Benarkah Pemain Kelelahan Setelah Piala Dunia?

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Benarkah Pemain Kelelahan Setelah Piala Dunia?

Setiap musimnya pemain sepakbola memiliki libur off-season kira-kira dua bulan. Jika sang pemain mengikuti kompetisi seperti Piala Dunia, Piala Eropa, atau Copa America, waktu libur mereka akan semakin pendek lagi.

Pelaksanaan Piala Dunia 2018 sendiri berbarengan dengan beberapa pertandingan pra-musim, terutama di Eropa.

Jarak antara final Piala Dunia 2018 ke pertandingan pertama International Champions Cup (anggap saja ICC sebagai pra-musim sesungguhnya), hanya kurang dari satu pekan. Bagaimana mereka semua bisa liburan? Kita saja sebagai penonton tak bisa libur sejenak dari sepakbola.

Peran Penting Pra-Musim untuk Mengembalikan Performa

Memang tidak semua pemain sepakbola berlaga di Piala Dunia, Piala Eropa, atau Copa America. Turnamen seperti Piala Dunia hanya melibatkan 736 pemain (Piala Dunia dengan 48 tim akan melibatkan 1104 pemain).

Dari angka sebanyak itu, mungkin tak sampai sepertiganya yang bermain reguler di turnamen tersebut.

Kemudian dari angka sebanyak itu, mungkin tak sampai 300 pemain yang terlibat dari fase gugur sampai ke final. Jadi seharusnya itu tidak masalah, dong?

Masalahnya kesebelasan-kesebelasan papan atas dunia memiliki pemain-pemain yang berlaga di Piala Dunia, Piala Eropa, atau Copa América (maaf, ya, Piala Emas dan piala-piala yang lain), sehingga keterlibatan mereka menjadi hal yang sangat berpengaruh.

Kita juga tak bisa meremehkan arti penting pra-musim, karena setelah liburan, semua pihak yang terlibat dalam sebuah kesebelasan dituntut untuk kembali siap bekerja secara profesional, bukan hanya fisik, tapi juga mental mereka.

Baca juga: Mengapa Persiapan dan Latihan Pra-Musim Itu Sangat Penting?

Para pemain yang terlibat di turnamen seperti Piala Dunia (bahkan penghangat bangku pemain pengganti pun) biasanya tidak akan langsung bergabung di latihan pra-musim. Itu akan memberi dampak positif sekaligus negatif.

Positifnya, pemain akan punya waktu istirahat yang lebih panjang. Negatifnya, mereka jadi terlambat kembali ke performa optimal; setidaknya mereka akan kalah dibandingkan para pemain yang tak terlibat di turnamen seperti Piala Dunia.

Sebenarnya secara umum beberapa kesebelasan memberikan program latihan kepada pemain saat akhir musim sehingga pemain bisa terus memperhatikan fisiknya selama liburan. Pada prinsipnya, pemain akan terus berusaha menjaga bentuk fisik terbaik mereka selama liburan. Inilah kenapa atlet profesional—bukan hanya pesepakbola—adalah mereka yang profesional di mana pun (di dalam dan di luar lapangan) dan kapan pun (pada musim bergulir maupun saat liburan).

Kelelahan Setelah Piala Dunia untuk Man City dan Liga Primer

Bermain di turnamen seperti Piala Dunia tak membuat pemain kelelahan secara mental. Umumnya mereka termotivasi karena merasa bangga, bahkan ketika tersingkir. Namun kelelahan fisik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Dari 736 pemain yang terlibat di Piala Dunia 2018 (termasuk Nicola Kalinic), 129 (17,53%) di antaranya bermain di Inggris, 81 di Spanyol, 67 di Jerman, 58 di Italia, dan 49 di Perancis.

Untuk satu kesebelasan, Manchester City menjadi penyumbang terbanyak dengan 16 pemain, disusul Real Madrid (15 pemain), Barcelona (14), Paris Saint-Germain (12), dan Tottenham Hotspur (12).

Dari data di atas, apakah kemudian kita bisa menyimpulkan jika Liga Inggris dan Manchester City adalah liga dan kesebelasan yang paling merasakan dampak buruk di awal musim setelah Piala Dunia 2018?

Dari tabel yang disusun Simon Brundish bersama Fatigue Index di atas, kita bisa melihat Man City dan Spurs memang menjadi kesebelasan yang kebanyakan pemainnya memiliki waktu pra-musim yang sempit. Liga Primer sendiri akan dimulai pada 11 Agustus 2018, tidak sampai satu bulan sejak final Piala Dunia 2018.

Pada pertandingan pertama di ICC 2018 melawan Borussia Dortmund (21/7), Man City tak memainkan mereka yang sebelumnya dipanggil ke Piala Dunia.

Dari susunan starter dan pemain pengganti, masih ada nama-nama seperti Leroy Sane, Riyad Mahrez, sampai Claudio Bravo. Namun ada juga nama-nama yang sebelumnya tak pernah terdengar seperti Eric Garcia, Ayotomiwa Dele-Bashiru, Benjamin Garre, dan Nabili Touaizi.

Saat melawan Liverpool (26/7) juga nama-nama di atas masih bermain. Sementara Liverpool, sama seperti Man City, memainkan pemain-pemain non-reguler seperti Daniel Sturridge, Curtis Jones, sampai Nathaniel Phillips.

Itu semua wajar karena semenarik apa pun ICC, turnamen tersebut tetap saja pra-musim. Hal yang patut dinantikan apakah pemain-pemain seperti Kevin De Bruyne, Kyle Walker, David Silva, Sergio Aguero, dan Gabriel Jesus sudah kembali ke bentuk terbaik mereka ketika Man City membuka Liga Primer menghadapi Arsenal (12/8).

Tidak Ada Pengaruh Signifikan di Awal Musim

Penelitian dari Radbound University Nijemegen (Belanda) menunjukkan pesepakbola profesional dan semi-pro yang kelelahan akan cenderung menyimpan tenaganya ketika bertanding. Misalnya pemain bertahan yang kelelahan tak akan bekerja keras untuk melakukan intersepsi dan tekel.

Melihat hasil penelitian di atas, rasanya Man City, Spurs, dan Liga Primer patut waspada.

Namun kesimpulan tersebut tak berdampak kepada pemain amatir. Bagi pemain amatir, tingkat kelelahan tak memengaruhi mereka untuk bermain lebih malas.

Itu menunjukkan hal bagus, karena kebanyakan pesepakbola bermain di tingkat amatir, namun juga menunjukkan hal buruk karena pesepakbola profesional adalah mereka yang kita tonton setiap saat serta menjadi inspirasi bagi anak-anak dan juga pesepakbola amatir.

Baca juga: Tips Melakukan Istirahat Pasca Latihan Berat

Untuk menjawab keresahan ini, para pesepakbola bisa melihat kembali penelitian Vincenzo Scoppa dari University of Calabria (Italia) pada 2013. Pada penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Sports Economics tersebut, Scoppa menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara hari istirahat pra-musim dengan performa kesebelasan di awal musim reguler.

Ia mengambil data dari Piala Dunia 1930 sampai 2010 serta Piala Eropa 1960 sampai 2012. Analisisnya menghasilkan kesimpulan kesebelasan yang banyak menyumbang pemain di Piala Dunia atau Piala Eropa sebelumnya tetap akan mendapatkan poin tinggi, mencetak banyak gol, dan kebobolan lebih sedikit di awal musim.

Pada penelitian itu, pengaruh negatif kelelahan hanya ditunjukkan jika ada kesebelasan yang bermain lebih dari satu pertandingan pada jeda tiga hari.

Jadi, melihat penelitian-penelitian di atas, seharusnya kesebelasan-kesebelasan papan atas dunia tak perlu khawatir akan kelelahan di awal musim meski pemain-pemain mereka bermain sampai final Piala Dunia. Itu semua justru bisa diatasi dengan manajemen istirahat dan program pra-musim yang baik dan benar.

Pada tingkat sepakbola tertinggi seperti Liga Primer, La Liga Spanyol, Serie A Italia, dan liga-liga lainnya, kita benar-benar ditunjukkan makna profesionalisme pesepakbola ketika mereka bisa bersikap profesional kapan pun dan di mana pun. Ketika liburan maupun ketika tidak sedang bersama kesebelasan.

Itu yang membuat kelelahan di Piala Dunia, Piala Eropa, atau Copa America tak berpengaruh banyak kepada mereka yang profesional.

Sumber jurnal:

  • Barte, J., Nieuwnhuys, A., Geurts, S., Kompier, M. (2017) Effects of fatigue on interception decisions in soccer. International Journal of Sport and Exercise Psychology, DOI: 10.1080/1612197X.2018.1478869
  • Scoppa, V. (2013) Fatigue and Team Performance in Soccer: Evidence From the FIFA World Cup and the UEFA European Championship. Journal of Sports Economics, DOI: 10.1177/1527002513502794

Komentar