Hentikan Kekerasan di Sepakbola Sekarang Juga

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Hentikan Kekerasan di Sepakbola Sekarang Juga

Ketika saya menulis ini, sebenarnya saya sudah kadung kesal. Sungguh, saya tidak mengerti kenapa kejadian yang sama, yang sebenarnya bisa kita hindari, kembali terulang lagi. Setelah alm. Ricko, sekarang alm. Banu yang menjadi korban dari kekerasan yang terjadi di sepakbola Indonesia.

Waktu kematian alm. Ricko, saya menulis bahwa jangan sampai stadion menjadi medan perang yang menimbulkan korban jiwa. Ini saya tulis semata-mata karena rasa kesal saya akan korban yang berjatuhan. Korban yang sebenarnya tidak perlu ada jika kita mau menahan rasa emosi dan sifat bar-bar kita sebagai manusia.

Lewat tulisan itu, saya berharap bahwa ke depannya, bukan hanya stadion yang tidak menjadi medan perang, melainkan kekerasan yang harus segera dihentikan lewat kesadaran berbagai elemen sepakbola Indonesia. Nyawa adalah sesuatu yang sangat dan kelewat mahal untuk dibuang begitu saja di stadion dan lewat kekerasan yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Namun tidak begitu lama setelah alm. Ricko meninggal dunia, hal serupa malah terjadi kembali di dunia sepakbola Indonesia. Kali ini melibatkan alm. Banu Rusman, seorang remaja berusia 17 tahun asal Kp. Nambo, Tangerang Selatan, yang harus meninggal dunia usai kericuhan yang terjadi di Stadion Mini, Cibinong, dalam laga 16 besar Liga 2 antara Persita melawan PSMS.

Kejadian yang, akhirnya ingin membuat saya berteriak kencang: hentikan kekerasan ini sekarang juga!

Tragedi Stadion Mini, Cibinong

Belum lama ini, sebuah kejadian terjadi di Stadion Mini, Cibinong. Dalam laga antara Persita Tangerang melawan PSMS Medan, kericuhan terjadi seusai laga yang akhirnya dimenangkan PSMS dengan skor 0-1. Secara pertandingan, sebenarnya pemain kedua tim tidak ada masalah. Para pemain di kedua tim bermain sebagaimana biasa. Tidak ada keributan yang menghiasi mereka.

Namun memasuki akhir pertandingan, keributan mulai terjadi. Beberapa suporter yang menggunakan seragam warna hijau mulai terlibat keributan dengan suporter Persita, La Viola. Berawal dari chant, siapa sangka keributan itu berujung baku hantam.

"Saya bersama teman-teman Viola Tangsel masuk di pertengahan babak pertama. Kami berada di tribun selatan tapi berdekatan dengan tribun VIP, sedangkan kerusuhan berada di tribun seberang VIP, jadi kami jauh dari titik keributan. Menjelang peluit panjang dibunyikan kami memang sempat nyanyian rasis dari pihak oknum suporter PSMS, tapi pihak kami (Viola Tangsel) tidak menghiraukan itu, dan kami tetap fokus pada Persita," ujar Arya, bendahara dari Viola Tangsel.

"Tidak lama setelah itu, kami dari pihak Persita mendapat serangan lemparan batu dari pihak oknum padahal kami tidak tahu apa-apa. Kami tetap berusaha tenang karena kami tahu mereka itu siapa dan tidak mungkin mereka menyakiti kami dan ternyata pikiran kami salah besar. Mereka menyerang kami dengan membabi-buta, tidak hanya laki-laki dan orang dewasa tapi ada juga anak-anak, wanita, dan ibu-ibu yang menjadi korban, mulai dari terinjak-injak dan ada yg terkena lemparan batu."

"Bahkan lemparan batu tidak hanya menyerang kami dari dalam stadion tapi juga datang dari luar stadion hingga kami berlari ke satu titik yaitu pintu keluar, tapi saat sampai di pintu keluar justru kami telah dijaga oleh oknum berambut cepak beberapa dari kami yg berusaha keluar justru terkena pukulan tangan dan benda tumpul bahkan tendangan ke muka pihak kami," tambahnya.

Di tengah ribut-ribut yang terjadi di Stadion Mini itu, alm. Banu termasuk korban yang kurang beruntung. Di saat yang lain berusaha menyelamatkan diri dengan masuk kembali ke dalam stadion, almarhum terdesak keluar, dan pada akhirnya ia menjadi salah satu korban yang terkena hantaman salah satu oknum suporter PSMS tersebut. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. namun nyawanya tidak tertolong dan ia akhirnya meninggal dunia.

"Dan untuk korban alm. Banu ternyata sudah berhasil keluar stadion yang ternyata oknum pun banyak di luar stadion. Banyak saksi melihat alm. Banu mendapat pukulan keras di bagian kepala belakang oleh oknum berambut cepak tersebut, ada video yang memperlihatkan alm. Banu berjalan memegang kepala bagian belakang dengan muka seperti meringis kesakitan," ujar Arya.

"Kami kecewa, kami bersedih karena alm. Banu adalah bagian dari keluarga kami. Kami ingin kasus ini diusut tuntas, buktikan bahwa hukum di Indonesia itu adil dan nyata. Kami percayakan kasus ini pada pihak yg berwajib, tolong jaga kepercayaan kami," tambahnya.

Menagih konsistensi dari janji

Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Alm. Banu pun menjadi korban kesekian dari kericuhan yang kerap terjadi dan menghiasi sepakbola Indonesia. Ujaran untuk menghentikan kekerasan seolah tidak berbekas, karena pada akhirnya hal-hal yang sama kembali terjadi lagi dan lagi.

Pun apa yang terjadi seusai dari kejadian meninggalnya almarhum Banu ini. Hampir semua, tidak hanya manajemen Persita, menuntut agar kasus ini diusut tuntas. Semua elemen sepakbola Indonesia, termasuk Ketua Umum PSSI, semua mengutuk kejadian tersebut dan meminta agar kasus ini diungkap, tak pandang bulu siapapun pelakunya. Mereka juga menyayangkan kejadian ini (meninggalnya suporter sepakbola) terjadi kembali.

"Kami sangat prihatin dan menyayangkan peristiwa ini. Kami juga ikut berduka dan menyampaikan rasa simpati kami untuk keluarga korban. Sepakbola seharusnya menjadi sebuah hiburan. Saya akan cari tahu apa sebabnya. Karena yang saya tahu sementara ini, sebelum kerusuhan suporter yang di sana melempari suporter prajurit. 15 prajurit kepalanya bocor-bocor,” ujar Edy dalam rilis resmi yang dikeluarkan oleh PSSI.

"Untuk korban lainnya yang saat ini dirawat di rumah sakit, kami doakan semoga cepat sembuh dan berharap kejadian ini tak berulang. Kekerasan atau kerusuhan kemarin adalah ranahnya disiplin kompetisi. InsyaAllah dalam hal ini Komite Disiplin PSSI segera sidang untuk mengambil keputusan yang tepat," kata Joko.

"Secara tegas, Persita mengecam keras seg­ala bentuk kekerasan yang dilakukan oknum-oknum yang melampaui batas kewajaran. Semua kejadian 11 Oktober lalu bertolak belakang dengan nilai-nilai keolahragaan yang ada yakni sportivitas, saling menghargai, pertemanan dan pers­audaraan."

"Langkah administratif segera dilakukan Persita dengan mengirim surat laporan kronologis insiden kericuhan. Laporan sudah kami layangkan kepada PSSI untuk dapat ditinda­klanjuti. Kami ingin adanya Enforcement yang tegas terhadap regul­asi yg ada terhadap oknum-oknum yang men­ciderai sepakbola!"

"Secara in­ternal Persita akan mengusut tuntas siap­a-siapa saja individu yang ikut terlibat di dalam insiden ke­ributan. Karena berd­asarkan pengamatan saat pertandingan dan rekaman video di medsos ada beberapa oknum supo­rter Persita me­lakukan aksi yang me­micu timbulnya insid­en kericuhan. "Ini peringatan keras terh­adap teman-teman sup­orter Persita, karena kami tidak ingin dukungan positif mere­ka kepada Persita ma­lah berubah menjadi dukungan negatif oleh oknum suporter yang tidak bertanggung j­awab," ucap rilis resmi Persita yang dikeluarkan oleh Azwan Karim, direktur klub Persita.

Segala ucapan di atas, semuanya tampak manis dan mencerminkan kesedihan yang mendalam. Tapi pada intinya, semua ucapan itu tidak akan berarti apa-apa jika ke depan, apa yang pihak-pihak itu ucapkan tidak ditindaklanjuti secara nyata. Ucapan-ucapan itu akan terasa hambar jika masih ada alm. Ricko dan alm. Banu lain yang menjadi korban dari kekerasan yang terjadi di dunia sepakbola.

Oleh karena itu, lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan, hentikan kekerasan sekarang juga! Hentikan jatuhnya korban akibat kekerasan di dunia sepakbola!

Baca Juga: Berdamailah, Sepakbola Itu Indah. . .

Komentar