Real Madrid Menuju Kesempurnaan

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Real Madrid Menuju Kesempurnaan

Real Madrid menjadi kesebelasan yang sukses di musim lalu. Mereka berhasil menjuarai La Liga Spanyol dan juga menjadi kesebelasan pertama dalam 27 tahun terakhir yang berhasil menjuarai Liga Champions UEFA dua kali berturut-turut.

Kesebelasan berjuluk Los Blancos ini menampilkan permainan sepakbola yang mendekati sempurna. Bersama Zinedine Yazid Zidane sebagai pelatih, Cristiano Ronaldo sebagai bintang utama, Casemiro sebagai pahlawan di lini tengah, Sergio Ramos sebagai kapten penggerak lini belakang, dan juga Isco yang semakin magis, mereka bisa merajai Spanyol (tapi memang tidak menjuarai Piala Raja alias Copa del Rey) dan Eropa.

Salah satu penyesalan mereka mungkin hanya karena tidak bisa bermain lebih baik ketika disingkirkan oleh Celta de Vigo di Copa del Rey. Tapi itu terjadi karena Zidane perlu merotasi skuatnya. Dengan rotasi-rotasi tersebut, meskipun tidak menjuarai Copa del Rey, Zidane justru menunjukkan jika Real Madrid memiliki kedalaman skuat yang sangat baik.

Di awal musim ini, mereka sempat terseok-seok di pra-musim, tapi pada akhirnya mampu menjuarai dua Piala Super, yaitu Piala Super UEFA dan Piala Super Spanyol.

Tidak tanggung-tanggung, dua gelar dini tersebut mereka raih dengan mengalahkan Manchester United dan Barcelona. Tidak ada alasan lagi untuk tidak menyebut kesebelasan ibu kota Spanyol ini sebagai kesebelasan besar.

Potensi masalah pada kedalaman skuat

Kedalaman skuat memang bukan menjadi masalah bagi Madrid di musim lalu. Tapi di musim ini, semuanya bisa berubah. Sebelum pekan pertama La Liga, Los Blancos sudah kehilangan Pepe, Mariano, Álvaro Morata, Danilo, Diego Llorente, Burgui, Rubén Yáñez, James Rodríguez, dan Fábio Coentrão. Dua nama terakhir meninggalkan Madrid dengan status pinjaman.

Kehilangan pemain-pemain di atas merupakan sebuah kewajaran bagi kesebelasan sebesar Real Madrid di mana para pemainnya mungkin saja tidak mendapatkan jam bermain yang banyak.

Beberapa nama seperti James, Coentrão, Pepe, dan Morata malah dinilai tepat meninggalkan Madrid untuk meningkatkan peluang mereka bermain di tim nasional mereka masing-masing, karena akhir musim ini akan digelar Piala Dunia.

Untuk menambal para pemain yang pergi tersebut, sejauh ini Zidane baru mendatangkan Theo Hernández dan Dani Ceballos. Sementara Borja Mayoral dan Jesús Vallejo juga menjadi pemain tambahan karena sudah dipulangkan dari kesebelasan peminjam.

Masalah kedalaman skuat ini akan menjadi krusial. Musim lalu, Madrid terlalu mengandalkan Casemiro sebagai gelandang bertahan. Praktis Zidane tidak memiliki gelandang bertahan murni lainnya selain Casemiro meskipun ia sempat mencoba Mateo Kovacic dan Toni Kroos. Persentase kemenangan Madrid menurun ketika Casemiro tidak bermain karena skuat mereka jadi terlihat tidak seimbang.

Meskipun demikian, mereka sebenarnya punya Marcos Llorente yang musim lalu dipinjamkan ke Deportivo Alavés. Ia mencatatkan tekel terbanyak di La Liga musim lalu. Pemain binaan Madrid ini juga turut membantu tim nasional Spanyol melaju ke final Piala Eropa U21. Selain itu, ada rekrutan anyar mereka, Dani Ceballos, yang juga bisa dimainkan sebagai gelandang bertahan.

Zidane akan sangat berharap Llorente dan/atau Ceballos bisa memuaskan sebagai gelandang bertahan pelapis Casemiro kalau ia tidak ingin masalah kedalaman skuat ini, terutama di posisi gelandang bertahan, menjadi bumerang nantinya.

Potensi magis Isco untuk menjadi pemain andalan

Jujur saja, banyak yang berkata jika penyebab Zidane begitu luar biasa adalah hanya karena ia menjadi manajer Real Madrid, kesebelasan yang akan sukses siapapun manajernya. Seolah kita lupa Rafael Benítez, sebenarnya salah satu faktor kesuksesan Zidane adalah karena kehadiran (salah satu) pemain terbaik dunia, Cristiano Ronaldo.

Saat ini, Ronaldo bermain lebih “sederhana”. Ia tidak menggiring bola sesering biasanya. Ia juga tidak berlari dan menekan sesering sebelumnya. Pemain yang sudah berusia 32 tahun ini lebih terlihat sebagai sosok No. 9 (penyerang tengah) saat ini.

Ketika Ronaldo absen, Madrid terlihat seperti garis yang putus-putus. Salah satu pertandingan yang mencerminkan hal ini adalah saat mereka menjuarai Piala Super UEFA (mengalahkan Man United 2-1). Di pertandingan itu, mereka mampu mendominasi lini tengah, tapi serangan mereka seperti nanggung.

Meskipun demikian, Madrid harus mulai belajar bermain tanpa Ronaldo. Madrid kembali bermain tanpa Ronaldo pada Piala Super Spanyol leg kedua. Selama ini, Zidane dan Madrid sebenarnya masih bisa mengharapkan magis dari seorang Isco. Mantan pemain Málaga ini awalnya sering dimainkan Zidane sejak Gareth Bale cedera, tapi Isco bisa memanfaatkan peluang tersebut dengan sangat baik.

Dengan James yang sedang dipinjamkan dan Ronaldo yang semakin tua dan semakin berperan sentral di depan, ia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penghubung di antara lini tengah dan lini depan Madrid yang penuh kreativitas.

Bukan kebetulan juga, formasi 4-3-3 (dengan Ronaldo dan Bale sebagai winger) sampai rela Zidane tinggalkan untuk membentuk formasi berlian 4-3-1-2 yang memaksimalkan Isco dan juga duet Karim Benzema dengan Ronaldo atau dengan Bale.

Dengan Marcelo dan Daniel Carvajal yang membantu serangan dari sayap, terutama dalam mengirimkan umpan silang, Madrid berhasil menjadi mesin yang nyaris sempurna.

“Magis, untukku, adalah sepakbola,” kata Isco, dikutip dari FourFourTwo. “Itu adalah yang aku rasakan setiap kali aku masuk lapangan dan menyentuh bola.”

Prediksi

Dengan semakin lemahnya Barcelona, musuh Real Madrid hanyalah Real Madrid sendiri, dan juga pegawai pajak di Spanyol (kalau ini adalah musuh Ronaldo).

Sebelum memulai La Liga, Zidane menunjukkan kesempurnaan formasi barunya, 4-3-1-2, dengan mengalahkan Manchester United di Piala Super UEFA dan Barcelona di Piala Super Spanyol.

Isco adalah salah satu pemain yang menonjol dengan kreativitasnya di belakang kedua penyerang, atau di posisi berlian, melalui giringan bola dan kemampuannya mengirim operan untuk membuka pertahanan lawan.

Tiga gelandang di belakang Isco juga turut berperan penting. Kroos mendikte tempo permainan, Luka Modric membuat lawan kerepotan dengan pergerakan dan operannya, serta Casemiro yang agresif menutup serangan lawan.

Semua pemain tahu apa tugas mereka di bawah arahan Zidane. Hal ini yang menjadi kekuatan utama Real Madrid dalam mencapai kesempurnaan di musim 2017/2018: Piala Super UEFA (berhasil), Piala Super Spanyol (berhasil), Piala Dunia Antarklub, Copa del Rey, La Liga, dan Liga Champions.

Meskipun begitu, sebenarnya ada satu trofi yang belum pernah Zidane dapatkan di Real Madrid, dan bahkan belum pernah ia dapatkan ketika masih menjadi pemain Cannes, Bordeaux, Juventus, dan Real Madrid, yaitu trofi Liga Europa. Tapi... penting gak, sih?

Komentar