Mengupas Duel Taktik Juergen Klopp vs Jose Mourinho

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Mengupas Duel Taktik Juergen Klopp vs Jose Mourinho

“Pertandingan luar biasa, menghadapi monster serangan balik. Kami bermain baik dengan penguasaan bola, itu adalah cara melawan mereka, ” ujar Juergen Klopp pada wawancara setelah pertandingan. “Kami bermain untuk menang. Kami adalah tim yang memiliki peluang terbaik untuk memenangkan pertandingan,” ungkap Jose Mourinho. Dua pernyataan tersebut benar, Liverpool menguasai pertandingan dan membuat lebih banyak peluang. Sementara taktik pragmatis ala Mourinho membuat mereka memiliki peluang yang lebih baik.

Duel antara dua pelatih ternama ini berjalan menarik. Pemain utama Liverpool sedikit demi sedikit mulai fit setelah sembuh dari cedera. 2000 fans yang diperbolehkan menghadiri pertandingan tentu sangat berarti bagi pemain The Reds. Sementara Tottenham, mereka cukup mengejutkan dengan memuncaki klasemen Premier League sebelum pertandingan dimulai.

Secara taktik, Mourinho membuat beberapa perubahan. Tottenham turun dengan formasi 4-4-2. Harry Kane dan Son Heung-min menjadi duet di lini depan. Perubahan cukup menarik terjadi di lini tengah. Moussa Sissoko digeser ke kanan dan Steven Bergwijn bermain di kiri. Dua gelandang diisi oleh Pierre-Emile Hojbjerg dan Giovani Lo Celso. Sergio Reguilon dicadangkan, Ben Davies mengisi posisi bek kiri.

Intensi Mourinho adalah memberikan proteksi lebih bagi sisi sayap Tottenham. Sissoko dan Bergwijn memiliki fisik yang mumpuni untuk berhadapan dengan penyerang sayap dan bek sayap Liverpool. Davies juga memiliki kemampuan bertahan yang lebih baik dari Reguilon.

Tottenham memang bermain reaktif, tapi Mourinho tetap bersikeras bahwa timnya menargetkan tiga poin. Hal ini terlihat dari Lo Celso yang bermain di tengah. Cukup berisiko mengingat Lo Celso tidak terlalu baik dalam bertahan. Apalagi ia akan berhadapan dengan Roberto Firmino yang sering turun dan gelandang Liverpool yang kerap membuat pergerakan menusuk.

Gol pertama Liverpool menjadi buktinya. Firmino turun untuk membuat situasi menang jumlah. Umpan satu dua antara Curtis Jones dan Firmino dengan mudah melewati Lo Celso. Hojbjerg tidak dapat meninggalkan zona karena akan memberikan ruang bagi Gini Wijnaldum.

Lo Celso juga gagal merebut bola ketika Jones melakukan dribel ke kotak penalti Tottenham. Bola liar berhasil dimanfaatkan oleh Mohamed Salah menjadi gol. Niat Mourinho untuk memperkuat pertahanan di sayap justru melemahkan pertahanan Tottenham di area tengah.

Lo Celso beberapa kali tidak mampu meredam serangan Liverpool dari sisi tengah. Alhasil, tembakan Liverpool diciptakan sebagian besar melalui area tengah. Tapi bukan Mourinho jika tidak memiliki alasan ketika melakukan perubahan taktik.

Fungsi Lo Celso sebenarnya adalah ketika Tottenham melancarkan serangan balik. Pada pertandingan ini, Kane tidak banyak turun menjemput bola dan memberikan ruang bagi Son. Kemungkinan besar karena Mourinho paham bahwa Klopp sudah menyiapkan taktik untuk meredam skema itu. Lini tengah Liverpool yang sangat agresif juga akan menyulitkan Kane ketika turun. Karena itu, Lo Celso dipasang sebagai gelandang tengah agar Tottenham bisa melancarkan serangan balik tanpa harus mencari Kane terlebih dahulu.

Pada gol penyeimbang Tottenham, Lo Celso berperan besar. Ia meminta bola dari Hugo Lloris. Dengan ruang besar di depannya, Lo Celso berani untuk melakukan dribel. Trent Alexander-Arnold memberikan tekanan ke Lo Celso, hal ini membuat ruang di kanan pertahanan Liverpool kosong.

Bergwijn membuat pergerakan cerdik yang memancing Jones ke tengah. Tujuannya untuk menciptakan ruang bagi Son. Rhys Williams tidak berada di posisi yang tepat untuk memotong bola atau menjaga Son. Umpan terukur Lo Celso sukses dimanfaatkan oleh Son untuk menjebol gawang Allison. Skema serangan balik yang bagus dari Tottenham.

Peran Lo Celso kembali terlihat pada menit ke-40. Pemain 24 tahun itu dribel beberapa meter sebelum mengirim umpan ke Bergwijn. Umpan tersebut sukses melewati beberapa pemain Liverpool, sayangnya Bergwijn gagal mengontrol bola dengan baik.

Di kubu lawan, Liverpool membuktikan kualitas tim juara bertahan. Menguasai pertandingan dengan 76% penguasaan bola dan membuat banyak peluang. Total Liverpool mencatatkan 17 tembakan, dua kali lipat lebih dari Tottenham yang hanya membuat delapan tembakan. Secara individu, pemain Liverpool juga tampil baik, termasuk Jones, gelandang yang masih berusia 19 tahun.

Klopp tidak membuat sebuah gebrakan taktik seperti Mourinho. Skema Liverpool seperti Firmino turun, Sadio Mane dan Salah mengisi area tengah, Andy Robertson dan Alexander-Arnold naik bukan merupakan hal yang asing. Bahkan pelatih berusia 53 tahun itu tidak melakukan pergantian pemain. Ia sempat menyiapkan Naby Keita pada akhir pertandingan untuk mengulur waktu tapi wasit sudah meniup peluit panjang terlebih dahulu.

Meski Liverpool membuat lebih banyak peluang, sebenarnya Tottenham memiliki peluang yang lebih baik untuk menjadi gol. Dilansir dari Understat, nilai expected goals Tottenham (1,52) lebih tinggi dari Liverpool (1,22). Jika melihat xG timeline, angka besar tersebut didapatkan dari beberapa peluang emas yang bernilai xG besar.

Babak kedua, Tottenham terlihat berulang kali mengincar bek tengah bagian kanan yang diisi Williams. Klasik Mourinho, mencari kelemahan spesifik lawan dan menghujani kelemahan tersebut. Pertandingan ini merupakan laga debut bagi bek berusia 19 tahun itu di Premier League. Meski secara statistik Williams cukup baik, enam kali menang duel udara dan dua intersep, ia beberapa kali melakukan kesalahan yang fatal.

Williams gagal menghalau umpan lambung yang membuat Bergwijn memiliki peluang emas. Ia juga ragu ketika naik untuk duel udara dengan Kane. Akhirnya Williams justru membiarkan Kane menyundul bola ke depan. Setelah disundul oleh Son, Bergwijn kembali mendapatkan peluang namun sepakannya menghantam tiang. Williams juga tidak aware dengan posisi Kane, umpan lambung Toby Alderweireld membuat Kane memiliki ruang tembak.

Secara keseluruhan, tidak ada yang salah dari performa Liverpool selain penyelesaian akhir. Mereka tetap mampu membuat peluang meski Tottenham bermain dengan blok rendah. Gol kemenangan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang pada menit ke-90. Firmino sukses menanduk sepak pojok Robertson.

Gol tersebut sangat krusial. Selain membawa Liverpool menang, gol ini juga membawa Liverpool naik ke posisi puncak. Pertandingan yang kemungkinan menjadi titik balik Liverpool dalam mengarungi Premier League musim ini. Bagi Firmino, ia juga membuktikan kualitasnya setelah bermain kurang baik pada awal musim, ditambah dengan kedatangan Diogo Jota yang memberikan kompetisi di lini depan. Tidak heran, ia begitu emosional hingga berlari puluhan meter ke tribun The Kop yang berada di balik gawang Liverpool.

*

Duel menarik terjadi pada pertandingan ini. Beberapa taktik Mourinho cukup menyulitkan Liverpool meski Tottenham tidak menguasai pertandingan. Patut disayangkan eksekusi penyerang Tottenham tidak dalam performa terbaik mereka. Sementara itu, Liverpool mendominasi laga dan membuat banyak peluang. Semua kembali pada hakikat sepakbola sebagai olahraga produk akhir. Penyelesaian akhir menjadi pembeda pada pertandingan ini. Gol Firmino membawa Liverpool meraih kemenangan penting.

Komentar