Arsenal Akan Terus Kesulitan Jika Tidak Bisa Mengeksploitasi Ruang Antar Lini

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Arsenal Akan Terus Kesulitan Jika Tidak Bisa Mengeksploitasi Ruang Antar Lini

Arsenal takluk 0-2 dari Tottenham Hotspur dalam North London Derby yang berlangsung pada Minggu (6/12) waktu setempat. Hasil akhir pada laga yang berlangsung di Tottenham Hotspur Stadium itu membuat Arsenal gagal meraih kemenangan pada empat laga Premier League terakhir. Selain gagal meraih tiga poin, The Gunners hanya mampu mencetak satu gol pada empat pertandingan tersebut.

Permainan penguasaan bola yang diusung Mikel Arteta ternyata gagal membuat Arsenal mencetak banyak gol. Menghadapi Tottenham, Arsenal mencatatkan 70% penguasaan bola, namun gagal mencetak gol. Pada empat laga terakhir ketika gagal menang, Arsenal hanya kalah penguasaan bola dari Leeds. Arsenal menang penguasaan bola dari Wolverhampton dan Aston Villa, tapi kalah jika melihat angka expected goals (xG). Artinya, Arsenal kalah dari aspek membuat peluang.

Arteta datang ke Emirates Stadium usai menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City. Pelatih asal Spanyol itu belajar banyak dari Guardiola dan membawa filosofi yang ia pelajari ke Arsenal. Performa Arsenal perlahan membaik, namun konsistensi masih menjadi masalah. Kini, masalah bertambah karena Arsenal gagal menang meski mendominasi pertandingan.

“Penguasaan bola penting untuk membuat peluang, tapi penguasaan bola sendiri tidak ada artinya,” ujar Guardiola pada sebuah wawancara bertahun-tahun silam. Arsenal tampak berada di kalimat kedua ungkapan eks pelatih Barcelona itu, menguasai pertandingan tapi gagal membuat peluang dan mencetak gol.

Pada laga melawan Tottenham, Arsenal tampak kesulitan dalam membuat peluang. Salah satu penyebabnya tentu saja pertahanan rapat dan solid Tottenham. Namun, jika dilihat dari sisi Arsenal, mereka juga memiliki masalah yang harus segera diselesaikan.

Arsenal sangat jarang mencoba eksploitasi ruang antar lini. Padahal, ruang ini sangat potensial untuk membuat peluang. Selain itu, gelandang juga lebih sering memilih opsi umpan aman ke samping atau belakang. Penguasaan bola Arsenal tampak tidak memiliki objektif yang jelas.

Contohnya pada momen ini ketika Dani Ceballos memegang bola. Tidak ada pemain di ruang antar lini. Alexandre Lacazette berada dalam bayang-bayang Pierre-Emile Hojbjerg sehingga tidak dapat menjadi opsi umpan. Ketika Aubameyang mencoba mengisi ruang tersebut, Moussa Sissoko sudah mengantisipasi dengan menutup jalur umpan.

Jika terdapat pemain yang mengeksploitasi ruang tersebut, maka setidaknya Arsenal bisa memecah shape pertahanan Tottenham. Sistem pertahanan zona bisa rusak dengan bermain kombinasi di area ini. Hasilnya bisa jauh lebih baik dibanding progresi dari sayap karena pemain Tottenham hanya perlu bergeser.

Permasalahan ini terjadi berulang kali sepanjang pertandingan. Arsenal memang bermain dengan formasi 3-4-3. Tidak ada pemain yang secara natural mengisi ruang antar lini. Namun seharusnya hal ini bukan menjadi masalah. Banyak tim yang tidak bermain dengan pemain nomor 10 namun ruang ini bisa tetap dieksploitasi. Contohnya Manchester City dengan Kevin De Bruyne, Liverpool dengan Roberto Firmino, dan Everton dengan James Rodriguez. Ruang yang seharusnya diisi oleh pemain Arsenal justru sering diisi oleh wasit Martin Atkinson.

Efek buruknya adalah Arsenal kesulitan progresi. Terlalu banyak umpan sirkulasi dan tidak mengganggu pertahanan lawan. Dilansir dari BBC, Arsenal memiliki rasio umpan terhadap tembakan terbesar. Singkatnya, Arsenal terlalu banyak membuat umpan, tapi tidak membahayakan gawang lawan.

Lima Tim Premier League Dengan Rasio Umpan per Tembakan Terbesar

NoTimUmpan per Tembakan
1Arsenal55,5
2Leicester48,9
3Southampton46,9
4Everton45,2
5Chelsea44,4

Sisi sayap menjadi andalan Arsenal untuk melakukan progresi. Tapi mereka tidak memiliki sayap eksplosif yang bisa cut inside dan membahayakan gawang lawan seperti Sadio Mane dan Mohamed Salah. Aubameyang di sisi kiri tidak lagi setajam musim-musim sebelumnya. Di sisi kanan, kecepatan Willian menurun seiring bertambahnya usia.

Hasilnya, Arsenal masuk ke kotak penalti lawan lewat umpan silang. Kecuali pertandingan melawan Leeds, Arsenal selalu mencatatkan lebih dari 20 umpan silang. Hanya satu gol tercipta dari skema ini, itu pun bek tengah Gabriel Magalhaes dari situasi sepak pojok. Skema ini sama sekali tidak bisa menjadi andalan Arteta.

Total Umpan Silang Arsenal Pada Empat Laga Premier League Terakhir

LawanTotal Umpan Silang
Aston Villa25
Leeds13
Wolverhampton35
Tottenham44

Penyebabnya jelas, Arsenal tidak memiliki target man yang mumpuni. Tidak ada pemain yang bisa memanfaatkan situasi umpan silang, apalagi umpan silang lambung. Persentase kemenangan duel udara Aubameyang hanya 41%, sementara Lacazette 36%. Tidak heran dari 44 umpan silang, tidak ada yang berhasil menggetarkan jala gawang Hugo Lloris. Angka ini terlalu jelas mengindikasikan skema ini harus diganti.

Jika ingin menyerang lewat tengah, Arsenal harus bisa mengkesploitasi ruang antar lini. Sayangnya, penyerang lubang yang dimiliki yaitu Mesut Ozil tidak masuk dalam skuat Premier League. Solusi yang bisa diambil adalah mencari pemain sesuai rencana taktik Arteta pada bursa transfer musim dingin. Jika mendapatkan pemain yang tepat, performa Arsenal bisa naik seperti Manchester United ketika Bruno Fernandes datang. Arsenal harus segera berbenah jika tidak ingin menyelesaikan musim di luar 10 besar.

Komentar