Agustusan dan Upaya Memerdekakan Lapangan

Panditcamp

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Agustusan dan Upaya Memerdekakan Lapangan

Ditulis oleh Evan Edgar Simon

17 Agustus-an menjadi hari penting bagi anak anak di sebuah kampung di daerah Suryalaya, Bandung, karena hanya di hari tersebut, mereka bisa bermain sepakbola dengan merdeka selama sehari penuh di lapangan dekat rumah.

Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi rakyat Indonesia, bahwa pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, kita merayakan terhapusnya penjajahan bangsa lain atas bangsa Indonesia. Tak terkecuali bagi warga desa di wilayah Suryalaya yang mengisi hari libur ini dengan berbagai lomba.

Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia dimulai pada pukul 08.00 WIB. Berbagai kegiatan, seperti panjat pinang, makan kerupuk, balap kelereng, ataupun tarik tambang diperlombakan secara bergiliran. Namun, ada lagi satu kompetisi yang tak kalah dinantikan oleh para warga, terutama anak-anak, yakni sepakbola.

Antusiasme anak-anak terhadap pertandingan sepakbola ini dapat dilihat dengan mudah. Meski hanya bermain lima lawan lima di lapangan yang tidak lebih besar dari setengah lapangan futsal, mereka bermain dengan mengenakan seragam klub sepakbola dan pemain idola masing-masing. Ada yang menggunakan seragam Cristiano Ronaldo, Thomas Muller, hingga Andy Carroll. Bahkan, ada dua “Lionel Messi” berlalu-lalang mengejar-ngejar bola.

Kemeriahan semakin menjadi-jadi ketika gol demi gol tercipta. Tidak hanya para pemain, para penonton pun ikut merayakannya. Bahkan, saat laga telah usai, tak sedikit warga yang masuk ke dalam lapangan untuk menari-nari, mengikuti irama dangdut yang terdengar kencang dari speaker. Bagaimana tidak? Pasalnya, pada hari biasa lapangan tersebut digunakan untuk lahan parkir oleh sebuah restoran makanan Sunda yang letaknya tepat di seberang lapangan.

“Kalau biasanya sih anak-anak bermain di lapangan yang jaraknya lebih jauh dari sini. Sekarang sudah jarang ada lapangan kosong,” ujar Kang Dipa, selaku Ketua Pelaksana Perayaan 17-an tersebut.

Bahkan, salah satu anak yang bernama Dede mengatakan bahwa mereka lebih sering bermain di gang-gang perumahan ketimbang di lapangan.

Kurangnya ruang terbuka hijau memang merupakan salah satu permasalahan di kota-kota besar di Indonesia. Tentu saja, Bandung juga mengalami masalah ini. Berdasarkan laporan dari Kepala Seksi Penataan dan Pembangunan Taman, Rikke Siti Fatimah, ruang terbuka hijau (RTH) di kota Bandung baru sekitar 12,12%. Padahal, berdasarkan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil pada 1992, dan dipertegas lagi pada KTT Johanesburg, Afrika Selatan tahun 2002, disepakati bersama bahwa sebuah kota idealnya memiliki luas RTH minimal 30%dari total luas kota.

“Kita memang masih berencana untuk menambah luasan taman-taman ini. Setidaknya target kita pada 2025 sudah ada RTH sebanyak 30 persen dari luasan Kota Bandung. Ini kita jalankan dengan program taman tematik dan “Satu RW, Satu Taman Bermain” yang akan dilaksanakan mulai tahun 2015,” ujar Rikke kepada Kompas.com.

Keberadaan RTH menjadi penting karena selain untuk manfaat estetis, klimatologis, danekologis, RTH juga memiliki manfaat edukatif, terutama bagi anak-anak. Di situlah anak-anak dapat bermain dengan segala kepolosan, sekaligus keseriusannya.

Dengan bermain, anak-anak dapat mempelajari banyak hal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Epidemiologi Barcelona, yang dikuti oleh WebMD, terungkap bahwa ingatan anak-anak yang belajar dan bermain di ruang terbuka jauh lebih baik sebanyak 5-6% dibandingkan dengan anak-anak yang lebih sering menghabiskan waktu di ruangan tertutup. Artinya, perkembangan potensi anak dan ruang hijau memiliki hubungan yang sangat erat.

Tak hanya itu, baik dan tidaknya kondisi ruang terbuka juga turut berpengaruh kepada perkembangan anak. “Studi ini membuktikan kalau ruang hijau sangat baik untuk pertumbuhan anak. Setidaknya penelitian lain menemukan, paparan polusi bisa menurunkan kemampuan otak dan ruang hijau dapat mengurangi stres,” terang Profesor Ilmu Kesehatan Masyarakat di University of Wisconsin, Kristen Malecki.

Tentu situasi yang ada bagi anak-anak di daerah Suryalaya saat ini, dan juga sangat tidak menutup kemungkinan di berbagai daerah lain di Indonesia, tidaklah ideal. Sudah sewajarnya kita prihatin dengan kondisi di mana anak-anak harus berebut tempat bermain dengan kendaraan-kendaraan di gang sempit. Sudah seharusnya kita khawatir dengan kondisi di mana perkembangan potensi anak-anak terhambat pembangungan gedung-gedung yang tinggi menjulang.

Bagaimanapun, anak-anak ini juga adalah masa depan bangsa, beserta persepakbolaannya. Dari merekalah akan muncul harapan-harapan baru, menggantikan harapan-harapan lama yang telah mati.

Saat tulisan ini dibuat, tanggal 17 Agustus akan segera berakhir dalam hitungan jam. Rutinitas sehari-hari telah menanti untuk kembali dilakoni. Meski rasa lelah akan menemani bersekolah esok hari, semoga saja harapan Dede dan teman-temannya untuk memiliki lapangan yang merdeka tidak akan mati.

Tulisan ini merupakan tugas materi pengamatan langsung Pandit Camp II, penulis bisa dihubungi lewat akun Twitter @eeepan.

Komentar