Salah Kaprah Istilah Marquee Player di Indonesia

Sains

by Dex Glenniza 332276

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor at Pandit Football Indonesia, head of content at Box2Box Football, podcaster at Footballieur, writer at Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Salah Kaprah Istilah Marquee Player di Indonesia

Lanjutan dari halaman sebelumnya

“Aku pikir ide keseluruhan dari marquee player belum terpikirkan [secara matang oleh PSSI]. Keputusan ini dibuat oleh orang-orang non-teknis, bisa jadi karena pasar [pemain] dan pemasaran [sepakbola] yang melibatkan banyak nama,” adalah kutipan yang saya dapatkan dari hasil wawancara dengan Robert René Alberts, manajer PSM Makassar.

Setelah saya melakukan kajian terhadap jurnal-jurnal di atas, saya cenderung setuju dengan Alberts. Dari seluruh jurnal yang saya kaji tersebut, semuanya menyebut pentingnya batas gaji (salary cap), bahkan yang meneliti di India sekalipun (mereka menilai marquee player lebih berdasarkan kepada kemampuan pemain).

Jangan-jangan, sebenarnya salary cap ini lah yang menjadi inti dari definisi marquee player?

Menuntut transparansi finansial melalui salary cap

Bayangkan misalnya pemain seperti Bambang Pamungkas yang memiliki 85 caps (terbanyak di Indonesia) dan 38 gol (terbanyak di Indonesia) untuk tim nasional Indonesia, sebenarnya adalah pemain yang pantas untuk memiliki nilai kontrak tertinggi di Indonesia. Sehingga, taruh saja, misalnya gajinya bisa mencapai 10 miliar rupiah per tahun (ini contoh saja, ya).

Jika kita memakai acuan salary cap untuk menilai Bambang, kita akan mendapatinya sebagai marquee player meskipun Bambang Pamungkas bukan pemain asing, tidak pernah bermain di Piala Dunia, dan sudah berusia 36 tahun.

Hal ini tidak mengherankan. Beberapa liga di dunia bahkan memiliki marquee player yang berasal dari negara mereka sendiri, seperti Tim Howard (marquee player asal Amerika Serikat di Liga Amerika Serikat) dan Tim Cahill (marquee, atau lebih tepatnya guest player asal Australia di Liga Australia).

Bisa jadi juga, misalnya jika Marouane Chamakh (33 tahun) jadi dikontrak oleh salah satu kesebelasan Indonesia, ia mendapat kontrak dengan dibayar setiap pertandingan saja, bukan per tahun, dengan nilai 15 juta rupiah setiap kali ia merumput dan tambahan 5 juta rupiah setiap kali ia berhasil mencetak gol (lagi-lagi, ini contoh saja, ya). Bahkan dengan nilai ini saja, Chamakh yang merupakan "pemain yang pernah bermain di liga top dunia" sebenarnya tidak masuk ke dalam kategori marquee player karena nilai kontraknya tergolong tidak tinggi, jika kita memakai acuan salary cap.

Dari yang saya tangkap di keenam jurnal tadi, penentuan acuan marquee player ini menjadi penting, karena misalnya dengan menggunakan batasan gaji (salary cap) sebagai dasar, kesebelasan akan transparan soal pemasukan, pengeluaran, dan kontrak pemain mereka.

Maka dari itu, kita jarang melihat adanya kasus seperti penunggakan gaji atau korupsi besar-besaran di Australia dan Amerika Serikat (dari jurnal-jurnal tersebut). Kalaupun ada masalah, pihak liga, negara, ataupun federasi langsung siap membantu1.

Hal ini pernah terjadi di A-League 2012/13. Saat itu manajemen liga menarik kembali lisensi Gold Coast United karena kesebelasan asal pantai timur Australia tersebut dinilai gagal menciptakan basis suporter yang kuat serta mereka juga memiliki kondisi finansial yang tidak mendukung. Selanjutnya, posisi Gold Coast langsung digantikan oleh Western Sydney Wanderers yang merupakan kesebelasan baru bentukan liga3.

Jadi, menurut para peneliti, acuan marquee player dengan menggunakan salary cap ini penting untuk menyoroti transparansi keuangan kesebelasan.

Sebagai contoh lainnya, waktu perkenalan Essien di Grha Persib, saya sendiri hadir dan bertanya ke sana ke mari soal nilai kontrak Essien. Saya bertanya mulai dari manajer, pelatih, panitia pelaksana, manajemen kesebelasan, sampai agen Essien, dan saya tidak mendapatkan jawaban nilai kontrak Essien. Sampai sekarang, jika kita percaya gosip pun, sebenarnya informasi nilai kontrak Essien beragam, mulai dari 8,5 sampai 10 miliar rupiah.

Siapa tahu gaji Essien, misalnya, hanya 2 miliar rupiah per tahun. Jika itu terjadi, maka saya kira pembicaraan Essien sebagai marquee player tidak akan seramai kemarin-kemarin, dan bahkan Essien sendiri tidak pantas disebut sebagai marquee player jika angka tersebut adalah angka kontraknya.

Atau persepsi kita selama ini jika Persib adalah kesebelasan yang sehat, yang belum atau tidak pernah menunggak gaji pemain mereka, juga jangan-jangan bisa gugur jika Persib sudah melakukan transparansi dalam keuangan kesebelasan mereka.

Kenapa hal ini menjadi penting? Karena jika kita sudah mendapatkan transparansi keuangan kesebelasan, berarti kita juga akan mudah untuk mendapatkan transparansi keuangan liga, federasi, dan negara. Dengan begitu, masalah-masalah klasik di Indonesia seperti penunggakan gaji, pengaturan skor, korupsi, dll, bisa diminimalisir dan bahkan dicegah.

Jadi bagi penonton sepakbola di Indonesia, terutama Bobotoh, mohon jangan bosan untuk terus bertanya kepastian nilai kontrak Essien. Jika kalian sudah mendapatkannya, jangan sungkan untuk berbagi.

Definisi “marquee player” yang sepertinya kurang tepat dari PSSI

Semuanya juga bisa dimulai dari PSSI yang mendefiniskan lagi apa itu marquee player. Semoga mereka cepat-cepat melakukan revisi untuk peraturan yang satu ini, supaya tidak terjadi salah kaprah.

Kalau dari yang saya tangkap, poin terpenting dari marquee player adalah nilai kontrak mereka. Hal tersebut bisa dicapai dengan penerapan "salary cap", bukan melalui standar “pemain Piala Dunia”, “pemain liga top”, “pemain berusia di bawah 35 tahun”, atau apapun itu.

Batasan gaji atau salary cap itu sendiri memang beragam di setiap negara. Di MLS musim ini misalnya, batasan gaji setiap kesebelasan adalah 3,845 juta dolar AS (51 miliar rupiah), tidak termasuk designated atau marquee player, sedangkan gaji maksimal satu pemain adalah 480.625 dolar AS (6,4 miliar rupiah). Kemudian salary cap di A-League 2014/2015 adalah 2,55 juta dolar Australia (26 miliar rupiah) yang tidak termasuk satu marquee player dan satu guest player.

Jika diterapkan di Indonesia, saya belum tahu pastinya salary cap yang cocok. Butuh studi yang lebih jauh lagi. Yang jelas, keuntungan salary cap ini umumnya adalah untuk mempromosikan keseimbangan di antara kesebelasan-kesebelasan dan pengendalian keuangan. Salah satu yang paling membuat tidak enak jika ada salary cap hanya terjadi ketika kita bermain gim sepakbola seperti Football Manager.

“Untuk perspektif ini, [peraturan marquee player] adalah langkah yang keliru [dari PSSI] apalagi jika mereka baru menetapkannya ketika awal musim sudah di depan mata,” kata Robert Alberts.

Kembali mengingatkan, Essien diperkenalkan kepada publik Bandung pada Selasa (14/03), sementara PSSI baru mengetuk palu untuk regulasi marquee player pada Kamis (16/03), atau dua hari setelahnya. Jadi, kita sudah bisa melihat pola proses keputusan PSSI ini, kan?

Ketidakjelasan marquee player ini lah yang mengingatkan kita lagi agar kesebelasan-kesebelasan di Indonesia jangan sampai terjebak dengan marquee player yang sejujurnya tidak jelas ini.


Baca juga: Hati-hati "Jebakan Batman" Marquee Player


Saya kembali mengulangi, ini bukan tulisan kritik atau opini (kecuali bagian awal tulisan, kutipan Berlington, Ade, Alberts, dan beberapa paragraf terakhir), melainkan tinjauan ilmiah. Sehingga, suka ataupun tidak suka, ini lah data dan faktanya.

Salary cap sendiri bisa memperjelas definisi marquee player. Tapi untuk menerapkannya, ini bukan soal mau/tidak mau atau butuh/tidak butuh, melainkan siap/tidak siap.

Jadi, kita memang harus bertanya: Apa sepakbola Indonesia sudah siap untuk transparan dalam keuangannya?

Sumber jurnal, sesuai nomor referensi yang tertera di tulisan ini:

  1. Andon P, Free C (2012) Auditing and crisis management: The 2010 Melbourne Storm salary cap scandal, Accounting, Organizations and Society, 37 (2012) 131–154
  2. Annala C, Winfree J (2011) Salary distribution and team performance in Major League Baseball, Sport Management Review, 14 (2011) 167–175
  3. Booth R (2005) Comparing Competitive Balance in Australian Sports Leagues: Does a Salary Cap and Player Draft Measure Up?, Sport Management Review, 2005, 8, 119-143
  4. Borghesi R (2008) Allocation of scarce resources: Insight from the NFL salary cap, Journal of Economics and Business, 60 (2008) 536–550
  5. Kunkel T, Doyle J, Funk D (2014) Exploring sport brand development strategies to strengthen consumer involvement with the product – The case of the Australian A-League, Sport Management Review, 17 (2014) 470–483
  6. Lenten L, Geerling W, Kónya L (2012) A hedonic model of player wage determination from the Indian Premier League auction: Further evidence, Sport Management Review, 15 (2012) 60–71

Komentar