Taktik Antonio Conte Untuk Memaksimalkan Sisi Kanan Inter

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Taktik Antonio Conte Untuk Memaksimalkan Sisi Kanan Inter

Kedatangan Antonio Conte ke Inter Milan memberikan angin segar bagi Nerazzurri. Pada musim pertama, Conte mampu membawa Inter finis di urutan kedua, hanya terpaut satu poin dari Juventus. Di kancah Eropa, Inter memang menempati urutan ketiga pada fase grup yang membuat mereka hanya lolos ke fase gugur Liga Europa, namun mereka mampu menembus final meski kalah dari Sevilla.

Conte memberikan beberapa perubahan di Inter, salah satunya ialah sistem yang digunakan. Pelatih asal Italia itu menerapkan formasi tiga bek yang menjadi andalannya di Juventus, Timnas Italia, dan Chelsea. Sebelumnya, Inter bermain dengan formasi empat bek di bawah arahan Luciano Spalletti.

Inter bermain dengan formasi 3-4-1-2 atau 3-5-2. Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez menjadi duet striker di lini depan. Di atas kertas, Inter hanya memiliki bek sayap yang secara natural mengisi sayap. Conte tidak menggunakan penyerang sayap. Bek sayap akan dibantu oleh gelandang atau striker yang melebar untuk menciptakan situasi menang jumlah di sayap.

Antonio Candreva menjadi andalan Conte musim lalu di sisi kanan sementara Cristiano Biraghi dipercaya mengisi posisi bek sayap kiri. Danilo D’Ambrosio juga kerap digunakan sebagai bek sayap kanan. Paruh kedua musim lalu, kedatangan Ashley Young membuat pemain Inggris ini menjadi andalan Conte untuk posisi bek sayap kiri.

Musim ini, Conte mendatangkan bek sayap kanan muda yang dibeli dari Real Madrid, Achraf Hakimi. Pemain 21 tahun itu ditebus dengan harga €40 juta usai mencatatkan sembilan gol dan 10 asis musim lalu pada masa pinjaman di Borussia Dortmund.

Hakimi merupakan bek sayap enerjik yang memiliki kecepatan dan teknik berkualitas. Postur 181 cm juga tidak buruk sebagai bek sayap untuk duel udara. Selain itu, Hakimi sudah terbiasa dengan sistem tiga bek seperti yang diterapkan Lucien Favre di Dortmund.

Menjalani debut pada laga Inter melawan Fiorentina, Hakimi sukses mencetak satu asis meski baru bermain dari menit 64. Umpan silang Hakimi sukses dimanfaatkan oleh Lukaku. Inter keluar sebagai pemenang dengan skor sengit 4-3 di Giuseppe Meazza. Menghadapi Benevento, Hakimi turun sejak menit pertama. Ia sukses mencetak satu gol dan satu asis.

https://twitter.com/beINSPORTSid/status/1316968362103181317">

Conte tampak ingin memaksimalkan kualitas menyerang Hakimi. Dibanding dengan bek sayap kiri yang diisi oleh pemain tua seperti Young (35 tahun), Ivan Perisic (31 tahun), dan Aleksandar Kolarov (34 tahun), Hakimi tentu saja bisa lebih diandalkan. Oleh karena itu, Conte menyiapkan taktik yang diharapkan dapat mengoptimalkan kemampuan Hakimi, terutama ketika bermain dengan formasi 3-5-2.

D`Ambrosio yang sebenarnya berposisi bek kanan dipasang di bek tengah bagian kanan. Marcelo Brozovic mengisi gelandang tengah dan Nicolo Barrella berada di posisi gelandang kanan. Bersama Hakimi, empat pemain ini akan melakukan rotasi posisi yang menarik guna menciptakan wide overload (situasi menang jumlah di area sayap).

Brozovic turun sejajar dengan bek tengah, membuat D’Ambrosio bisa naik membantu Hakimi. Barella memberi opsi di sektor tengah. Rotasi ini bertujuan untuk membuat situasi menang jumlah di sayap kanan dan membuat Hakimi bisa beroperasi di area yang lebih tinggi.

Contohnya pada laga menghadapi Genoa ini di mana Hakimi baru masuk pada menit ke-58. Brozovic, D’Ambrosio, Barrella, dan Hakimi membentuk diamond shape untuk memperlancar progresi. Pergerakan pemain ketika pertandingan membuat Inter tampak asimetris dengan lebih banyak pemain di sisi kanan.

Skema ini memiliki andil pada gol pertama Inter. Posisi D’Ambrosio dan Hakimi yang melebar membuat dua gelandang Genoa mengalami dilema, jalur umpan mana yang harus ditutup. Posisi mereka yang ragu membuat jalur umpan ke Barrella terbuka. Lukaku sukses menyelesaikan serangan ini.

Menghadapi Shakhtar, Conte kembali menerapkan skema tersebut. Antisipasi Shakhtar berupa sayap kiri mereka yang disiplin menjaga ruang di sayap. Manor Solomon kerap turun bahkan hingga sejajar dengan lini pertahanan. Shakhtar kerap terlihat bertahan dengan lima pemain sejajar di lini terakhir.

Merespon hal ini, D’Ambrosio naik hingga sejajar dengan lini pertahanan lawan. Tujuannya adalah menciptakan ruang bagi Hakimi di sayap. Pekerjaan Hakimi tetap tidak mudah karena pertahanan rapat Shakhtar membuat hampir tidak ada ruang tersedia.

Meski begitu, Hakimi beberapa kali mampu lolos dari pertahanan ganda Shakhtar, namun umpan silangnya kerap tidak terarah. Ia juga sempat memiliki ruang tembak dari dalam kotak penalti meski masih berhasil diblok. Peluang Barrella pada menit ke-18 juga tercipta berkat rotasi tersebut.

Rotasi seperti ini tidak dilakukan Inter ketika menyerang lewat sisi kiri. Hal ini disebabkan gelandang kiri Inter yaitu Arturo Vidal yang lebih menjaga kedalaman. Berbeda dengan Barrella yang diberi kebebasan untuk bergerak. Vidal tidak banyak naik.

Keberadaan Hakimi membuat sisi kanan Inter menjadi andalan utama ketika menyerang. Pada empat laga ketika Hakimi bermain 90 menit, persentase serangan Inter dari sisi kanan selalu lebih besar dari sisi kiri. Beberapa di antaranya bahkan memiliki selisih yang cukup jauh.

Rotasi pemain seperti yang dijelaskan di atas baru dominan terlihat pada dua laga terakhir yakni menghadapi Genoa dan Shakhtar. Formasi cukup berpengaruh terhadap keberlangsungan skema ini. Contohnya pada laga menghadapi Milan, Conte menurunkan formasi 3-4-1-2 yang membuat Barrella menjadi gelandang serang. Gelandang 23 tahun itu lebih fokus mengeksploitasi ruang antar lini dibanding turun untuk melakukan rotasi.

Taktik memperkuat salah satu sisi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah Inter bisa memaksimalkan kualitas Hakimi sebagai bek sayap kanan dengan baik meski taktik Conte ini jadi mudah terbaca. Lawan bisa dengan mudah mengidentifikasi cara menyerang Inter yang berat di kanan.

Jika sudah terbaca, maka Conte harus merespon. Salah satu opsi yang bisa diambil ialah membiasakan pemain untuk memindahkan arah serangan dengan cepat. Mengandalkan sisi kanan tetap bisa dilakukan, namun jika buntu maka dengan sentuhan seminimal mungkin mereka harus memindahkan bola ke kiri. Menarik dilihat perkembangan taktik Conte dan respon dari lawan yang dihadapi Inter musim ini.

Komentar