Keuntungan Sepihak dalam Transfer Son

Taktik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Keuntungan Sepihak dalam Transfer Son

Dalam transfer Son Heung-min dari Bayer Leverkusen ke Tottenham Hotspur, hanya The Lilywhites yang untung.

Salah satu momen terbaik Son selama membela Leverkusen, bisa jadi, adalah ketika ia dan kesebelasannya dikalahkan VfL Wolfsburg 4-5, pada pekan ke-21 musim lalu. Bermain di kandang lawan tidak membuat Wolfsburg canggung. Sebelum menit ke-30 mereka sudah unggul tiga gol tanpa balas. Leverkusen memasuki ruang ganti dalam keadaan tertinggal cukup jauh. Dapat dimaklumi jika babak kedua menjadi milik Wolfsburg sepenuhnya.

Son menolak menyerah. Tertinggal tiga gol bukan apa-apa baginya. Lewat dua gol di menit ke-57 dan ke-62, Son memangkas selisih sekaligus membangkitkan semangat para pemain dan pendukung Leverkusen. Bas Dost membawa Wolfsburg kembali meninggalkan Leverkusen dengan selisih yang cukup jauh semenit berselang. Namun Son mampu menjaga selisih tetap satu angka. Empat menit setelah gol keempat Wolfsburg, Son mencetak hattrick. Karim Bellarabi mencetak gol di menit ke-72 dan melengkapi perlawanan Leverkusen; membuat kedudukan sama kuat, 4-4.

Jika Dost tidak mencetak gol keempatnya (sekaligus gol kelima Wolfsburg) di menit ke-93, Son pasti sudah dinobatkan sebagai man of the match. Permainanya gemilang dan menginspirasi perlawanan. Sayang Wolfsburg yang keluar sebagai pemenang. Terlepas dari kekalahan Leverkusen, pertandingan tersebut menegaskan bahwa walau bukan seorang penyerang tengah, Son sangat dapat diandalkan untuk mencetak gol. Banyak gol.

Dengan mendatangkan Son, Tottenham telah melakukan pembelian yang cerdas. Mereka meningkatkan persentase terciptanya gol tanpa mengganggu kerja Harry Kane sebagai penyerang utama.

Son cukup beruntung memiliki ayah seorang pelatih sepakbola. Sejak kecil, Son sudah terbiasa melatih kedua kakinya. Semua kerja keras tersebut terbukti berguna saat ini. Dengan kaki kanan dan kiri yang sama baiknya, Son fasih bermain di kedua sisi serangan. Ditambah dengan kemampuannya menggiring bola dan mengelabui lawan serta kecepatan yang tidak buruk-buruk amat, Son dapat menjalankan tugas sebagai penyerang sayap kanan dan kiri dengan sama baiknya. Namun posisi yang tepat untuk Son bukan di sana.

Tidak memberi Son kebebasan adalah sebuah kesalahan. Membatasi ruang kerjanya hanya akan membuat Tottenham tidak mendapatkan semua yang mampu Son tawarkan. Dengan kemampuan mencetak gol dari luar dan dalam kotak penalti serta perhitungan cermatnya dalam serangan balik, akan lebih baik jika Son lebih banyak terlibat dalam permainan. Dalam formasi dan taktik Mauricio Pochettino, bermain di belakang Kane adalah posisi ideal Son.

Tentunya “di mana sebaiknya Son bermain?” adalah pertanyaan lanjutan dari “akankah Son mampu menembus kesebelasan utama?”. Tak perlu ada kekhawatiran mengenai hal ini walau pemain Jerman terbaru yang bergabung dengan Tottenham – Lewis Holtby –tidak bernasib baik (Son, walau membela Tim Nasional Korea Selatan, selalu lebih merasa Jerman ketimbang Korea; ia bahkan berbicara dengan bahasa Jerman di Korea saat Leverkusen menjalani tur ke negara asalnya). Selalu ada tempat untuk pemain seperti Son. Lagipula sejarah mencatat Son selalu berhasil kalau naik kelas. Kali ini pun tampaknya akan tetap sama.

Pertanyaannya kemudian, apakah Son benar-benar naik kelas? Pindah dari Hamburger SV ke Bayer Leverkusen adalah naik kelas, namun dari Leverkusen ke Tottenham jelas bukan. Leverkusen langganan Champions League sementara Tottenham rutin mengakhiri musim di belakang rival sedaerahnya. Leverkusen kesebelasan papan atas sementara Tottenham akrab dengan papan tengah. Musim ini Leverkusen bermain di Champions League (koefisien 87.883) sementara Tottenham hanya ambil bagian Europa League. Dengan koefisien yang lebih rendah dari Leverkusen (84.078) pula.

Son mendapatkan apa yang ia cari – rutinitas bermain di Champions League – ketika meninggalkan Hamburg untuk Leverkusen. Tidak jelas apa motivasinya saat ini hingga ia rela menukar kemewahan Champions League dan papan atas Bundesliga dengan Europa League dan papan tengah Premier League. Yang pasti, Tottenham untung mendapatkan Son. Sebaliknya, Son rugi karena bergabung dengan Tottenham.

Komentar