Memahami Mental Deadliner di Tenggat Waktu Transfer

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Memahami Mental Deadliner di Tenggat Waktu Transfer

Tanpa adanya tenggat waktu (deadline), dunia ini mungkin akan datar-datar saja. Di jendela transfer sepakbola juga termasuk. Tanpa deadline day, maka drama-drama di sepakbola tidak akan sampai kepada puncaknya.

Masalahnya, ada banyak kesebelasan yang berbisnis jual-beli pemain dengan sangat sibuknya pada hari tenggat waktu, seolah hari-hari sebelumnya itu tidak terlalu penting. Mereka seperti senang terlambat, senang menunda-nunda pekerjaan. Di sekolah, kuliah, atau bekerja, kita juga akrab dengan situasi ini. Kita menyebutnya dengan deadliner.

“Banyak orang sebenarnya benci menunda-nunda pekerjaan, dan mereka mencoba memperbaiki [kebiasaan buruk] itu,” kata Diana DeLonzor, seorang konsultan manajemen. “Orang yang tepat waktu akan salah mengartikannya. Mereka pikir kamu melakukannya (deadliner) karena itu adalah hal yang bisa dikontrol, atau karena kamu egois dan tidak pengertian. Padahal masalahnya lebih kompleks dari itu.”

Pada sebuah studi yang ia pimpin di San Francisco State University yang terdiri dari 225 sampel, ia menemukan jika 17% dari sampel penelitiannya adalah orang-orang yang ngaret kronis. Mereka memiliki pola yang jelas.

Orang yang ngaret atau deadliner biasanya senang menunda-nunda pekerjaan. Mereka juga memiliki masalah pada kontrol diri, seperti makan terlalu banyak, minum (minuman keras) terlalu banyak, gemar berjudi, dan suka belanja sembarangan. Hal terakhir bisa saja terjadi pada sebuah kesebelasan.

Pauline Wallin, seorang psikolog di Pennsylvania berpendapat jika seorang deadliner sering bergulat dengan rasa cemas dan mudah terdistraksi. Hal ini juga sering terjadi kepada sebuah kesebelasan, di mana mereka cemas kehilangan pemain, cemas tidak bisa membeli pemain baru, serta mudah terdistraksi untuk berganti-ganti pemain incaran.

Siapa yang menyangka jika Fernando Llorente, yang sudah terlebih dahulu diincar oleh Chelsea, akan pindah ke Tottenham Hotspur di saat Spurs memiliki Harry Kane dan Vincent Janssen, di saat Spurs sebenarnya lebih membutuhkan pemain yang senang bermain melebar karena lapangan Wembley (kandang sementara mereka) memiliki dimensi lapangan yang lebih lebar?

Siapa juga yang menyangka jika Alex Oxlade-Chamberlain, yang juga sudah lama diincar oleh Chelsea, akhirnya berseragam Liverpool? Apa alasannya? Apa karena ia ingin bermain lebih banyak di "posisi favoritnya" (padahal sudah ada Sadio Mane, Mohamed Salah, Georginio Wijnaldum, Adam Lallana, Jordan Henderson, James Milner, dan Marko Grujic)? Atau ia hanya mau membuat Antonio Conte kesal saja?

Bukan kebetulan, AntonioJeff Conte, seorang profesor psikologi di San Diego State University juga menambahkan jika karakteristik deadliner atau ngaret ini adalah sifat yang sulit diubah. Jadi, apakah kebiasaan deadliner akan sulit diubah oleh kesebelasan-kesebelasan?

Banyak kesebelasan bermental deadliner

Julie Morgenstern, seorang professional organizer dan pakarnya produktivitas, menyatakan jika ada dua kemungkinan orang ngaret, yaitu karena alasan psikologis dan karena alasan mekanis. Jika itu karena psikologis, biasanya ia akan telat secara teratur. Misalnya ia sering telat 10 menit. Sedangkan alasan mekanis lebih karena waktu telatnya bervariasi, yang menandakan manajemen waktu orang tersebut sangat buruk.

Jika dianalogikan ke kesebelasan, ada di jenis yang mana kebanyakan mereka? Menurut data aktivitas transfer, aktivitas transfer pada deadline day memang tidak pernah lebih dari 40% dari seluruh kegiatan transfer.

Namun, aktivitas transfer pada tenggat waktu ini seringnya memiliki sifat yang impulsif serta tidak terlalu mempertimbangkan risiko, entah itu risiko finansial (biaya terlalu mahal), risiko kesehatan (pemain tidak fit, rentan cedera), atau risiko kultural (pemain belum tentu cocok).

Dari sekian banyak kesebelasan yang ngaret dalam transaksi jual-beli pemain, salah satu yang paling sering adalah deadliner. Deadliner adalah mereka yang seperti menikmati kesibukan di jam-jam terakhir.

Akan sangat sulit memotivasi deadliner tanpa adanya tekanan, tanpa adanya krisis. Bukan hal yang mustahil juga jika mereka sendirilah yang menciptakan tekanan atau krisis tersebut.

Sementara itu, ada enam tipe orang ngaret lagi, yaitu producer (senang mengerjakan banyak hal di waktu sempit), absent-minded professor (mudah terdistraksi), rationalizer (selalu punya banyak alasan untuk ngaret), indulger (tidak bisa mengontrol diri), evader (mencoba mengontrol diri justru dengan ngaret), dan rebel (telat karena menuntut kekuasaan).

Di kehidupan sehari-hari, kita mungkin bisa menemui semua tipe di atas. Tapi di sepakbola, deadliner adalah mereka yang sering kita temukan di setiap akhir Bulan Agustus dan akhir Bulan Januari.

Secara tidak langsung, kita semua butuh dan ingin deadline

Meskipun deadline transfer menimbulkan banyak drama dan masalah, tapi sebenarnya kita semua membutuhkan deadline, termasuk untuk urusan transfer pemain sepakbola. Tanpa adanya tenggat waktu, kegiatan biasanya akan berlangsung tanpa energi dan momentum. Tenggat waktu juga memaksa orang untuk berpikir, membuat pilihan, dan menentukan prioritas.

Jadi, jika kesebelasan kamu sangat sibuk di tenggat waktu jendela transfer, itu sebenarnya adalah pertanda buruknya manajemen yang mereka jalankan.

Tapi jujur saja, tidak ada suporter yang benar-benar peduli dengan manajemen waktu kesebelasan mereka, atau bahkan diri mereka sendiri. Itu semua karena semua orang menyukai transfer di sepakbola, tanpa terkecuali, dan deadline day adalah season finale (bukan final season, lho, ya) dari drama-drama tersebut.

Komentar