Apa Sebenarnya Filosofi Louis van Gaal?

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Apa Sebenarnya Filosofi Louis van Gaal?

Jika ada hal selain bertanding dan melatih sepakbola yang Louis van Gaal tampaknya kuasai, sepertinya hal tersebut adalah soal berpikir dan berbicara. Sayangnya berpikir dan berbicaranya juga soal permainan sepakbola.


Itulah sebabnya pelatih asal Belanda ini senang sekali berbicara tentang "filosofi"-nya.


“Satu yang paling penting adalah filosofi saya, dan ketika tim tetap dengan filosofi saya, tim bisa melakukannya karena setiap pemain telah bermain dalam filosofi tersebut,” katanya setelah kemenangan di Bulan Desember atas Liverpool.


Itu adalah pernyataan khas Van Gaal. Jika menang, ia mengatakan itu karena filosofi. Sementara jika kalah, ia akan mengatakan itu karena tim tidak menerapkan filosofinya dengan cukup baik.


Tapi enam bulan setelah kedatangannya di Old Trafford, ada banyak orang yang tidak benar-benar paham sepenuhnya apa filosofi Van Gaal tersebut. Beberapa orang tidak yakin, bahkan beberapa lainnya tidak memiliki petunjuk atau clue sama sekali.


Melihat karirnya sejauh ini, menarik sekali tentunya kita memahami apa sesungguhnya filosofi Van Gaal tersebut. Di Ajax Amsterdam, FC Barcelona, FC Bayern Munich, dan tim nasional Belanda, ia selalu bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip filosofi yang sama.


Sistem dan organisasi adalah nomor satu


Beberapa manajer melihat skuat yang tersedia untuk mereka, dari situ kemudian mereka mencoba menciptakan sistem taktis di sekitarnya. Tetapi tidak dengan Louis van Gaal.


Sebelumnya, Van Gaal selalu menggunakan sistem yang sama, yaitu 4-3-3 menyerang dengan peran yang jelas untuk setiap posisi. Itulah yang (biasanya) timnya akan mainkan. Tidak peduli apapun yang terjadi.


Kata “reaktif” tidak ada dalam pikiran Van Gaal. Pelatih asal Belanda ini tidak akan mengubah taktik, karena menurut Van Gaal, terserah lawan untuk bereaksi terhadap tim dan taktiknya, ia akan tetap sama. Ketabahan ini telah membawa Van Gaal mencapai banyak gelar di lemari pialanya.


Paling tidak, ini juga tentunya yang Van Gaal bawa ke Manchester United. Namun, badai cedera yang datang malah membuat Van Gaal telah menggunakan sebagian besar pemainnya yang tersedia di sepanjang Liga Premier, yaitu total 31 pemain. Luar biasa.


Ia telah merubah formasi lima kali. Formasi favoritnya, 4-3-3, hanya ia pakai sekali saja. Dia juga telah memilih pemain tidak sesuai dengan posisi alaminya.


Van Gaal lebih sering memakai formasi tiga bek, yaitu sebanyak 11 pertandingan. Dari pertandingan sebanyak itu, ia hanya berhasil memenangkan 4 di antaranya, sementara kalah 2 kali (termasuk yang terakhir saat menghadapi Southampton di kandang sendiri).


Formasi

Pemain yang memiliki profil di setiap posisi

Beberapa manajer akan membeli striker produktif hanya karena dia mencetak banyak gol. Mereka juga mungkin membeli bek karena dia baik dalam bertahan, apapun acuannya. Namun, Van Gaal punya aturannya sendiri.


Sebagai bagian dari filsafat, ia telah mengembangkan beberapa “profil” untuk setiap posisi dalam sistemnya. Profil ini menceritakan apa yang dia inginkan dari pemain di posisi tertentu.


Bek misalnya, harus juga memiliki kemampuan operan yang baik (ball-playing defender) dan bisa mengatur serangan. Sementara striker juga harus mampu menahan bola, melakukan track-back, dan mengoper ke gelandang serang atau sayap.


Hanya dengan “profil” dalam pikirannya tersebut yang akan membuat Van Gaal bergerak di bursa transfer. Pelatih asal Belanda ini tahu persis seperti apa jenis pemain yang dia cari. Semua yang dia perlu lakukan adalah pergi keluar dan menemukan pemain tersebut.


Namun, seperti yang dijelaskan pada poin filosofi nomor satu, Van Gaal sudah banyak memainkan pemain di luar posisi alaminya. Badai cedera lagi-lagi menjadi alasan klise.


Ternyata filosofi ini juga yang membuat Van Gaal telah membawa keyakinan yang lebih baik daripada David Moyes. Setidaknya dia telah mendapat performa yang lebih baik dari Ashley Young, Antonio Valencia, dan Marouane Fellaini daripada saat Moyes dulu.


Ia ingin pemain untuk memiliki pemahaman tentang posisi mereka dalam kaitannya dengan bola dan ruang dari rekan tim maupun lawan.


Di United juga dia suka pemain multi-fungsi, sesuai dengan kesukaannya pada saat fleksibilitas taktis (berbeda dari formasi), dan dia bukan penggemar pemain satu-dimensi (kabar buruk bagi Javier Hernandez dan Adnan Januzaj).


Dia obsesif dalam ketajaman untuk memiliki keseimbangan dan, khususnya, bek tengah berkaki kiri. Dia ingin pemain yang bisa mengoper bola keluar dari belakang. Dia tidak suka pemain egois.


Ini juga yang membuat Van Gaal bersikeras ingin mendatangkan bek tengah berkaki kidal (contohnya Thomas Vermaelen) pada awal musim, karena ia ingin bek yang bisa memainkan bola dari belakang yang akan ia plot di posisi bagian kiri. Akhirnya ia mendapatkan Marcos Rojo.


Pemain muda adalah masa depan


Van Gaal tidak selalu menginginkan pemain bintang. Itu sebabnya ia sempat memiliki beberapa masalah dengan Rivaldo atau Franck Ribery. Mungkin sebagian karena Van Gaal lebih suka menempatkan banyak pemain muda dan lulusan akademi.


Anak-anak muda memang selalu ingin belajar, bertentangan dengan pemain bintang. Mereka akan dengan senang hati mendengarkan pelajaran tentang “profil” dan “tanggung jawab”.


Van Gaal mencapai beberapa hal yang luar biasa dengan anak-anak. Ketika ia memenangkan Liga Champions bersama Ajax pada tahun 1995, ia melakukannya dengan skuat yang sebagian besar terdiri dari pemain akademi seperti Clarence Seedorf, Edgar Davids, Frank de Boer, dan Patrick Kluivert.


Ini juga yang membuat Van Gaal, ketika ia tidak kunjung mendapatkan bek berkaki kiri (sebelum Rojo datang), ia malah memainkan Tyler Blackett. Selain Blackett, Patrick McNair juga telah diberikan kesempatan yang mengejutkan di posisi bek. Kemudian juga ada James Wilson yang sering diturunkan sebagai penyerang cadangan.


Sepakbola atraktif


Menurut Van Gaal, semua hal di atas tidak akan berarti apa-apa jika sepakbola di atas lapangan tidak enak dipandang. Berkali-kali ia telah menegaskan bahwa ia ingin timnya bermain atraktif, yaitu sepakbola menyerang.


Van Gaal melihatnya sebagai kewajiban moral untuk menghibur penonton. Itu sebabnya timnya selalu mencoba menguasai bola, sementara secara bersamaan berusaha untuk mencetak banyak gol.


Musim ini United memiliki rata-rata penguasaan bola sebanyak 59% dan juga akurasi operan sebesar 85,2%. Van Gaal memang nabinya sepakbola operan.


Tapi United seperti tidak memiliki rencana cadangan yang bonafid. Memainkan bola panjang untuk Fellaini berkali-kali ia luncurkan ketika tim sedang mengalami kebuntuan, termasuk saat melawan Southampton akhir pekan lalu.


Bayangkan kritik seperti apa yang akan Moyes terima jika Moyes mengadopsi pendekatan yang sama dengan Van Gaal di atas. Van Gaal juga dinilai jelas sebagai pragmatis di Piala Dunia 2014 ketika Belanda sering bermain tanpa bola. Pragmatis, tapi efektif? Tergantung.


Dari penjelasan di atas, manajer berusia 63 tahun ini seharusnya menjadi imam besar sepakbola menyerang, namun United hanya mencetak dua gol lebih banyak dari West Ham, yaitu 34 gol.


Terbaru, United tidak bisa mencatat satu pun tembakan ke arah gawang melawan Southampton. Padahal mereka memiliki Angel Di Maria, Juan Manuel Mata, Radamel Falcao (tidak bermain melawan Southampton), Robin van Persie, dan Wayne Rooney.


Berseberangan dengan lini depan, United malah tidak pelit di belakang ("tidak pelit" di sini sebuah pernyataan negatif tentunya). Lawan telah mengerahkan 83 tembakan ke arah gawang United, lebih banyak daripada Everton yang memiliki rekor pertahanan terburuk kedua di Liga Primer setelah Leicester City.


Beruntungnya, mereka memiliki performa yang luar biasa dari David De Gea. Meskipun sudah "dihajar" 83 kali, mereka hanya kebobolan 21 gol.


Kesimpulan


Hal-hal di atas adalah filosofi utama dari Louis van Gaal. Jadi, setelah ini, jika Anda ditanya apa saja filosofi Louis van Gaal, Anda harus sudah bisa menjawabnya.


Namun, memang harus diakui bahwa filosofinya tersebut masih belum ia aplikasikan dengan baik di United. Badai cedera adalah salah satu alasan yang menjadi efek domino.


Dengan 37 poin dari 21 pertandingan, Van Gaal telah meraih jumlah poin yang sama dengan David Moyes pada jumlah pertandingan yang sama di musim lalu. Beruntung saja Van Gaal berada di peringkat 4, sementara musim lalu Moyes di peringkat 7, padahal dengan poin yang sama.


Beruntung juga Van Gaal memiliki De Gea di bawah mistar. Andaikan De gea tidak memiliki performa seperti ini, mungkin United sudah banyak kebobolan, kehilangan poin, dan sekarang berada di peringkat 10. Bisa jadi.


Jadi, apakah filosofi Van Gaal sudah berhasil? Kita semua tentunya punya jawaban masing-masing. 


Louis van Gaal, Benteng Terakhir United dalam Perang Komentar di Media


Angka

Infografis: Irfan Muhammad


Sumber gambar: Getty Images

Komentar