Ralf Rangnick dan Transisi RB Leipzig

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Ralf Rangnick dan Transisi RB Leipzig

Bundesliga lebih akrab dengan Bayern München. Musim 2018/19 ini, Borussia Dortmund kembali muncul sebagai pengganggu monopoli Bayern seperti yang terjadi beberapa tahun silam. Namun terdapat satu kesebelasan lain yang selalu mencuri perhatian, khususnya dalam tiga musim terakhir: RasenBallsport Leipzig.

Jika dua musim sebelumnya Leipzig jadi pembicaraan karena mereka mampu merangsek papan atas padahal baru promosi ke divisi teratas pada musim 2016/17—bahkan langsung menempati peringkat kedua—musim ini Leipzig mencolok berkat pertahanan kokohnya. Menempati peringkat tiga saat artikel ini ditulis (pekan ke-27), Leipzig jadi kesebelasan paling sedikit kebobolan.

Baru 20 gol yang tercipta ke gawang Leipzig. Bayern yang dalam enam musim terakhir menjuarai Bundesliga sudah kebobolan 28 gol. Borussia Dortmund yang musim ini lebih sering menempati peringkat teratas pun sudah kebobolan 30 gol. Dengan tujuh pertandingan tersisa, Leipzig bisa mencatatkan jumlah kebobolan lebih baik dibanding musim 2016/17 ketika mereka menempati pos runner-up dengan kebobolan 39 gol.

Di samping itu, Leipzig kembali berada di papan atas setelah pada musim lalu hanya mampu menempati peringkat enam klasemen di akhir musim. Ralf Rangnick jadi sosok penting di balik kembali kompetitifnya Leipzig di papan atas Bundesliga. Filosofi sepakbola reaktif yang mengandalkan transisi dari bertahan ke menyerang jadi senjata utama Rangnick dalam membuat lawan sulit membobol gawang Leipzig.

Profesior Serangan Balik

Sepakbola terkini telah memperkenalkan banyak kesebelasan yang bermain umpan-umpan pendek sejak dari penjaga gawang untuk menyerang. Dalam fase menyerang, kiper dan pemain belakang—terkhusus bek tengah—bertanggung jawab atas "lewat mana tim akan menyerang?"

Kiper dan bek tengah dituntut mahir memberikan umpan akurat sekaligus mengambil keputusan tepat untuk menyerang area terlemah lawan, baik melalui umpan pendek maupun umpan panjang. Karenanya penguasaan bola sempat dianggap jadi indikasi "keunggulan" sebuah kesebelasan karena mampu memegang bola lebih banyak, yang kemudian diartikan pula mampu menyerang lebih banyak.

Namun Rangnick tidak tergiur dengan sepakbola possession yang mulai menjamur setelah istilah tiki-taka dianggap jadi rahasia Barcelona dan Spanyol menguasai sepakbola dunia beberapa tahun silam. Pria kelahiran 29 Juni 1958 ini tetap teguh mengandalkan serangan balik sebagai upaya utama dalam membobol gawang lawan. Dia lebih ingin punya tim yang kuat dalam bertahan, tapi bisa cepat mengubah kondisi bertahan menjadi situasi menyerang.

Possession football sendiri sempat disebut-sebut sebagai sepakbola menyerang. Karena dalam possession football terdapat sebuah jargon yang dipegang teguh para pelatih penikmat filosofi ini: "Kamu tidak akan kebobolan jika kamu menguasai bola". Namun sepakbola Rangnick merupakan anti-tesis dari kalimat tersebut: "Kamu tidak akan kehilangan bola jika kamu tidak menguasainya".

"Kamu bisa melupakan possession, itu akan berakhir dengan sendirinya. Kecepatan dalam permainan sangat esensial. Tanpa peningkatan [kecepatan] ke gigi enam-tujuh, kamu tidak akan bisa menang melawan Panama atau Korea Selatan," ujar Rangick saat menjadi komentator di acara Süddeutsche Zeitung pada Piala Dunia 2018 silam.

Sebagaimana Jürgen Klopp, Roger Schmidt, Thomas Tuchel, atau Marco Rose, filosofi sepakbola Rangnick identik dengan sepakbola transisi, khususnya dari bertahan ke menyerang. Serangan balik cepat ala sepakbola Jerman memang bukan deep defending-counter yang menunggu lawan lini pertahanan sebelum menyerang. Sepakbola Jerman lebih pas ditafsirkan, seperti yang juga dianalisis oleh Jonathan Wilson, sebagai sepakbola reaktif.

Lebih spesifik, jika Klopp, Schmidt, dan Rose sangat identik yang dengan agresif merebut bola di lini pertahanan lawan ketika lawan memulai serangan (high pressing), sepakbola Rangnick agak berbeda. Para pemain terdepan tidak langsung menekan pemain belakang atau kiper yang sedang menguasai bola.

Upaya merebut penguasaan bola secara agresif baru dilakukan ketika bola serangan lawan dikirimkan ke lini tengah atau middle third. Namun tujuannya tetap sama: lawan kehilangan bola pada fase pertama memulai serangan lalu menyerang balik secepat mungkin.



Rangnick sendiri sudah dianggap sebagai "profesor sepakbola" dengan segala pengetahuan taktik dan strategi. Rangnick sudah jadi pelatih sejak 1983. Ketika itu dia jadi pelatih sekaligus pemain dari kesebelasan bernama Viktoria Backnang. Padahal usianya saat itu masih 25 tahun.

Pada 1998, dia sudah banyak bercerita tentang betapa pentingnya transisi dan pressing pada formasi empat bek pada sebuah acara bernama ZDF Sportstudio (seperti Match of the Day di Inggris). Meski begitu banyak juga yang tak sepakat dengan julukan profesor pada Rangnick karena dia dianggap hanya paham teori, bukan praktik.

Namun saking paham dan teguhnya filosofi sepakbola yang dipegangnya, sejak menjadi Direktur Olahraga RB Leipzig pada 2012, Rangnick langsung mencari pelatih yang sesuai dengan filosofi sepakbolanya. Alexander Zorniger dipilih tak lepas dari filosofinya yang mengedepankan kekuatan pertahanan dan transisi dari bertahan ke menyerang (Zorniger dipecat Brøndby karena persoalan strategi ini). Terbukti Zorniger bisa mempromosikan Leipzig dari divisi 4 ke divisi 2 hanya dalam tempo dua musim.

Setelah memecat Zorniger, Rangnick berupaya mendatangkan Thomas Tuchel, tapi gagal. Sascha Lewandowski yang digantikan Roger Schmidt di Leverkusen sempat dinegosiasi untuk bergabung, tapi tak menemui kata sepakat. Dua pelatih tersebut punya karakter yang tak jauh berbeda dengan karakter melatih Rangnick.

Karena tak ada pelatih yang sesuai ideologinya lagi, Rangnick pun "menunjuk dirinya sendiri" sebagai pelatih sementara sampai akhir musim. Keputusan tersebut tepat karena pada akhir musim Leipzig promosi ke Bundesliga, yang artinya mereka promosi dari divisi 4 ke divisi teratas hanya dalam lima musim.

Ralph Hasenhüttl lantas jadi pelatih Leipzig di Bundesliga karena Rangnick ingin fokus pada jabatannya sebagai Direktur Olahraga. Latar belakang Hasenhüttl selain karena sukses mempromosikan Ingolstadt ke Bundesliga adalah kefasihannya dalam menerapkan taktik counter-pressing. Sepakbola reaktif kembali jadi alasan Rangnick dalam memilih pelatih.

Baca juga: Ujian Sepakbola Menekan Hassenhüttl di Tanah Britania

Bukan tanpa alasan dia keukeuh mencari pelatih yang sesuai dengan ideologinya. Sebagai direktur sepakbola, dia juga punya pengaruh besar dalam pemilihan dan perekrutan pemain baru. Pemain-pemain yang direkrutnya adalah pemain-pemain yang dianggap bisa memainkan sepakbola reaktif yang didambakannya.

Perlu diketahui, Diego Demme dan Youssouf Poulsen yang musim 2018/19 ini jadi andalan Leipzig merupakan rekrutan Rangnick pada 2013/14, ketika mereka masih berada di Divisi 3. Emil Forsberg, Omer Damari, Lukas Klostermann, Marcel Sabitzer, Marcel Halstenberg, Willi Orban, dan Stefan Ilsanker juga merupakan pemain yang sudah bergabung sejak di Divisi 2 dan masih diandalkan sampai saat ini. Maka dari itu ketika Naby Këita yang jadi pemain penting Leipzig hengkang ke Liverpool, hal itu tidak berpengaruh banyak pada Leipzig karena para pemainnya memang didesain Rangnick untuk bisa memainkan sepakbola reaktif.

Pola 4-1-2-1-2 dan Cara Menekan Build-up Lawan

Dalam membangun serangan sejak dari kiper, ketika kiper menguasai bola atau hendak memulai pertandingan (tendangan gawang), biasanya terdapat tiga pemain di depan kiper: dua pemain di kedua sisi, satu pemain di tengah dekat lengkungan kotak penalti.

Jika tim tersebut menggunakan skema empat bek, tiga pemain ini biasanya diisi oleh dua bek tengah dan satu gelandang bertahan. Jika menggunakan tiga bek, pemain yang menempati bek tengah biasanya jadi pemain yang paling punya visi bermain atau punya kemampuan operan yang lebih akurat di antara bek tengah lainnya, seperti Leonardo Bonucci, misalnya.

Yang dilakukan Rangnick untuk merusak build-up lawan yang bermain dengan skema di atas adalah dia menyiapkan Leipzig dengan pola 4-3-3 saat tak menguasai bola. Namun tidak seperti kesebelasan lain yang menggunakan dua pemain sayap dan satu penyerang tengah, Rangnick mengandalkan dua penyerang tengah dan satu gelandang serang untuk menekan lawan. Dalam situasi default, Leipzig memang bermain dengan pola dasar 4-1-2-1-2 (seperti berlian).

Dua pemain terdepan biasanya ditempati dua penyerang andalan: Timo Werner dan Poulsen. Yang dilakukan keduanya ketika lawan hendak melakukan build-up dari kiper adalah bergerak melebar untuk menjaga dan menutup jalur operan bola dari bek tengah. Di tengah terdapat Forsberg yang mengawasi dan menutup jalur operan pada pemain gelandang bertahan lawan.

Tidak hanya itu, Werner dan Poulsen juga bertugas jadi pemain yang menekan pemain lawan yang menempati lebar lapangan. Keduanya sering memainkan peran pressing forward. Tak heran dalam catatan Wyscout, Poulsen jadi pemain dengan jumlah pelanggaran terbanyak ketiga di Bundesliga karena ketika masuk ke area middle third tekanan para pemain Leipzig akan semakin agresif untuk merebut penguasaan bola dan melakukan transisi. Leipzig juga jadi kesebelasan ketiga terbanyak soal melanggar lawan, hanya kalah dari Augsburg dan Hoffenheim.

Gambar 1 - Posisi Poulsen-Werner yang melebar saat Leipzig dalam fase bertahan (vs Hertha Berlin)

Namun saat Leipzig menguasai bola, jika Poulsen-Werner bukan pemain Leipzig yang memegang bola, keduanya akan merapat ke tengah sementara Forsberg akan turun menjemput bola. Untuk kedua sisi diisi oleh pemain full-back seperti Klostermann, Halstenberg, Nordi Mukiele, atau Marcel Sabitzer jika pola dasar Leipzig menggunakan 4-2-2-2.



Fungsi Forsberg di belakang Werner-Poulsen pun tak lepas dari skema umpan panjang yang kerap dipraktikkan skuat asuhan Rangnick ini. Tendangan gawang Leipzig juga jarang dikirim ke pemain belakang atau pemain yang berada di defensive third. Bola kerap ditendang jauh mengarah ke trio lini depan yang merapat.

Poulsen dengan tinggi badan 1,93 meter adalah pemain yang tangguh dalam duel-duel bola udara. Skema ini terbilang efektif karena Leipzig jadi kesebelasan peringkat pertama dalam urusan kemenangan duel udara (50,55%) di Bundesliga. Jika gagal, para gelandang termasuk Forsberg siap menyambut bola kedua (second ball) agar transisi dan skema serangan Leipzig tetap berlanjut.

Dengan banyak mengirimkan umpan jauh, plus ketangguhan Leipzig dalam melakukan counter-pressing, Leipzig menjadi kesebelasan yang paling sering menguasai bola di sepertiga pertahanan lawan. Operan Leipzig di offensive third jadi yang terbanyak dengan 1903 (sampai pekan ke-27), di atas Bayern. Diego Demme dan Kevin Kampl juga termasuk dalam daftar pemain dengan jumlah operan (per 90 menit) terbanyak di Bundesliga, keduanya menempati peringkat tiga dan empat.

Gambar 2 - Jaringan operan RB Leipzig (vs Hertha Berlin) yang terpusat ke tengah (via: Wyscout)

Banyak bermain di sepertiga pertahanan lawan adalah cara Leipzig membangun sistem pertahanan sekaligus sistem penyerangan. Karena semakin sering bola berada jauh dari gawang, semakin jarang juga bola berada di dekat gawang mereka. Masih menurut data Wyscout, Leipzig saat ini "hanya" 231 kali mendapatkan tembakan dari lawan, di mana itu tersedikit kedua setelah Bayern.

Di sisi lain, ketika berhasil merebut bola dekat dengan gawang lawan, kesempatan untuk menciptakan peluang akan semakin besar. Dalam 27 pekan, sebanyak 375 tembakan atau peluang sudah diciptakan Leipzig, jumlah tersebut tertinggi keempat di Bundesliga setelah Bayern, Hoffenheim, dan Bayer Leverkusen.

Namun tentu Leipzig bukan tim yang sempurna. Meski skema tersebut berhasil meminimalisasi jumlah serangan lawan, skema Leipzig saat ini belum maksimal karena soal urusan mencetak gol mereka masih kalah dari kesebelasan papan atas lain. Jika Bayern sebagai kesebelasan tersubur mampu melesakkan 69 gol, Leipzig terpaut 20 gol. Padahal probabilitas mencetak gol mereka (xG atau expected goals) merupakan tertinggi ketiga di Bundesliga (setelah Bayern dan Hoffenheim). Karena itulah Leipzig gagal menjadi kandidat juara musim ini.

Semuanya perlu proses. Setidaknya Rangnick berhasil mengembalikan Leipzig ke jalan yang benar. Leipzig jadi kesebelasan ditakuti lagi. Rangnick berhasil mengembalikan identitas permainan Leipzig yang sempat hilang pada musim kedua mereka di Bundesliga sehingga tergusur ke papan tengah.

Cepat atau lambat, mengingat Leipzig jadi kesebelasan dengan rerata usia termuda saat ini, Rangnick akan menemukan formula yang lebih jitu dalam menyerang maupun bertahan untuk menjadikan Leipzig kesebelasan "besar" di Bundesliga: dengan atau tanpa dirinya sebagai kepala pelatih. Dengan sistem yang tepat ini pula, Leipzig tak harus khawatir jika para pemain mereka nantinya akan "dirampok" oleh kesebelasan lain (terutama Bayern).


Simak opini, komentar, dan sketsa adegan Rochy Putiray tentang jual-beli lisensi klub yang kerap terjadi di Liga Indonesia:



Komentar