Jangan Mau Jadi Tuan Rumah Piala Dunia!

Sains

by Dex Glenniza 30765

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Jangan Mau Jadi Tuan Rumah Piala Dunia!

Komite Olimpiade Internasional pernah menyimpulkan bahwa menjadi tuan rumah acara olahraga seperti Olimpiade atau Piala Dunia (sepakbola) tak membuat sebuah negara bertambah kaya. Lalu kenapa banyak negara yang mau menjadi tuan rumah acara olahraga?

Secara singkat, alasan politisnya adalah itu bisa menjadi magnet bagi turis, menaikkan nama kota atau negara, kebanggaan, sampai warisan jalan dan infrastruktur yang tercipta untuk dimanfaatkan sampai generasi-generasi berikutnya.

Dalam film Field of Dreams, ada kutipan yang terkenal: “Jika kamu membangunnya, mereka akan datang.” Jadi, membangun stadion di lokasi antah berantah akan membuat orang-orang berdatangan. Begitu bukan?

Neil deMause dan Joanna Cagan, penulis buku Field of Schemes, menyatakan jika argumen tipikalnya akan seperti ini: membangun stadion akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan—pertama untuk pekerja konstruksi, kemudian untuk pekerja yang bekerja di stadion tersebut setelah terbangun. Fans juga akan datang ke stadion dan menghabiskan uang di sana.

Jika stadion menjadi daya tarik, area di sekitarnya akan juga berkembang. Banyak orang tertarik pindah ke sana, menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru di sekitarnya.

Ron Baade sempat mempublikasikan penelitian pada 1987: “Bertentangan dengan klaim ofisial kota, studi ini menjelaskan jika olahraga dan stadion tak berdampak positif kepada ekonomi kota dan, dalam konteks regional, malah justru berkontribusi pada berkurangnya pemasukan.”

Pertanyaan Baade antara lain adalah dari mana pekerja konstruksi stadion berasal? Apakah sebelumnya mereka punya pekerjaan? Kalau iya, kan, mereka justru menciptakan lowongan dan kekurangan pekerja di daerah yang mereka tinggalkan.

Anggaran Pasti Membengkak

Piala Dunia 2018 di Rusia akan memakai 12 stadion di 11 kota. Total biaya penyelenggaraan Piala Dunia Rusia adalah 11,8 miliar dolar AS atau sekitar 165 triliun rupiah.

Menurut laporan Martin Müller dari Universität Zürich, 51% pengeluaran dilakukan untuk kebutuhan transportasi (fokus di pesawat karena Moskow-Sochi saja bisa 26 jam jika memakai kereta) dan 26% untuk infrastruktur; dengan 51% anggaran berasal dari negara, 34% dari sektor swasta, dan sisanya dari regional (pemkot).

Anggaran ini terlampau tinggi dan sebenarnya bisa dikurangi. Para peneliti di SEO Economic Research, Amsterdam, Belanda, sempat iseng melakukan fomulasi jika saja setiap penduduk mau menyumbang 9 euro (Rp133.600), maka masalah-masalah anggaran ini bisa tertutupi.

Acara olahraga memang hampir selalu menghabiskan uang lebih banyak daripada anggaran yang direncanakan. Pada 2016, peneliti dari Saïd Business School di Oxford menganalisis 30 Olimpiade (baik musim panas maupun musim dingin). Mereka menyimpulkan jika tak satu pun yang sesuai dengan rencana anggaran awal.

Hal ini terjadi karena awalnya semua orang ingin murah, tapi seiring berjalannya waktu, mendekati tenggat waktu, pihak pembangun akan menaikkan standar karena sadar pemerintah akan mendukung mereka dan akan membayar.

Seringnya konstruksi stadion molor sehingga pembangun akan bilang, “Ups, ini lebih mahal ternyata. Kasih kami uang lagi atau ini tak akan selesai. Jika ini tak selesai, kamu akan terlihat bodoh di mata dunia.” Piala Dunia adalah mesin uang para pihak pembangun stadion.

Baca juga: Jalan Panjang dan Berliku Menuju Stadion

Contohnya, stadion di Brasilia dibangun dengan megah untuk Piala Dunia 2014. Biaya pembangunannya mencapai 900 juta dolar AS, sekitar tiga kali lipat dari harga estimasi.

Namun beberapa bulan setelahnya malah dipakai untuk depot bus. Bagaimana jika dibongkar? Apakah malah jadi sayang? Nyatanya pembongkaran bisa menghemat 200.000 dolar AS per bulan untuk biaya perawatannya.

Di Afrika Selatan 2010 lebih parah. Pada 2004 direncanakan jika Piala Dunia 2010 hanya akan menghabiskan 170 juta dolar AS. Angka itu didapat dari rencana memakai stadion yang sudah ada dan membangun beberapa saja. Saat itu FIFA setuju meski kebanyakan stadion di Afrika Selatan mayoritas tak memiliki atap.

Akan tetapi kemudian, para sponsor tidak mau kebasahan dan kepanasan, ditambah FIFA yang malah berubah sikap dengan meminta kesempurnaan, serta pejabat kota juga ingin punya stadion megah di setiap kotanya. Akhirnya anggaran untuk stadion bertambah 10 kali lipat dari rencana awal.

Saat ini, banyak stadion Piala Dunia 2010 menjadi “gajah putih”. Stadion-stadion terlalu besar untuk dipakai tim lokal (bukan hanya sepakbola). Bahkan tim lokal saja belum tentu bermain di divisi tertinggi. Semuanya, lagi-lagi, sia-sia.

Warisan Terbesar Piala Dunia: Infrastruktur dan Transportasi

Laporan Igor Rabiner, jurnalis olahraga Rusia, menyatakan jika pembengkakan anggaran terjadi karena organisasi yang buruk dan korupsi. Ia memfokuskan penelitiannya di Rusia.

Temuan Rabiner diamini oleh laporan World Bank pada 2014, yang menunjukkan jika angka korupsi dan penyalahgunaan anggaran di Rusia dan juga Qatar (sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022) adalah dua yang terbesar di dunia.

Jérôme Valcke, mantan Sekjen FIFA, menyatakan dengan jelas: “Kadang sedikit tak demokratis lebih baik untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia.”

FIFA menganggap lebih mudah memberikan jatah tuan rumah Piala Dunia kepada negara autokrasi (diktator) seperti Rusia dan Qatar, di mana jika ada yang protes, mereka bisa dibungkam. Bukan kebetulan Rusia dan Qatar juga punya masalah laten soal HAM.

Hal ini senada dengan pemilihan tuan rumah Piala Afrika: Angola, Gabon, dan Guinena Khatulistiwa (dua kali).

Menurut Alexander Djordjadze, Direktur FIFA dan LOC Piala Dunia 2018, menjadi tuan rumah Piala Dunia bukanlah karena faktor uang. “Untuk Rusia, kami berpendapat jika Piala Dunia bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ini adalah Rusia yang baru. Ini juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan infrastruktur. Di kota-kota penyelenggara, investasi besar akan dilakukan oleh pemerintah kepada bandara, rel kereta, sistem komunikasi, dan infrastruktur olahraga seperti stadion. Itu semua adalah bagian dari warisan Piala Dunia,” katanya.

Berbicara soal warisan (legacy) acara-acara olahraga seperti Piala Dunia, Olimpiade, Asian Games, sampai yang sekelas Pekan Olahraga Nasional (PON), salah satu warisan terbesar dari itu semua memang adalah infrastruktur dan transportasi.

Di Afrika Selatan (peningkatan turisme 10% setelah Piala Dunia) dan Brasil (2,5%) misalnya, jika bukan karena Piala Dunia, investasi-investasi terhadap infrastruktur dan transportasi tidak akan segencar itu.

Masalahnya, investasi yang besar terhadap infrastruktur dan transportasi di negara-negara berkembang tidak akan maksimal dalam jangka panjang setelah acara olahraga selesai.

Jika mereka hanya bicara efisiensi dan efektivitas (bukan kebanggaan negara dan politik), uang-uang tersebut sebaiknya diinvestasikan untuk pendidikan dan kesehatan, yang merupakan dua sektor yang sangat penting di negara-negara berkembang.

Kalau ada uang yang masuk, pasti ada yang keluar. Misalnya jika anggaran untuk stadion diperbesar, anggaran untuk (contoh) pendidikan dan kesehatan akan tambah kecil. Kalau kota atau negara tak menyeimbangkan anggaran, itu akan menjadi masalah bagi publik di masa depan.

Contoh nyata ada di Piala Eropa 2012. Salah satu kota penyelenggara, Poznan (Polandia), harus memotong anggaran pendidikan sampai 7 juta dolar AS karena anggaran sebelumnya dipakai untuk fan zone.

Baca juga: Agar Terus Hidup, Stadion Jangan Hanya untuk Olahraga

Stadion, kan, tidak dipakai setiap hari. Bahkan untuk konser sekalipun, tak ada konser setiap hari. Kalaupun ada konser, belum tentu itu artis besar yang menyedot banyak fans. Seringnya area sekitar stadion sepi. Tak ada yang mau tinggal atau bekerja di tempat yang seringnya sepi.

Daripada stadion, banyak orang lebih ingin datang ke mal atau bioskop. Itu lebih menguntungkan. Bahkan mengesampingkan hiburan, pembangunan rumah sakit malah lebih menguntungkan lagi.

Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia Hanya Bikin Miskin

Banyak orang membicarakan warisan. Padahal akhirnya banyak stadion menjadi terlalu besar, fasilitas akan terbengkalai, bandara juga jadi terlalu besar padahal traffic setelah turnamen tidak lagi tinggi. Apalagi jika ini dikombinasikan dengan perilaku korup dan ketidakefisienan pemerintah, maka keuntungan investasipun akan cepat menyublim.

Sekarang orang-orang setuju dengan Baade: menjadi tuan rumah acara olahraga tak membuat orang menjadi kaya. Pertanyaannya: kenapa masih saja banyak negara yang mau? Ternyata jawabannya memang tak ada hubungannya dengan keuntungan ekonomi.

Menurut Simon Kuper dan Stefan Szymanski di Soccernomics, menjadi tuan rumah Piala Dunia memang tak menjadikanmu kaya, tapi menjadikanmu bahagia. Benarkah?

Kebanyakan dari kita akan mengasosiasikan kebahagiaan dengan kekayaan. Padahal mendapatkan banyak uang tak lantas membuat kita menjadi bahagia.

“Banyak orang mau dapat pemasukan lebih besar dan mereka berusaha untuk itu. Namun ketika masyarakat Barat bertambah kaya, ternyata mereka tak lebih bahagia,” kata Richard Layard, dalam Happiness: Lessons from a New Science. Apa yang kita anggap kemewahan lambat laun akan menjadi kebutuhan.

Studi dari Eurobarometer menunjukkan jika menjadi tuan rumah Piala Dunia tak membuat negara bertambah kaya, tapi akan lebih membuat mereka gembira. Selain survei, Georgios Kavetsos dan Stefan Szymanski dalam penelitian tersebut memakai beberapa acuan antara lain pemasukan, usia, status pernikahan, dll.

Apakah tinggal di negara tuan rumah menciptakan perbedaan? Mereka menemukan jawaban positif untuk Italia (Piala Dunia 1990), Perancis (PD 1998), Italia (Euro 1980), Perancis (Euro 1984), Jerman Barat (Euro 1988), serta Belanda-Belgia (Euro 2000). Jawaban negatif hanya mereka dapatkan dari Inggris (Euro 1996).

Semua orang bahkan sampai orang tua dan orang tak berpendidikan, kecuali perempuan, menyatakan jika mereka lebih bahagia. Jika sebuah negara menjadi tuan rumah, orang-orang akan berkumpul, nonton bareng, di ruang tamu, di bar, kemudian satu negara tiba-tiba peduli dengan satu acara. “You don’t throw a party to make money, but to make you happy,” bunyi penelitian tersebut.

Politisi juga lebih bahagia. Normalnya sulit membangun infrastruktur dan jalan. Namun itu berubah begitu menjadi tuan rumah.

Di Indonesia, kita mendapatkan contoh langsung dari Asian Games 2018 ketika kita lebih bisa mewajarkan Jakarta menjadi macet karena pembangunan infrastruktur pendukung di sana-sini. Kalau tak ada Asian Games, kita mungkin bisa protes lebih keras.

Masalahnya, mengukur ekonomi akan lebih mudah dan pasti daripada mengukur kebahagiaan. Namun kembali, membangun infrastruktur saja akan lebih murah (bukan lebih mudah) daripada harus menjadi tuan rumah dahulu. Jadi kesimpulannya, jika ingin ekonomi dan infrastruktur maju, menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan cara yang efisien.

Komentar