Agar Stadion Tidak Lagi Menjadi Medan Perang yang Merenggut Nyawa

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Agar Stadion Tidak Lagi Menjadi Medan Perang yang Merenggut Nyawa

Stadion, bagi sebagian orang, memiliki arti yang bermacam-macam. Ada yang menyebut stadion sebagai tempat berlindung dari kerasnya kehidupan, ada juga yang menyebut stadion sebagai tempat melakukan sebuah ritus/ibadah (mendukung). Stadion memang memiliki makna yang bermacam-macam, tergantung dari persepsi orang terhadapnya dan kejadian apa yang pernah mereka alami di dalamnya.

Namun, dari semua aura positif dan rasa semangat yang dipancarkan oleh stadion, terkadang ada sisi gelap yang kerap dilupakan dari sebuah stadion. Sisi gelap itu berwujud dua rupa: stadion sebagai tempat hilangnya humanisme, serta stadion sebagai sebuah medan perang. Kemungkinan nyawa untuk melayang di stadion, tiba-tiba bisa menjadi meninggi.

Mungkin pengandaian ini terasa begitu berlebihan. Tapi, dalam laga Persib melawan Persija, hal itu benar adanya dan terjadi dalam sekelebat mata. Bahkan, kadang, ada korban jiwa yang terebut. Ricko Andrean, dia adalah korban dari medan perang yang tersalip di balik Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Hari itu, semua berjalan seperti biasa bagi Ricko. Sabtu (22/7/2017) adalah hari ketika Persib dan Persija akan bertanding di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Sama seperti bobotoh pada umumnya, Ricko pun mungkin bersiap untuk menyaksikan laga yang kerap didapuk sebagai El Clasico-nya Indonesia tersebut.

Ia bersiap. Bersama beberapa temannya yang lain, ia pun bergerak menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api, menyatu bersama bobotoh yang lain untuk mendukung tim kesayangan mereka, tim kesayangan warga Bandung bernama Persib Bandung. Ia tak tahu, sebenarnya ada sesuatu besar yang menantinya di sana.

***

Sang kakak, Ratna, menjabarkan bahwa Ricko adalah sosok yang begitu mencintai Persib. Bahkan, sang kakak juga mengucapkan bahwa almarhum sampai rela meninggalkan pekerjaannya (menurut penuturan tetangganya, ia merupakan pegawai di Yogya Lucky Square, Antapani, Bandung) demi Persib. Rasa cinta yang utuh dan murni dari seorang pendukung kepada klubnya.

"Dia bahkan sampai rela tinggalkan kerjaannya karena cinta Persib. Dia anaknya aktif di organisasi, juga periang. Kadang juga suka bikin kesel, karena anak bungsu. Tapi justru itu yang bikin ngangenin," ujar Ratna.

Nahas, laga Persib melawan Persija pada tanggal 22 Juli 2017 ternyata menjadi laga Persib terakhir yang bisa ia saksikan. Pertandingan sendiri memang berjalan panas. Malam itu, Stadion Gelora Bandung Lautan Api selayak medan perang yang panas membara. Di dalam lapangan maupun di luar lapangan, situasi memang sama panasnya.

Di dalam lapangan, para pemain saling bersitegang satu sama lain. Di luar lapangan, bobotoh pun melakukan hal yang sama. Setiap orang yang mereka curigai sebagai The Jakmania, ataupun mereka yang dicurigai bukan dari Bandung, bersiaplah untuk mendapatkan hadiah berupa pengeroyokan dari para bobotoh. Salah satu yang terkena sial itu adalah Ricko.

Kejadian ribut-ribut antar pemain di lapangan. Foto: Septian Nugraha

Berdasarkan penuturan dari Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Hendro Pandowo, yang melayat ke rumah duka, almarhum sebenarnya bermaksud baik. Ia hanya berniat menolong seseorang yang sedang dikeroyok oleh massa. Namun, karena tidak menggunakan identitas bobotoh, ia menjadi sasaran pukul para bobotoh yang kadung diaduk emosi.

"Kalau lihat dari kronologi, Ricko ini sedang menolong seseorang, tapi malah dikeroyok massa. Padahal niatnya sangat baik, menolong orang yang dikeroyok tersebut. Tapi dia gak pakai identitas bobotoh. Semoga ini kejadian terakhir dan tidak akan terulang lagi," ujar Hendro.

"Kami juga sudah olah TKP dan dapat beberapa bukti. Setelah pemakaman kita akan bekerja secara cepat untuk identifikasi siapa pelakunya," ungkapnya.

Sebenarnya bukan hanya Ricko, beberapa bobotoh lain pun mendapatkan perlakuan yang sama, tetapi beruntung beberapa dari mereka masih bisa diselamatkan. Sedangkan Ricko, walau sempat dirawat selama empat hari di Rumah Sakit Santo Yusup, akhirnya harus pulang keharibaan Yang Maha Kuasa. Pukul 10.30 WIB, ia meninggal dunia, dan kepergiannya pun diiringi isak tangis keluarga terdekatnya.

"Mungkin ia akan dimakamkan di Cikutra, dekat dengan ibunya," ujar Ratna.

Janji agar hal yang sama tak terulang kembali

Peristiwa kemarin sudah terjadi. Laga Persib lawan Persija akan dikenang sebagai salah satu laga yang cukup panas di Liga 1 2017, yang mampu menjadikan seisi stadion selayak medan perang yang bisa merenggut nyawa seseorang kapan saja. Ia tidak akan bisa ditarik kembali, dan akan menjadi masa lalu yang kelam jika diingat.

Memang peristiwa tersebut adalah masa lalu yang kelam, namun bukan berarti ia tidak bisa menjadi bentuk masa lalu yang lain. Dari masa lalu, seseorang bisa belajar sehingga kelak kejadian yang sama takkan terjadi di masa kini dan di masa depan. Itulah yang harus ditekankan kepada semua pihak yang terlibat dalam elemen sepakbola Indonesia.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Hendro Pandowo, mengungkapkan bahwa atas kejadian ini, ia akan melakukan pembenahan soal pengamanan di stadion. Namun, ia juga menyebut bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh pihak kepolisian saja. Harus ada sinergi antara pemain, manajemen (panpel pertandingan khususnya), serta bobotoh yang hadir di stadion untuk menjaga keamanan di stadion.

"Pengamanan kemarin sebenarnya sudah dilakukan secara maksimal. Tapi kita butuh bantuan dari segala pihak yang terlibat di dalam suatu pertandingan. Mulai dari pemain, manajemen, terutama bobotoh. Harus ada sinergi. Kami pun berencana melakukan penambahan personel keamanan. Di tribun akan kami tambah 15 orang, di pintu masuk 24 orrang, di sekat-sekat tribun juga ada 15 orang dari Brimob," ungkapnya.

Salah satu pentolan Viking, Yana Umar pun menyerukan agar kejadian seperti ini agar segera disudahi. Ia berharap bahwa kejadian ini yang terakhir kalinya, sekaligus menyerukan perdamaian antara Viking dan The Jakmania.

"Jangan sampai terulang, sudahi, mau sampai kapan lagi? Ibarat senjata makan tuan, di luar dugaan saya sendiri tidak tahu kejadiannya karena lagi di bawah," ujar Yana.

"Bagi bobotoh dan The Jak, mudah-mudahan ini menjadi awal menghentikan permusuhan, apalagi korban dan pelakunya juga sama-sama bobotoh. Kalau ada yang merasa (memukuli) semoga terketuk pintu hatinya dan mengirim pesan pribadi ke saya. Saya nggak akan gimana-gimana. Kalau bisa, datang ke rumah korban. Dia kan yatim piatu," tambahnya.

Harapan untuk perbaikan masih ada. Bobotoh, dan juga suporter-suporter lain di Indonesia, masih bisa tumbuh menjadi suporter yang lebih dewasa di masa depan. Militan boleh, rivalitas dalam sepakbola itu biasa, tapi jangan sampai juga menjadikan stadion sebagai medan perang yang bisa merenggut nyawa seseorang.

Komentar