Di María yang Cocok untuk PSG dan Akhir yang Menyenangkan Semua Pihak?

Taktik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Di María yang Cocok untuk PSG dan Akhir yang Menyenangkan Semua Pihak?

Jika ucapan pelatih kepala Paris Saint Germain, Laurent Blanc, dapat dipercaya, maka para pendukung Manchester United tidak akan lagi melihat Ángel Di María bermain di Old Trafford. Bersama para pendukung PSG yang tidak sabar melihat pemain kelas dunia menjadi bagian dari Paris, Zlatan Ibrahimovi? pun sangat berbahagia.

“Aku tidak tahu apakah urusan transfer ini sudah selesai namun tentu fantastis jika kita memiliki peluang bermain bersama dengan Di María,” ujar Ibra. “Dia sudah memenangi semuanya. Ia pemain fantastis yang bermain untuk kesebelasan.”

Ibra tentunya melebih-lebihkan. Di María kalah di final Piala Dunia dan bersama Manchester United ia hanya mengakhiri musim di peringkat keempat. Di María belum memenangi semuanya. Dan untuk bagian “pemain fantastis yang bermain untuk kesebelasan,” rasanya Ibra tidak akan mendapat persetujuan Louis van Gaal.

Tidak ada rasa keberatan yang tampak dari Van Gaal ketika PSG mendekati Di María. Bukan berarti Di María pemain yang egois dan tidak memikirkan rekan-rekan satu kesebelasannya; namun dalam taktik dan filosofi permainan Van Gaal memang tidak ada tempat untuk Di María.

Tentunya bukan karena Van Gaal merasa tidak memiliki Di María ketika ia berkata “tidak” ketika Jamie Jackson dari The Guardian bertanya apakah kesebelasan yang ia miliki saat ini sudah memuaskan dirinya.

“Tidak, karena kami masih harus mencari keseimbangan yang lebih baik, kreativitas yang lebih baik,” ujar Van Gaal. “Contohnya, Chelsea memiliki Hazard, Willian, dan Oscar. Mereka memiliki kreativitas yang baik.”

Senada dengan Van Gaal, Ed Woodward selaku executive vice-chairman Manchester United juga memberi indikasi bahwa Di María tidak cocok dengan taktik United; taktik Van Gaal. (Baca juga: Penguasaan Bola ala van Gaal Menghambat Di Maria)

“Seorang pemain harus paham tugasnya sebagai pemain,” ujar Woodward sebagaimana diwartakan Mirror. “Dan jika pemain itu bermain untuk Van Gaal, maka pemain tidak boleh hanya paham tugasnya sendiri, namun juga tugas-tugasnya di posisi yang ia mainkan, dan dengannya sang pemain mampu lebih banyak membantu pemain lain.”

Di María (dianggap) tidak banyak membantu di United. Namun di PSG, bisa jadi tidak begitu. Rasa bahagia yang Ibra rasakan sangat dapat diterima. Sementara di United, pemain Argentina tidak mampu berbuat banyak, bersama PSG sangat mungkin Di María dapat menjadi pemain yang sangat berguna. (Baca juga: Beberapa Jalan Keluar untuk Ángel Di María di Man United)

“Ia akan membuat kesebelasan lebih cepat,” ujar Ibra memprediksi sumbangan taktikal Di María kepada kesebelasannya. “Ia menghadirkan kualitas, kualitas yang baik dan tentunya ia akan membuat kesebelasan kami lebih baik dari sekarang.”

Ibra ada benarnya. Sangat tepat, malah. Pertanyaannya adalah: bagaimana?

Untuk mendapat jawabannya, kita harus terlebih dahulu memahami kondisi lini depan PSG.

Pada dasarnya, penyerang tunggal dan dua penyerang sayap PSG memilik tugas yang sangat spesifik: mencetak gol, dengan cara apa saja. Distribusi bola sepenuhnya menjadi tanggung jawab tiga gelandang; para penyerang PSG hanya tahu dilayani dan memaksimalkan layanan yang mereka dapatkan.

Untuk mengisi tiga tempat di lini depan, Laurent Blanc memiliki lima pemain utama: Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi, Lucas, Edinson Cavani, dan Zlatan Ibrahimovi?. Lucas banyak menepi karena cedera (dan selalu kalah saing dalam sembuhnya) sehingga pada praktiknya, Blanc hanya memiliki empat pemain saja.

Pastore posisi aslinya adalah penyerang lubang, namun tidak ada tempat untuknya dalam formasi tersebut sehingga ia terpaksa bermain di sayap. Karena Pastore tidak dapat bermain di sayap kanan, maka ditempatkanlah dirinya di sisi kiri. Lavezzi harus mengalah; sang penyerang sayap kiri harus rela bermain di sisi kanan.

Tersisalah dua pemain untuk satu posisi: Ibrahimovi? dan Cavani. Namun Ibra tidak tergoyahkan di posisi penyerang tengah sehingga Cavani harus bermain melebar di sayap kanan dan Lavezzi, lagi-lagi, harus mengalah.

Ibra memimpin serangan dengan peran ujung tombak dengan Pastore dan Cavani – dua pemain yang posisi aslinya bukan penyerang sayap tapi mendapat lebih banyak kesempatan bermain ketimbang Lavezzi yang fasih bermain di kedua sisi– di kedua sisinya.

Pastore, walau tidak memainkan peran favoritnya, tidak mengecewakan. Cavani juga tidak buruk-buruk amat. Namun dibanding Pastore, Cavani lebih payah menjalankan peran penyerang sayap. Dalam taktik Blanc yang pembagian perannya sudah sangat jelas, Cavani adalah pengacau. Tidak heran jika ia sempat terlibat adu mulut dengan Ibra di lapangan.

Kehadiran Di María akan memberi keseimbangan yang selama ini tidak mampu Cavani persembahkan. Di María yang kidal dan bermain di sisi kanan akan menjadi pasangan serasi untuk Pastore yang kuat di kaki kanan dan bermain di sayap kiri; seperti – di Bayern München – Arjen Robben dan Franck Ribéry.

Ibra dan Laurent Blanc memang layak senang jika Di Maria berhasil didatangkan ke Paris. Van Gaal, juga Ed Woodward, juga mungkin senang karena tak harus memikirkan gaji tinggi seorang pemain yang dirasanya tidak cocok untuk taktik United. Sementara Di Maria pun boleh jadi akan senang karena kini menemukan tempat yang menganggapnya sebagai sosok yang (di)perlu(kan) sekaligus penting.

Akhir yang akhirnya membahagiakan semua pihak. Sepertinya begitu.

Komentar