Spurs Berhasil Memanfaatkan Kealfaan Sayap Everton

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Spurs Berhasil Memanfaatkan Kealfaan Sayap Everton

Agustus berlalu, datanglah September. Ini adalah bulan favorit Harry Kane. Setelah menjalani Agustus dengan angka tembakan tertinggi di Liga Primer Inggris tanpa satu kali pun berhasil mencetak gol, Kane akhirnya mampu membuka kran golnya.

Pada pertandingan melawan Everton di Goodison Park Sabtu (09/09) malam, Kane berhasil mencetak dua gol dan membuat Tottenham Hotspur menang 3-0. Satu gol lagi dicatatkan oleh Christian Eriksen.

Everton tidak menyediakan kecepatan di sayap

Sebelum pertandingan pekan keempat ini, Everton adalah salah satu kesebelasan yang membeli banyak pemain baru. Menjalani jadwal yang cukup sulit di awal musim, Ronald Koeman seperti diberi ujian tambahan karena banyak dari para pemain barunya (yang sebenarnya bagus-bagus) belum cukup nyetel.

Meskipun demikian, Koeman mengawali pertandingan dengan formasi standarnya, 4-2-3-1. Bukan formasi tersebut yang menjadi awal permasalahan bagi The Toffees, melainkan pemilihan pemain-pemainnya.

Koeman menurunkan lima gelandang yang lebih senang bermain di area tengah. Tidak sampai di situ, biasanya dengan susunan pemain semacam ini, maka area sayap akan di-cover oleh bek sayap.

Namun dalam hal ini, Leighton Baines tidak cukup cepat untuk naik dan turun menyediakan permainan melebar dari kiri, sementara Cuco Martina juga terlihat belum cukup padu dengan rekan-rekannya. Martina tidak berhasil memenangkan satupun tekel dan duel udara. Ia juga “berkontribusi” pada gol kedua (sapuan tidak sempurna) dan ketiga Spurs (tidak memblok meski jaraknya memadai).

Ketiadaan kecepatan di area sayap ini membuat pertandingan menjadi terlalu mudah bagi Spurs. Tidak ada yang berhasil menghentikan full-back Spurs, di mana semua gol Spurs berawal dari wilayah sayap semalam.

Gambar 1 – Grafis peluang Spurs (kiri) dan Everton (kanan) – Sumber: Squawka

Pada gambar di atas, Spurs enam kali menciptakan peluang lewat permainan terbuka dari wilayah sayap. Sementara mayoritas peluang Everton dicatatkan lewat situasi bola mati dan umpan silang.

Koeman harus mencari alternatif dalam menyerang

Koeman mencoba membuat perubahan di babak kedua agar permainan lebih cepat dan menyayap. Ia memasukkan Dominic Calvert-Lewin (akhirnya membuat tiga tembakan) dan Tom Davies menggantikan Davy Klaassen dan Sandro Ramírez (dua tembakan pada babak pertama).

Akan tetapi, usahanya sia-sia. Everton malah terpancing terlalu melebar. Masalahnya, permainan melebar Everton ini tidak dikombinasikan dengan kecepatan, tapi hanya para gelandang yang bergerak melebar. Hal ini menimbulkan ruang yang menganga kosong di area depan kotak penalti Spurs yang tak berhasil terjelajahi oleh para pemain Everton.

Gambar 2 – Grafis daerah permainan Everton dan Spurs – Sumber: Squawka

Dari gambar di atas, kita bisa melihat jika Spurs berhasil menguasai hampir seluruh lapangan. Sementara Everton tidak berhasil menguasai area lapangan Spurs.

Pendekatan Everton ketika tertinggal sebenarnya sudah lumayan baik, yaitu dengan memanfaatkan situasi bola mati dan umpan silang, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Di sini gunanya Gylfi Sigurdsson dan Baines.

Namun, hal ini menjadi percuma karena Everton tidak memiliki pemain yang bertindak sebagai target, kecuali Ashley Williams dan Michael Keane (satu shot off target).

Selain masalah skuat yang belum padu (karena banyak pemain baru), Koeman juga harus bisa merancang gaya menyerang kesebelasannya dengan baik. Kita bisa memakluminya di awal musim, tapi setelah pekan depan, jadwal akan sedikit membaik untuk Everton di Liga Primer: bertandang ke Manchester United, menjamu Bournemouth, menjamu Burnley, dan bertandang ke Brighton.

Harapan hilangnya klenik Wembley dari kombinasi mematikan Kane dan Eriksen

Masalah fobia Agustus Harry Kane sudah berakhir. Ia berhasil mencetak dua gol. Selanjutnya, Spurs juga berhasil membuat skuat mereka lebih dalam, terutama dengan dua rekrutan, yaitu Serge Aurier dan Davinson Sánchez.

Sánchez bahkan menjalani debut di sistem tiga bek Mauricio Pochettino yang belum tentu langsung membuatnya cocok. Namun, pemuda 21 tahun asal Kolombia ini berhasil menyelesaikan 87% operannya dengan bermain di jantung pertahanan, diapit oleh Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld. Ia juga membuat tiga intersepsi dan 10 sapuan.

Namun, sebenarnya masih ada satu permasalahan Spurs, yaitu Stadion Wembley yang menjadi kandang sementara mereka selagi White Hart Lane direnovasi.

Wembley memiliki dimensi yang lebih lebar yang selama ini dianggap kurang cocok dengan sistem counter-pressing Pochettino. Tidak heran, Spurs selalu kesulitan meraih hasil positif di stadion kebanggaan Inggris tersebut. Belum lagi, banyak kesebelasan lawan mendapatkan motivasi ekstra ketika bermain di Wembley.

Selama ini, Spurs menyediakan permainan melebar dengan dua full-back mereka. Ben Davies dan Kieran Trippier sejauh ini sudah bisa memuaskan. Sedangkan kita masih menunggu bagaimana kondisi Danny Rose (setelah cedera dan sempat secara tidak langsung menyatakan ingin pindah) dan Aurier.

Selagi para pendukungnya khawatir kepada hal tersebut, semalam Kane dan Eriksen berhasil memikat untuk tidak ragu-ragu bergerak melebar. Kombinasi Kane-Eriksen sering membuat peluang dari wilayah menyerang Spurs.

Pergerakan Eriksen yang beroperasi di antara sayap dan tengah berhasil membuka ruang bagi Kane. Semalam, Eriksen berhasil mencatatkan satu peluang, memenangkan seluruh dribelnya, dan lima tembakan tepat sasaran.

Selanjutnya Spurs akan bermain di Liga Champions melawan Borussia Dortmund. Kadang di sepakbola memang ada hal-hal yang berbau klenik (seperti Wembley bagi Spurs) yang lebih tersoroti daripada penampilan gemilang para pemain. Namun, kita bisa melupakan Wembley sejenak dan menikmati cairnya pergerakan penyerangan Spurs.

Komentar