Dua Kekalahan Manchester City Bukan Karena Serangan Balik

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Dua Kekalahan Manchester City Bukan Karena Serangan Balik

Manchester City tidak memulai musim 2020/21 dengan baik. Dari delapan laga awal Premier League, The Citizens hanya mampu meraih tiga kemenangan. Man City mengalami dua kekalahan, yaitu menghadapi Leicester City dengan skor 2-5 dan Tottenham Hotspur dengan skor 0-2.

Pep Guardiola mengeluhkan hal yang sama pada wawancara usai pertandingan. Guardiola merasa timnya bermain lebih baik dan membuat lebih banyak peluang, sembari mengeluhkan gaya bermain lawan yang sangat reaktif, menerapkan blok rendah dan melakukan serangan balik. Klaim Guardiola tersebut ada benar dan salahnya.

Nonton pertandingan Tottenham Hotspurs vs Manchester City

Man City memang bermain lebih proaktif. Man City melepaskan 16 tembakan berbanding tujuh milik Leicester. Meski begitu, jika melihat expected goals (xG) yang menggambarkan kualitas peluang, Leicester (2,6) unggul jauh atas Man City (0,9). Leicester mendapatkan tiga penalti berkat kesalahan dari para pemain bertahan Man City. Klaim Guardiola untuk pertandingan ini bisa dipertanyakan.

Menghadapi Tottenham, Man City lebih sering membahayakan gawang The Lilywhites. Man City mencatatkan 22 tembakan, unggul jauh dari Tottenham yang hanya membuat empat tembakan. Man City juga unggul dari segi xG, total xG 1,3 berbanding 0,7 yang dicatatkan Tottenham.

“Mereka tidak ingin bermain, mereka hanya ingin melakukan serangan balik,” kata Guardiola usai laga kontra Leicester. Ketika bertandang ke Tottenham Hotspur Stadium, Guardiola mengungkapkan tim yang diasuh Jose Mourinho selalu bermain seperti itu, menunggu kesalahan dan melancarkan serangan balik.

Leicester dan Tottenham memang bermain dengan blok rendah dan reaktif. Jika yang dimaksud dengan serangan balik adalah melancarkan transisi cepat ketika sebagian besar pemain lawan berada di area yang tinggi usai menyerang, maka kebanyakan gol dicetak bukan dari skema tersebut. Gol tercipta karena kelengahan Man City, terutama dalam menekan dan menutup ruang bagi lawan.

Gol pertama Tottenham yang dicetak oleh Son Heung-min berawal dari tendangan bebas di tengah lapangan. Tampak jelas pada gambar di bawah ini bahwa Tanguy Ndombele memiliki ruang yang sangat luas, tidak ada tekanan dari pemain Man City. Pierre-Emile Hojbjerg memberikan bola ke Ndombele. Pergerakan Harry Kane memancing Aymeric Laporte dan Ruben Dias keluar dari zona, memberikan ruang bagi Son yang sukses menceploskan bola ke gawang Ederson.

Seluruh gol Leicester, termasuk cara The Foxes mendapatkan penalti bukan berawal dari serangan balik. Proses penalti pertama Leicester tercipta dari permainan konstruktif, membagun serangan dari lini ke lini. Terlihat jelas pressing Man City yang tidak baik membuat Nampalys Mendy bisa dengan mudah balik badan dan progresi bola.

Semua penalti Leicester tercipta karena kesalahan bek Man City dalam menutup ruang. Terlihat seluruh pemain bertahan Man City sudah berada di posisi mereka, artinya momen tersebut tidak bisa dikatakan serangan balik. Usaha mereka untuk menggagalkan penyerang Leicester melepaskan tembakan justru berbuah pelanggaran.

Gol backheel cantik yang dicetak Jamie Vardy juga tidak berasal dari serangan balik. Leicester mendapatkan bola di area tengah, namun mereka tidak melepaskan umpan lambung untuk menyerang dengan cepat. Leicester bermain dari kaki ke kaki hingga akhirnya Youri Tielemans memberi umpan terobosan ke Timothy Castagne. Bek kanan Belgia itu kemudian melepaskan umpan silang ke Vardy.

Guardiola dikenal dengan permainan penguasaan bola yang baik. Lawan bermain blok rendah artinya Man City bisa menguasai bola lebih banyak lagi, Guardiola harusnya senang jika menghadapi lawan seperti itu. Perihal kebobolan hingga akhirnya kalah, terbukti bahwa gol yang dicetak oleh Tottenham dan Leicester mayoritas bukan dari serangan balik. Guardiola harus meningkatkan aspek pertahanan.

Pressing menjadi salah satu yang harus ditingkatkan. Jumlah statistik pressing Man City musim ini menurun dibandingkan musim-musim sebelumnya. Hal ini harus dicermati dengan baik mengingat filosofi bermain Guardiola yang tidak menginginkan lawan banyak memegang kendali permainan.

Total Tekanan Per 90 Menit Manchester City di Premier League Empat Musim Terakhir

MusimTekanan di Sepertiga Pertahanan

Tekanan di Sepertiga Tengah

Tekanan di Sepertiga Akhir
2020/21 28,345,933,6
2019/20 31,256,8 43,6
2018/19 35,865,143,4

Penurunan yang terjadi cukup signifikan. Perbaikan perlu dengan cepat dilakukan terutama pada area sepertiga tengah dan sepertiga akhir. Jika Man City bisa menekan lawan dengan intensitas seperti musim-musim sebelumnya, gol Son atau penalti pertama Leicester bisa dihindari.

Komentar Guardiola usai pertandingan lawan Tottenham dan Leicester mungkin berasal dari emosi karena timnya gagal menang meski bermain proaktif. Jika sudah menonton kembali pertandingan dan berembuk dengan stafnya, Guardiola pasti sadar apa penyebab kekalahan Man City.

Bermain dengan blok rendah menjadi salah satu pakem lawan yang menghadapi Man City-nya Guardiola. Sudah saatnya Guardiola menerima kenyataan tersebut dan beradaptasi dengan lawan seperti itu. Alih-alih mengeluhkan lawan yang bermain reaktif, lebih baik mencari solusi dari permasalahan Man City dalam bertahan.

Tayangan langsung semua pertandingan Premier League 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya, dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar