sepakbola, termasuk saya, sangat senang melihat cara bermain Liverpool yang sangat energik.

Jika kamu adalah orang yang memerhatikan masa depan jangka panjang, maka kamu sudah tahu apa masalah Liverpool dari paragraf di atas: mereka terlalu energik.

Liverpool ahlinya transisi

Dengan gegenpressing-nya, Klopp sangat mengagungkan transisi. Transisi adalah situasi di mana kekacauan hadir.

Di dalam kekacauan, kesebelasan bisa menjemput peluang dengan memanfaatkan kesalahan lawan. Seringnya sebelum transisi lawan selesai (bertahan ke menyerang, setelah mereka merebut bola dan berniat menyerang), Liverpool sudah menekan mereka dan bahkan menciptakan peluang.

Ini seperti meng-counter sebuah counter attack, kesebelasan Klopp akan sangat senang untuk memenangkan bola secepat-cepatnya ketika bola tersebut hilang dari penguasaan mereka.

Ketika bertahan, garis pertahanan tinggi Liverpool akan memadatkan lini tengah, yang membuat para pemain bisa “berburu” bola bersama-sama. Hal ini membuat lawan hampir mustahil untuk menembus Liverpool dari tengah.

“Momen terbaik untuk memenangkan bola adalah sesegera mungkin setelah kesebelasan kehilangan [penguasaan],” kata Klopp. “Lawan masih mencari orientasi ke mana mereka akan mengoper. Itu membuat mereka sangat rentan [untuk direbut].”

“Tidak ada playmaker di dunia ini yang bisa sebagus ketika situasi counter-pressing yang bagus,” lanjutnya. Ia membuktikannya jauh ketika masih membesut Borussia Dortmund. Beberapa kali kita bisa melihat Dortmund (2008-2015) dan Liverpool (2015-sekarang) mencatatkan peluang satu lawan satu dengan kiper pada situasi ini.

Musim lalu Liverpool berhasil mencatatkan 43 big chance di Liga Primer. Sementara sampai pekan pertandingan keempat musim ini, mereka sudah mencatatkan 7 big chance, atau kedua terbanyak di bawah Man United dengan 8. (Apa itu big chance? Ketahui istilah statistik sepakbola tersebut di tautan ini)

Gegenpressing terlalu melelahkan dalam jangka panjang

Konsep utama dalam melakukan pressing adalah tim harus padat atau kompak (compact). Karena jika kesebelasan tidak kompak, mereka sendiri yang akan mendapatkan kekacauan. Jika hanya penyerang yang menekan, maka akan ada ruang kosong terbuka antara lini serang dengan lini tengah. Jika hanya penyerang dan gelandang yang menekan, maka akan ada ruang kosong di antara lini tengah dan lini belakang.

Jika ada ruang kosong ketika kesebelasan menekan, maka lawan akan mudah untuk melepaskan operan terobosan menuju ruang kosong tersebut. Sementara hal terburuk yang terjadi jika seluruh lini menekan secara kompak, maka lawan akan mengembalikan bola ke belakang atau memainkan operan panjang. Di situ ada poin plus bagi kiper yang bertipikal sweeper-keeper.

Tujuan gegenpressing Klopp adalah untuk meningkatkan kecepatan permainan secepat-cepatnya dengan menekan secara vertikal (menekan bola ke arah depan), bukan lateral (menekan bola ke arah samping).

Tidak heran, Liverpool dipenuhi pemain-pemain yang ahli transisi seperti Emre Can, Jordan Henderson, Adam Lallana, James Milner, Georginio Wijnaldum, sampai Naby Keïta (calon pemain Liverpool) yang cepat, memiliki stamina bagus, serta rajin naik-turun.

Pada gim seperti FIFA, para gamer biasanya akan sangat menikmati menekan tombol R1 (lari) terus-menerus tanpa jeda jika memakai Liverpool, baik ketika menyerang maupun bertahan.

Membayangkan bagaimana permainan gegenpressing Liverpool seperti di atas, seharusnya sudah bisa menunjukkan kepada kita jika itu sangat-sangat melelahkan. Tidak ada pemain yang bisa terus berlari sepanjang 90 menit. Kalaupun ada, tidak ada pemain yang bisa melakukannya dua kali setiap pekannya selama sembilan bulan (satu musim kompetisi). Ini adalah sepakbola yang mengagungkan kontrol penuh, tapi ini terlalu gila. Klopp memang gila!

Ada banyak cara, taktik, dan strategi untuk menjadi juara. Bisa dengan ultra attack, catenaccio, tiki taka, parkir bus, dan lain sebagainya. Setiap cara tersebut memiliki konsekuensinya sendiri. Dalam hal ini, gegenpressing Klopp dalam jangka pendek adalah cara yang sangat enak dilihat, penuh adrenalin.

Tapi dalam jangka panjang, gegenpressing adalah cara yang sangat bikin capek. Itu salah satu alasan kenapa Liverpool akan sulit juara. Hal ini menimbulkan efek domino untuk dua penyebab selanjutnya.

Pertahanan adalah penyebab inkonsistensi Liverpool

Jika dibandingkan dengan tiga kesebelasan besar seperti Real Madrid, Barcelona, dan Bayern München, pendekatan pada permainan Liverpool sangat jauh berbeda dengan mereka. Mereka bisa mendominasi permainan dengan possession, oper-operan, dan mereka melakukannya "sambil beristirahat", bisa pula sepanjang 90 menit. Tapi Liverpool tidak seperti itu.

Hal yang buruk dari cara bermain Liverpool ini adalah terciptanya pola yang inkonsisten. Jangan kaget jika Liverpool bisa menang 4-0 untuk kemudian kalah 5-0 pada pertandingan selanjutnya. Jangan kaget juga jika Liverpool bisa sangat enak dilihat, berhasil mencetak gol, tapi kemudian mereka mengacaukan keunggulan tersebut.

Kita bisa ambil contoh di pertandingan pembuka Liga Primer 2017/2018 melawan Watford. Liverpool sempat ketinggalan 1-0 dan kemudian juga 2-1. Tapi mereka kemudian bisa unggul 3-2. Namun pertandingan belum selesai, masih ada setengah jam lagi, dan pada akhirnya Watford menyamakan kedudukan menjadi 3-3 melalui sepakan pojok di injury time.

Setelah Liverpool ditahan imbang Sevilla 2-2 dini hari tadi, setelah Liverpool sempat ketinggalan 0-1 tapi kemudian unggul 2-1, Klopp angkat bicara: “Aku tahu kalian selalu membahas hal ini. Pertahanan adalah sesuatu yang selalu dibicarakan: ‘Kita tidak membeli [pemain] ini atau [pemain] itu’.”

“Jika masalah-masalah ini bisa dipecahkan hanya dengan satu pemain, kamu bisa bayangkan kami pasti sudah menghabiskan uang kami ke situ dan berkata: ‘Ayok, lah’. Itu adalah soal mendominasi dan kehilangan kontrol pertandingan karena kamu sedang tidak pada momen bertahan.”

Jadi, kita tidak bisa bilang jika saja Liverpool membeli Virgil van Dijk atau siapapun, maka masalah pada pertahanan ini akan selesai.

“Ada ruang untuk peningkatan. Kami butuh untuk belajar menjadi dominan dan tidak memberikan gol-gol yang mudah [untuk lawan]. Itu adalah kekecewaan, frustrasi, tapi itu sangat normal. Kami bertanggungjawab untuk setiap bagian yang bagus dan bagian yang tidak bagus dari pertandingan, jadi kamu harus merasa kecewa setelah pertandingan seperti ini.”

“Itu bukan masalah umum pertahanan tapi kami harus melakukan peningkatan 100 persen,” curhatnya. “[Gol pertama] itu tentunya karena konsentrasi.”

Opini yang umumnya muncul adalah jika penyerangan Liverpool itu ibarat mobil Ferrari baru, tapi pertahanan Liverpool ibarat mobil tua. Klopp sudah sadar, masalah ini tidak bisa dipecahkan hanya dengan mengganti "mesin" mobil tua tersebut menjadi mesin mobil Ferrari juga.

Secara mendalam, penyebab buruknya pertahanan Liverpool ini adalah karena cara bermain Liverpool yang terlalu menguras fisik dan mental, sehingga ada kesalahan yang menyebabkan mereka kebobolan, terutama di saat menjelang akhir pertandingan. Kesalahan tersebut tidak harus banyak terjadi, bisa aja hanya satu-dua kali setiap pertandingan, tapi kesalahan tersebut sangat merugikan.

Belum lagi jika melawan kesebelasan kecil yang bertahan dengan dalam, mereka juga seperti mabuk ekstra jika diberikan bola-bola panjang dan set piece menjelang akhir pertandingan. Kira-kira begini jika Liverpool menghadapi kesebelasan dengan pertahanan dalam:

Video di atas sebenarnya tidak menunjukkan frustrasi, tapi lebih kepada rasa senang. Senang rasanya menonton kesebelasan penuh energi seperti Liverpool, yang terus menekan dan mencari jalan untuk mencetak gol (pada akhirnya Liverpool menang 5-1 pada pertandingan di atas). Tapi yang mungkin tidak kita ketahui adalah bahwa mereka capek sekali bermain seperti itu.

Dengan formula seperti ini, sejujurnya mereka tidak akan bisa menjadi juara dengan konsisten, jika tidak ada faktor keberuntungan yang terlibat. Bayangkan di fase knock-out Liga Champions, hal pertama yang menjadi “syarat sah” untuk mengalahkan kesebelasan besar adalah: punya pertahanan yang baik. Silakan tanya Juventus dan Atlético Madrid.

Kesebelasan yang mencoba bermain terbuka melawan Real, Barcelona, dan Bayern, seringnya akan kalah. Kita juga bisa tanya ini kepada Juventus di pertandingan pekan pertama Liga Champions kemarin.

Liverpool sulit mempertahankan keunggulan

Liverpool musim ini bermain di Liga Primer, Liga Champions, Piala Liga Inggris, dan Piala FA. Mereka butuh kesegaran fisik dan mental untuk melalui keempatnya. Jangan kaget jika kesebelasan yang lebih pragmatis, yang lebih bertahan, atau yang lebih membosankan yang akan bisa tahan sampai akhir musim, dan sampai ke musim-musim selanjutnya.

Semua manajer sukses bisa beradaptasi. Bukan bermaksud memojokkan Klopp melalui tulisan ini, tapi Klopp sendiri pernah menunjukkan jika ia bisa sedikit menanggalkan idealismenya tersebut.

Pada 2010/2011, ketika Dortmund menjuarai Bundesliga Jerman, serta pada 2012/2013 ketika Dortmund sampai ke final Liga Champions, Klopp bisa menyetel kesebelasannya untuk lebih berorientasi possession sambil beristirahat dari gegenpressing. Angka akurasi operan Dortmund sempat naik dari 75,1% menjadi 80,9%. Mereka menjadi lebih tidak direct dan lebih fokus pada penguasaan bola.

Sederhananya, Klopp bisa berubah, jadi kita mungkin bisa mendapati Liverpool pada akhirnya bisa menjadi juara. Tapi, Liga Primer tidak seperti Bundesliga, karena Liga Primer lebih berat dan lebih kompetitif (memengaruhi mental). Itu yang menjadi alasan kenapa banyak kesebelasan Inggris energinya terkuras terlalu banyak di Liga Primer sehingga loyo di Eropa. Apalagi Liverpool yang sangat demanding soal energi.

Menjadi juara bersama Klopp juga akan sangat-sangat sulit di saat masih ada “kesebelasan-kesebelasan kecil” yang menjadi lawan Liverpool setiap pekannya. Tapi sesungguhnya permasalahan mereka bukan pada melawan kesebelasan kecil yang bertahan dengan dalam, melainkan karena mereka sulit mempertahankan keunggulan.

Ada satu catatan yang tidak mengenakan bagi The Reds musim lalu: mereka suka mengacaukan keunggulan mereka, bahkan saat melawan kesebelasan enam besar, seperti saat mereka sempat unggul 1-0 atas Spurs, Man City, dan Man United, tapi pada akhirnya mereka imbang, termasuk saat ditahan imbang Sevilla dini hari tadi di mana Liverpool sempat ketinggalan 0-1, tapi kemudian bisa unggul 2-1... tapi kemudian dikejar menjadi 2-2.

Pertandingan melawan Sevilla ini menunjukkan kepada kita jika tidak masalah jika Liverpool ketinggalan. Yang menjadi masalah adalah justru ketika Liverpool sedang unggul.

Musim lalu juga Liverpool kehilangan 18 poin (setara enam kemenangan) ketika mereka sudah unggul. Catatan ini membuat mereka berada pada peringkat kelima soal “mengacaukan keunggulan”. Rata-rata keunggulan bisa didapatkan ketika melawan kesebelasan kecil, kan?

Di saat banyak kesebelasan justru kelabakan ketika tertinggal, Liverpool malah seringkali kerepotan ketika mereka unggul. Padahal mempertahankan keunggulan adalah sesuatu yang penting di sepakbola. Ini bukan hanya soal menang, karena Liverpool sering menang; tapi soal bisa atau tidaknya juara (hasil kemenangan yang konsisten).

Buruknya pertahanan Liverpool membuat mereka tidak konsisten. Kemudian dengan gaya permainan menekan Klopp yang menguras stamina, hal ini yang selalu membuat Liverpool kehabisan energi: (1) menjelang akhir pertandingan dalam jangka pendek, dan (2) menjelang akhir musim dalam jangka panjang.

Tidak heran permainan gegenpressing Klopp membuat Liverpool kehabisan bahan bakar menjelang akhir pertandingan dan (nantinya) menjelang akhir musim.

Komentar