Manchester City vs Chelsea: Eksperimen Gagal Pep Guardiola

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Manchester City vs Chelsea: Eksperimen Gagal Pep Guardiola

“Kami bermain dengan sistem yang tidak biasa digunakan,” ungkap Raheem Sterling pada wawancara usai laga antara Manchester City vs Chelsea, Sabtu (8/5) waktu Indonesia. Pep Guardiola menerapkan taktik yang berbeda namun tidak membuahkan hasil. Pada laga yang dihelat di Etihad Stadium itu, kekalahan 1-2 tersebut membuat fans The Citizens harus bersabar menunggu kepastian gelar juara Premier League musim ini.

Pep melakukan perubahan dari segi formasi dan susunan pemain. Ia menerapkan formasi 3-1-4-2. Uniknya, hanya satu gelandang murni yang dimainkan yaitu Rodri. Dua ‘gelandang’ di depan Rodri adalah Sterling dan Ferran Torres. Gabriel Jesus dan Sergio Aguero dipasang sebagai tandem di lini depan. Beberapa pemain utama seperti Kevin De Bruyne, Ilkay Gundogan, dan Riyad Mahrez diistirahatkan.

Selain memberi waktu istirahat lebih bagi pemain utama, perubahan tersebut tampak dilakukan untuk mencoba sistem baru sebelum mereka kembali bertemu di final Champions League. Kekalahan di semi final FA Cup tentu menjadi pelajaran bagi Pep. Formasi 4-2-3-1 yang ia terapkan meninggalkan beberapa lubang.

Chelsea bermain dengan 3-4-3 saat itu, sementara City turun dengan formasi 4-2-3-1. De Bruyne sebagai gelandang serang cukup kewalahan karena harus menjaga double pivot Chelsea. Fullback City kerap terpancing tinggi karena menekan wingback Chelsea. Alhasil terdapat ruang antara fullback dan bek tengah yang dieksploitasi tiga penyerang Chelsea.

Baca juga: Guardiola (Belum Tentu) Bisa Sukses Jika Menangani Kesebelasan Kecil

Pada laga semalam, empat pemain depan City membentuk diamond ketika menerapkan high pressing. Momen di atas contohnya. Secara natural, sebenarnya empat pemain City tersebut kalah jumlah dengan tiga bek tengah plus double pivot Chelsea yang berjumlah lima, apalagi jika kiper masuk dalam hitungan. Namun mekanisme pressing City membuat mereka unggul pada fase ini. Penyerang City mengarahkan bola ke bek tengah Chelsea bagian tepi.

Satu pemain menekan pemegang bola, satu pemain menutup opsi backpass ke kiper, dua pemain lainnya menjaga double pivot. Pada situasi ini, satu bek tengah Chelsea lainnya tidak terlibat sehingga City tidak mengalami kalah jumlah. Selain itu, wingback City juga naik untuk menutup jalur umpan ke wingback Chelsea. Di lini belakang (tidak masuk frame), tiga bek tengah City melakukan man to man marking terhadap tiga penyerang Chelsea yaitu Hakim Ziyech, Christian Pulisic, dan Timo Werner.

Tujuan utama dari shape pertahanan ini adalah membuat Rodri tidak perlu naik terlalu tinggi. Gelandang asal Spanyol itu bisa menjaga ruang antar lini sekaligus memotong umpan langsung ke penyerang Chelsea. Momen di bawah ini memperlihatkan bagaimana Jesus mengingatkan Rodri untuk tidak naik, alias `lo tahan di situ aja`.

Beberapa kali taktik ini mampu meredam serangan Chelsea. Serangan melalui bola datar jelas sulit bagi The Blues. Jika melepaskan umpan langsung ke lini depan, Rodri siap melakukan intersep. Dua momen ini menjadi bukti bagaimana kesuksesan dari shape bertahan yang diterapkan City.

Ketika menyerang, tidak terdapat pemain yang biasa menjadi sumber kreativitas pada susunan pemain yang diturunkan Pep. Hal ini membuat City banyak melakukan run in behind. Mereka mencoba eksploitasi Chelsea ketika garis pertahanan mereka sedang tinggi dengan banyak mengirim umpan ke ruang di belakang lini pertahanan Chelsea.

Ketika mengomentari gol Ziyech, Pep mengatakan bahwa tidak ada pemain yang melakukan run in behind sehingga Rodri bingung dan akhirnya kehilangan bola (detik 53 pada video di bawah). Artinya, pelatih 50 tahun itu tampak menginstruksikan pemain depan untuk banyak melakukan run in behind dan mengharuskan gelandang untuk banyak melepaskan bola ke ruang di belakang garis pertahanan.

Gol yang dicetak Sterling berawal dari umpan lambung Ruben Dias ke Jesus. Selain itu, Sterling dua kali mendapatkan peluang setelah menerima umpan lambung. Pertama mampu digagalkan Kurt Zouma dengan tekel bersih. Kedua, Zouma menjatuhkan Sterling namun wasit tidak memberi penalti. Keputusan yang cukup kontroversial dan menjadi perdebatan.

Chelsea bertahan dengan shape 5-2-3 karena dua wingback mereka turun sejajar lini terakhir. Double pivot dan tiga penyerang rapat di tengah, tujuannya untuk mencegah City melakukan progresi lewat tengah dan menutup ruang antar lini. Namun City tidak terlalu terganggu karena Pep memiliki rencana lain, seperti yang sudah dibahas sebelumnya.

Babak pertama Chelsea cukup kesulitan pada fase menyerang. Mekanisme pressing dari City cukup menyulitkan mereka. Hanya enam tembakan yang diciptakan pada babak pertama, lima di antaranya berasal dari luar kotak penalti.

Chelsea mulai bangkit pada babak kedua. Pressing City yang mulai mengendur memudahkan Chelsea untuk menguasai pertandingan. Dikutip dari Whoscored, Chelsea mencatatkan penguasaan bola sebesar 58% pada babak kedua. Sebagai pembanding, Chelsea hanya mendapatkan 44% penguasaan bola pada babak pertama.

Formasi 343 secara natural hanya menyediakan dua pemain di lini tengah, artinya progresi serangan akan dominan dari sayap. Hal ini sangat dimanfaatkan Chelsea, terutama pada babak kedua. Entah itu bek tengah melepaskan long ball atau kombinasi di sisi sayap.

Werner seperti biasa banyak melakukan run in behind untuk menerima umpan lambung dari belakang. Beberapa kali ia berhasil menerima bola lewat skema ini. Sayangnya, tidak banyak aksi lanjutan karena striker Jerman tersebut tidak andal dalam menghadapi situasi 1v1. Tercatat Werner melakukan empat percobaan dribel, namun tidak ada satu pun yang berhasil.

Baca juga: Oleksandr Zinchenko: Korban Perang yang Kini Bersaing di Tengah Kepungan Fullback Elite

Wingback menjadi kunci kebangkitan Chelsea pada babak kedua. Menurunnya intensitas pressing City sangat dimanfaatkan Chelsea untuk progresi melalui wingback. Reece James berkali-kali berhasil melewati Benjamin Mendy dengan mudah. Marcos Alonso bahkan mencetak gol kemenangan di masa tambahan waktu.

Permainan kombinasi Chelsea di sisi sayap juga patut diacungi jempol, terutama di sisi kanan. Pergerakan Pulisic yang kerap turun membuat Nathan Ake terpancing keluar dari posisi. Ruang tersebut dimanfaatkan oleh James atau Kante lewat permainan kombinasi cepat. Dua bek tengah City lainnya tidak bisa mendekat karena dikunci oleh dua penyerang Chelsea.

James beberapa kali melepaskan umpan silang berbahaya. Salah satunya menjadi gol Callum Hudson-Odoi namun dianulir. Di sisi berlawanan, Alonso kerap menjadi tambahan opsi ketika Chelsea melepaskan umpan silang dari kanan. Gol yang ia cetak menjadi bukti keberhasilan skema ini, meski ia dicap beruntung bisa mencetak gol tersebut karena secara eksekusi tidak sempurna.

Selain pressing yang mengendur di babak kedua, City kerap melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Sterling memberi bola secara cuma-cuma kepada Alonso karena backpass tanpa melihat posisi rekan. Kesalahan ini berakhir dengan tembakan berbahaya dari Pulisic. Rodri terlalu lama memegang bola sehingga City terkena transisi dan kebobolan lewat tembakan akurat Ziyech. Tidak lupa, penalti panenka Aguero berhasil ditangkap dengan mudah oleh Edouard Mendy sehingga City gagal unggul dua gol pada akhir babak pertama.

Eksperimen taktik dari Pep ini gagal membuahkan hasil meski sebenarnya menjanjikan. Pep harus mencari cara bagaimana meredam serangan Chelsea lewat sayap selama 90 menit penuh. Jika tidak, City akan kesulitan pada final Champions League mendatang.

Pertandingan ini tidak bisa benar-benar mencerminkan final Champions League nanti. Kedua manajer sama-sama mengistirahatkan sejumlah pemain utama. Pep juga tentu akan memutar otak mengapa timnya bisa kalah pada dua laga melawan Chelsea meski menggunakan pendekatan taktik yang berbeda.

Source foto: FC Barcelona Noticias

Komentar