Mencadangkan Sanchez, Keputusan yang Unik dan Berani dari Wenger

Taktik

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mencadangkan Sanchez, Keputusan yang Unik dan Berani dari Wenger

Ada sebuah pemandangan menarik ketika Arsenal bertandang ke Liverpool dalam lanjutan ajang Liga Primer 2016/2017. Alexis Sanchez berada di bench dan tidak masuk starting XI Arsenal.

Alexis Sanchez, dengan segala pemberitaan mengenai dirinya yang dikabarkan akan pindah ke klub lain pada akhir musim nanti, tetaplah sosok yang penting bagi The Gunners. Ia adalah sosok yang tidak perlu menjadi kapten untuk menarik kemampuan rekan-rekan di sekelilingnya. Cukup dengan kemampuannya yang berbicara, maka rekan setimnya pun akan terdorong maju olehnya.

Catatan 20 gol dan 17 asis yang ia lesakkan dalam 35 pertandingan yang ia jalani bersama The Gunners di seluruh kompetisi pada musim 2106/2017 adalah sebuah catatan yang sulit untuk dikesampingkan. Sanchez adalah poros penyerangan Arsenal. Ia adalah pemimpin yang memimpin dengan kemampuannya dan attitude nya yang selalu kesal ketika rekan-rekan setimnya tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam sebuah pertandingan.

Lalu, kenapa Wenger mencadangkan Sanchez dalam pertandingan melawan Liverpool, sebelum akhirnya memasukkannya pada babak kedua?

Wenger Ingin Arsenal Bermain Lebih Direct, Tapi. . .

Melihat bahwa Liverpool adalah tim yang lemah dalam bola-bola atas, ia pun memilih mencadangkan pemain timnas Chile tersebut dan memasang Olivier Giroud sebagai target man, didampingi oleh Danny Welbeck, Alex Iwobi, dan Alex-Oxlade Chamberlain di posisi gelandang serang. Alasan taktikal inilah yang menjadi alasan pencadangan Sanchez.

Namun, yang terjadi ternyata di luar ekspektasi Wenger. Ragnar Klavan dan Joel Matip yang dipasang oleh Jürgen Klopp menjadi di posisi bek tengah menyulitkan Giroud untuk menjadi pemantul bagi para pemain di gelandang serang. Ia kerap kalah duel udara di dalam kotak penalti Liverpool sehingga serangan Arsenal, yang direncanakan untuk menjadi lebih direct, kerap berujung kegagalan. Hanya dua kali saja The Gunners mencatatkan tembakan pada babak pertama.

Pergerakan Giroud melawan Liverpool. Kerap kalah duel udara di kotak penalti lawan. Sumber: Stats Zone FourFourTwo

Hal sebaliknya justru terjadi di lini pertahanan. Menaikkan dua fullback untuk membantu penyerangan, dan juga menaikkan garis pertahanan dengan begitu tinggi, malah menciptakan banyak ruang di lini pertahanan Arsenal. Ruang-ruang inilah yang akhirnya mampu dimanfaatkan oleh para penyerang Liverpool seperti Sadio Mane, Roberto Firmino, maupun Phillipe Coutinho untuk mencetak gol.

Niat hati ingin bermain direct, tapi akhirnya Arsenal malah kebobolan karena garis pertahanan yang tinggi.

Merasa Ada yang Salah, Akhirnya Memasukkan Sanchez

Setelah merasa bahwa babak pertama tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, Wenger pun memasukkan Alexis Sanchez menggantikan Francis Coquelin pada babak kedua. Masuknya Sanchez memberikan sebuah tenaga baru, terutama (meski tidak secara keseluruhan) di lini serang. Kemampuan dribel dan eksploitasi ruang yang ia miliki mulai menyulitkan para pemain di lini pertahanan Liverpool.

Pergerakan pemain yang pernah membela Udinese ini begitu spartan. Ditempatkan di flank kiri, ia mampu bergerak dinamis dan bekerja sama dengan Nacho Monreal yang juga kerap maju membantu penyerangan dari posisi fullback kiri. Tak jarang Sanchez pun masuk ke kotak penalti dan bergerak ke tengah, untuk menjemput bola dan mengalirkan bola ke lini serang.

Pergerakan Sanchez melawan Liverpool. Aktif di kiri, dan terkadang menjemput bola sampai ke tengah. Sumber: Stats Zone FourFourTwo

Dengan liarnya pergerakan Sanchez ini, beberapa ruang pun mulai tercipta di pertahanan Liverpool. Salah satunya adalah ruang di sisi kiri yang dapat dimanfaatkan oleh Danny Welbeck untuk mencetak gol. Gol yang juga berawal dari asis Alexis yang bergerak di sisi kiri penyerangan Arsenal.

Tapi pengaruh Sanchez ini hanya berlaku untuk lini serang saja. Lini pertahanan, dengan garis pertahanannya yang tinggi, menjadi biang keladi kebobolan Arsenal di babak kedua. Berawal dari tendangan Sanchez yang terblok oleh Matip, bola kemudian dialirkan menuju Divock Origi yang lepas dari jebakan offside garis pertahanan Arsenal yang tinggi.

Kecepatan yang Origi miliki membuatnya mampu lepas dari penjagaan, dan akhirnya memberikan bola kepada Gini Wijnaldum yang masuk ke dalam kotak penalti. Dengan gol yang dicetak Gini tersebut, Arsenal pun resmi kalah di pertandingan ini.

***

Mencadangkan Sanchez dalam pertandingan melawan tim besar macam Liverpool, walau untuk alasan taktikal, adalah keputusan yang unik dan cukup berani. Seusai pertandingan, Wenger pun tidak menyesali keputusannya ini dan malah mengatakan bahwa ia menyesal karena kalah dari Liverpool, bukan karena mencadangkan Sanchez.

"Saya menyesal karena kalah dalam pertandingan ini, dan saya tahu apa yang menjadi penyebab kekalahan tim saya di pertandingan ini. Yang jelas bukan karena Sanchez semata karena yang saya lakukan itu (tidak menurunkan Sanchez sejak awal) merupakan bagian dari taktik," ujar Wenger dilansir dari ESPN FC.

Namun, dengan apa yang ditunjukkan oleh Sanchez selama babak kedua pertandingan Liverpool melawan Arsenal, mungkin Wenger harus berpikir ulang tentang memasukkan pemain ini di babak pertama. Apalagi, menjualnya ke klub lain.

foto: @SquawkaNews

Komentar